Oleh: Tiffanny Christy Kurniawan*
Pada tahun 2024, Indonesia telah memasuki babak baru di mana Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligent (AI) bukan lagi sekadar fiksi, melainkan alat sehari-hari, mulai dari menyusun email hingga merancang gambar. Namun, di tengah euforia kemajuan digital ini, ada harga tersembunyi yang kita bayar yaitu krisis sumber daya alam. Tanpa regulasi yang ketat, permintaan listrik dan air yang masif dari infrastruktur AI berpotensi menjerumuskan Indonesia dan dunia jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnyaSDG 6 (Air Bersih) dan SDG 7 (Energi Bersih).
Krisis Sumber Daya di Balik Layar Kecerdasan Buatan
Kita harus jujur, AI adalah teknologi yang sangat “lapar” energi. Seringkali disebut sebagai cloud computing, padahal pusatdata (datacenter) AI adalah fasilitas fisik yang mengonsumsi daya dalam skala raksasa.
International Energy Agency (IEA) memproyeksikan bahwa data center global akan mengonsumsi sekitar 1.000 Terawatt-jam (TWh) listrik pada tahun 2030, setara dengantotal konsumsi listrik tahunan seluruh negara Jepang. Dari angka ini, AI adalah pendorong terbesar, di mana porsi energinya bisa mencapai 35 hingga 50 persen dari total pusat data pada akhir dekade ini.
Untuk konteks yang lebih dekat, proses melatih model bahasa besar seperti GPT-3 saja membutuhkan sekitar 1.287 MWh listrik. Angka ini setara dengan daya listrik yang dikonsumsi oleh 130 rumah tangga Amerika Serikat selama setahun penuh. Sementara itu, interaksi harian kita dengan chatbot AI, seperti satu query ke ChatGPT, dapat mengonsumsi daya ratusan kali lipat lebih besar daripada pencarian web biasa.
Ketika sebagian besar listrik di Indonesia masih bergantung pada batu bara (sumber energi non-terbarukan), pertumbuhan AI yang tidak terkendali ini berarti peningkatan signifikan pada emisi karbon, yang secara langsung bertentangan dengan target transisi energi bersih kita.
Jejak Air yang Tersembunyi
Masalah AI tidak berhenti pada listrik. AI juga merupakan “peminum” air yang sangat haus.
Pusat data AI menghasilkan panas luar biasa, dan mayoritas fasilitas ini mengandalkan sistem pendingin yang boros air melalui proses penguapan. Air tawar, bahkan air siap minum, terus-menerus dialirkan untuk mendinginkan server.
Dampaknya sangat nyata. Salah satu perusahaan teknologi besar dunia melaporkan bahwa penggunaan air global mereka untuk pusat data meningkat tajam hingga 34 % dalam setahun. Secara mikroskopis, setiap 100 kata yang dihasilkan oleh AI generatif diperkirakan memerlukan sekitar satu botol air mineral (519 mililiter) untuk proses pendinginan.
Bayangkan konsekuensi masifnya jika kebutuhan air ini terkonsentrasi di wilayah-wilayah yang sudah mengalami kelangkaan air, seperti beberapa area industri di Jawa atau Bali. Satu pusat data berskala besar (100MW) dapat mengonsumsi air setara dengan kebutuhan 80.000 penduduk per tahun. Ini adalah krisis air tersembunyi yang mempertaruhkan ketahanan air komunitas lokal demi inovasi global.
Mewujudkan ‘Green AI’ di Indonesia
AI memiliki potensi besar untuk membantu SDGs, misalnya dalam mengoptimalkan jaringan listrik atau mendeteksi kebocoran air. Namun, potensi ini akan sia-sia jika dampak lingkungannya sendiri diabaikan.
Langkah mendesak harus diambil untuk mewujudkan konsep “Green AI”
- Transparansi dan Audit: Pemerintah dan regulator harus mewajibkan perusahaan teknologi untuk mengungkapkan secara terbuka konsumsi listrik dan air (menggunakan metrik seperti WUE-Water Usage Effectiveness) dari setiap model AI yang mereka operasikan di Indonesia.
- Insentif dan Regulasi: Berikan insentif pajak bagi perusahaan yang menggunakan sistem pendingin closed-loop (tidak menguapkan air) dan energi terbarukan 100%, serta terapkan denda berat bagi perusahaan yang membebani jaringan air dan listrik lokal secara tidak proporsional.
- Pengembangan Model Lokal yang Efisien: Akademisi dan pengembang lokal harus didorong untuk menciptakan model-model AI yang “ringan” (small language models), yang mampu memberikan hasil optimal dengan daya komputasi minimal.
Kecerdasan Buatan harus menjadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah lingkungan baru. Jika kita terus membiarkan AI beroperasi diatas ‘awan’ tanpa menyentuh bumi, kita akan mengorbankan air bersih dan energi berkelanjutan dimasa depan demi kecepatan digital di masa kini.
*) Mahasiswa Akuntansi, Universitas Brawijaya
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Atau melalui aplikasi HarianjatimCom.


