Reporter: harianjatim
Pamekasan-harianjatim.com. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur mencatat sebanyak 12,77 persen dari total jumlah penduduk masuk kategori miskin.
Jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 0,64 persen dari periode Maret 2024 yang mencapai 13,41 persen. Secara jumlah, penduduk miskin berkurang dari 123,46 ribu jiwa menjadi 118,52 ribu jiwa.
“Penurunan ini menandakan adanya perbaikan kesejahteraan masyarakat, terutama dari sisi kemampuan memenuhi kebutuhan dasar,” kata Kepala BPS Pamekasan, Parsad Barkah Pamungkas, sebagaimana dilansir harianjatim.com dari laman karimatafm.
Parsad mengatakan, meski jumlah penduduk miskin nengalami penurunan, Pemerintah Kabupaten Pamekasan perlu melakukan langlah konkrit kedepan.
Sebab kata dia secara garis besar warga yang masuk dalam garis kemiskinan mengalami peningkatan. Hal itu dilihat dari dari sisi pengeluaran maupun kemampuan daya beli masyarakat.
Data BPA menunjukkan per Maret 2025, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp 482.278 per kapita per bulan, naik 3,16 persen dari tahun sebelumnya.
“Kenaikan garis kemiskinan menunjukkan bahwa biaya untuk memenuhi kebutuhan minimum masyarakat juga meningkat. Ini perlu menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan sosial ekonomi,” tambahnya.
Selain itu, dua indikator penting lainnya Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami kenaikan. P1 meningkat dari 1,05 menjadi 1,45, sedangkan P2 naik dari 0,14 menjadi 0,24.
Menurut BPS, peningkatan ini menunjukkan bahwa rata-rata penduduk miskin semakin jauh dari garis kemiskinan, dan kesenjangan antar-penduduk miskin semakin melebar.
“Artinya, diperlukan upaya yang lebih besar dan lebih tepat sasaran untuk membantu masyarakat miskin keluar dari garis kemiskinan. Pendekatannya harus lebih menyentuh karakteristik kerentanan yang beragam,” jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menerima pembaruan data Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTSEN) per 27 November 2025. Total jumlah pendataan DTSEN Pamekasan mencapai 921.956 jiwa, dengan 535.851 jiwa berada di kelompok desil 1–5 yang mencerminkan tingkat kesejahteraan rendah. Sementara itu, kelompok desil 6–10, desil 0, dan kategori minus tercatat sebanyak 386.105 jiwa.
Pembaharuan data DTSEN ini, menurut BPS, menjadi salah satu acuan penting untuk integrasi program perlindungan sosial di Pamekasan. Dengan kondisi indeks kemiskinan yang semakin dalam dan kompleks, sinkronisasi data menjadi kunci agar bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.
“Kami berharap data ini dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk memperkuat intervensi, terutama bagi kelompok masyarakat yang tingkat kerentanannya semakin tinggi,” tegas dia.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Atau melalui aplikasi HarianjatimCom dan saluran Harian Jatim di WhatsApp
(karimatafm/red)


