Tanah Leluhur Papua Barat Selamanya Tetatap Satu dari Sorong-Merauke

  • Bagikan

“Kalau kita tidak bersatu kita sebenarnya membunuh diri sendiri. Kita sedikit saja. Bersatulah. Berbeda pendapat boleh tapi kita jangan terpecah belah” (Barnabas Suebu, SH).

Oleh Gembala Dr. Ambirek/t G. Socratez Yoman

Bapak dan tokoh besar milik rakyat dan bangsa Papua Barat dari Sorong-Merauke, Barnabas Suebu, SH berseru-seru seperti Yohanes Pembaptis di padang gurun untuk rakyat dan bangsa Papua Barat untuk tetap bersatu.

Barnabas Suebu bukan milik orang Tabi, tetapi Kaka Bas adalah milik rakyat dan bangsa Papua Barat dari Sorong-Merauke. Bapak Bas milik kita dan tokoh kita, bukan milik dan tokoh Tabi. Bapak Barnabas Suebu sudah dan sedang dan terus menjadi seperti bintang yang bercahaya di Tanah Papua Barat dari Sorong-Merauke dan mengajak dan menyadarkan kita tetap “SATU” untuk selamanya di Tanah leluhur kita.

Kaka Besar Bas, telah menghidupi dan merawat dengan baik Firman Tuhan dalam hidupnya. Itu tercermin dari seruan-seruan persatuan, pengampunan dan kasih yang adalah inti pengajaran Tuhan Yesus Kristus.

Rasul Paulus menasihati kita semua dalam Surat Filipi 2:14-15 sebagai berikut:

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia”.

Kaka Bas telah menjadi seperti lilin yang bercahaya untuk kita semua. Saya mengutip dua seruan profetis yang hidup dan bergema selamanya di atas Tanah leluhur kita. Seruan dan suara profetis Bapak Bangsa dan Tokoh Besar adalah milik semua rakyat dan bangsa Papua Barat ini bergumul dan berharap menghendaki kita tidak terpecah belah dan saling berkelahi sesama anak bangsa.

Pertama, “Walaupun ada 5 provinsi, 10 provinsi, 20 provinsi di atas Tanah Papua, tetapi Gereja Kristen Injili tetap satu di atas Tanah Papua, karena Gereja Kristen Injili di Tanah Papua adalah satu-satunya benteng terakhir bagi Orang Asli Papua untuk mempertahankan hak hidup dan kelanjutan hidupnya di negeri yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Di negeri yang sedang menghadapi berbagai tantangan dan perubahan di tengah-tengah bangsa yang besar ini”. Barnabas Suebu, SH. Kep. Waropen, Juli 2022.

Kedua, “Pada kesempatan ini saya serukan kepada kita semua untuk bersatu. Kita bersatu, kita ini, orang Papua ini sedikit di tengah-tengah bangsa yang besar ini. Kalau kita tidak bersatu kita sebenarnya membunuh diri sendiri. Kita sedikit saja. Bersatulah. Berbeda pendapat boleh tapi kita jangan terpecah belah. Di Sidang Sinode di Waropen saya katakan: Provinsi bisa 2, 3, provinsi bisa20, provinsi bisa 100, Gereja Tuhan tetap satu di Tanah Papua. Gereja Kristen Injili di Tanah Papua tetap satu. Karena nilai-nilai itulah, Firman Tuhan itulah, nilai-nilai itulah, Injil itulah yang mempersatukan kita…”

Pergumulan, kerinduan hati, doa dan harapan beliau yang Tuhan Allah berikan kepada rakyat dan bangsa Papua Barat ini, patut diteladani atau dicontoh. Jejak ini perlu dirawat, dijaga dan dijadikan gaya dan pola hidup serta karakter bangsa Papua Barat.

