Oleh Gembala Dr. Ambirek/t G. Socratez Yoman
Unnegotiable (annegosiabel) artinya tidak dapat dinegosiasikan. Negotiable (negosiable) artinya dapat dinegosiasikan.
Pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB pada 23 September 2023 pada sesi debat ke 80 membuka pintu saluran komunikasi politik yang selama ini tertutup.
Presiden Prabowo membuat persoalan Aceh, Papua Barat dan Maluku dari unnegotiable menjadi negotiable dalam penyelesaian persoalan koflik, khususnya Papua Barat.
Saya kutip dua paragraf Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB, sebagai berikut:
Pertama, “Saat ini, situasi bencana di Gaza masih tersaji di depan mata kita. Saat ini, orang-orang tak berdosa menangis minta tolong, menangis minta diselamatkan. Siapa yang akan menyelamatkan mereka? Siapa yang akan menyelamatkan orang tak berdosa? Siapa yang akan menyelamatkan para lansia dan perempuan? Jutaan orang menghadapi bahaya saat ini, sementara kita duduk di sini, mereka menghadapi trauma, dan kerusakan yang tak tergantikan pada tubuh mereka, mereka sekarat karena kelaparan. Bisakah kita tetap diam? Akankah jeritan mereka terjawab? Akankah kita mengajari mereka bahwa umat manusia mampu menghadapi tantangan ini?”
Kedua, “Saya ingin menegaskan kembali dukungan penuh Indonesia terhadap Solusi Dua Negara di Palestina. Kita harus memiliki Palestina yang merdeka, tetapi kita juga harus mengakui dan menjamin keselamatan dan keamanan Israel. Hanya dengan demikianlah kita dapat memiliki kedamaian sejati: damai tanpa kebencian, damai tanpa kecurigaan.
Satu-satunya solusi adalah solusi dua negara ini. Dua keturunan Abraham harus hidup dalam rekonsiliasi, damai, dan harmoni. Arab, Yahudi, Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, semua agama. Kita harus hidup sebagai satu keluarga manusia. Indonesia berkomitmen untuk menjadi bagian dalam mewujudkan visi ini.
Pertanyaan saya sebagai berikut:
- Bagaimana nasib rakyat di Papua Barat, yaitu di Nduga, Intan Jaya, Puncak, Pegunungan Bintang, Yahukimo, Maybrat, Lanny Jaya dan hampir seluruh Papua Barat dari Sorong-Merauke?
- Apakah Penduduk Orang Asli Papua (POAP) harus ganti rambut: rambut keriting diubah menjadi rambut lurus, dan menggati agama dari Kristen menjadi Islam, supaya Prabowo memperhatikan penderitaan rakyat dan bangsa Papua Barat seperti bersuara keras di PBB untuk menolong rakyat di Gaza dan kemerdekaan Palestina?
Dengan tepat Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, akademisi, pengamat Pertahanan Keamanan Maritim, Dirgantara dan Intelijen berulang-ulang peringat kepada pemerintah Indonesia.
“Pemerintah Indonesia hati-hati berbicara persoalan Palestina. Karena Indonesia mempunyai masalah dalam negeri, yaitu Papua. Karena Papua sudah memenuhi syarat sebagai sebuah negara, yaitu ada wilayah, ada penduduk asli atau rakyat yang menetap dan ada diplomat di luar negeri.”
Sebagai pengingat, saya kutip pernyataan Dr. Adnan Buyung Nasution, SH. Ia menyebut Tinggal soal waktu saja, kita senang atau tidak, mau atau tidak, akan kehilangan Papua karena kita gagal merebut hati orang Papua dan itu kesalahan bangsa sendiri dari awal (Detiknews, 16 Desember 2011).
*Penulis adalah Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP); Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC); Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC); dan Anggota Baptist World Alliance (BWA).