Ada pernyataan sangat paradoks, yaitu pernyataan yang bertolak belakang yang memecah-belah keutuhan dan kesatuan Penduduk Orang Asli Papua Barat dari Sorong-Merauke oleh orang pintar dan cerdas Dr. Drs. Tommy Benhur Mano pada 17 September 2025. Tommy merespon Keputusan MK Sengketa PSU Papua pada 6 Agustus 2025 yang saya kutip sebagai berikut:

“Saya berdiri di atas rumah saya, saya bukan orang asing di atas Negeri ini. Memang kita akui dia orang Papua tetapi bukan asal dari Tabi dan Saireri dan itu MRP harus memahaminya kalau dia mau maju, maju di Papua Selatan bukan di sini. Kenapa pemerintah Republik Indonesia membagi rumah ini menjadi tujuh wilayah adat. Pulang ke rumah kamu masing-masing membangun rumah kamu masing-masing. Ini kekeliruan yang dilakukan oleh MRP tersebut harus belajar ke MRP Papua Barat, dia bukan anak asli Tabi dan Saireri, dia punya di Merauke sana, dia harus menjadi Tuan di negerinya sendiri jangan mengganggu hak kesulungan kita, ini bukan karena saya kalah bicara tidak, saya bicara kebenaran. Undang-undang Otsus mengatakan demikian. Saya mengaku dia orang Papua, tapi bukan orang Papua mengambil hak orang lain Tabi dan Saireri, dia di Animha, kalau dia berani pergi lawan di sana di Papua Selatan. Saya bicara kebenaran, saya orang pintar, saya orang cerdas memahami aturan-aturan itu dengan baik”.

Kita harus mempunyai komitmen bersama. Pertama, mari kita lawan dan tolak pandangan kerdil, picik dan yang memecah belah bangsa Papua Barat. Kedua, mari, kita menjaga Tanah Papua Barat dari Sorong-Merauke sebagai Mama kita, ibu Kita dan Rumah kita bersama. Kita lawan pikiran dan hati kotor yang membuat kita kotak-kotak atau permusuhan.

Kita berdiri bersama-sama memperjuangkan supaya orang asli Sorong boleh menjadi Gubernur di Papua Selatan, orang Biak boleh menjadi Bupati atau Gubernur di Papua Pegunungan atau Pegunungan Tengah, orang Merauke boleh menjadi Bupati atau Gubernur di Papua Barat. Semua sekat-sekat, tembok-tembok dan kotak-kotak yang memecah belah itu kita harus “hancurkan dan lenyapkan” dari Tanah ini.

Mari, kita refleksikan, renungkan dan belajar dari tiga nubuatan Dominee Izaac Samuel Kijne (1947). untuk seluruh Penduduk Orang Asli Papua Barat. Saya kutip sebagai berikut:

Pertama, “Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.” (Wasior, 25 Oktober 1925).

Kedua, “Barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan setia, jujur, dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain”.

Ketiga, “Saya pulang dengan keyakinan bahwa Tanah dan bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang mempunyai kepentingan politik atas segala kekayaan atas hasil dari Tanah itu. Tetapi mereka tidak akan membangun manusia Papua dengan kasih sayang. Sebab kebenaran dan keadilan akan diputarbalikan serta banyak hal yang baru akan membuat orang Papua menyesal. Tetapi itu bukan maksud Tuhan, karena itu keinginan manusia”.

Kompetisi politik sudah lazim dan pertandingan sudah selesai. Sekarang saatnya berjabat tangan, bersatu untuk membangun. Tidak ada yang aneh dan tidak ada hal-hal yang baru. Sekali lagi, dalam pertarungan politik sejatinya menang dan kalah itu biasa. Berhenti profokasi rakyat. Jaga persatuan dan perdamaian Tanah Papua Barat dari Sorong-Merauke sebagai Mama dan Rumah kita bersama.

Orang-orang yang memecah belah kita itu sebagai musuh bersama. Kita lawan mereka. Kita isolasi mereka dari ruang-ruang publik.

Akhir kata, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

*Penulis adalah Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP) dan Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
punta cana : lujo, relax y el mejor todo incluido del caribe. independent installation services disclaimer.