Oleh: Nabilla Laila F*
Di era pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, mahasiswa menghadapi berbagai tuntutan akademik yang tidak bisa dianggap ringan. Mulai dari padatnya jadwal kuliah, tugas yang menumpuk, kegiatan organisasi, tuntutan prestasi, hingga tekanan dari keluarga maupun diri sendiri untuk mencapai standar tertentu. Tekanan yang terus menerus tanpa pengelolaan yang baik dapat menimbulkan stres, kelelahan emosional, hingga gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, kemampuan mengelola stres kini menjadi keterampilan esensial yang harus dimiliki mahasiswa.
Menurut Nabilla (2025 : 23), 1 dari 7 orang berusia 18–25 tahun memiliki risiko tinggi mengalami gangguan kecemasan terkait tekanan akademik. Hal ini menunjukkan perlunya strategi manajemen stres yang sistematis dan mudah diterapkan oleh mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab stres akademik dan merumuskan strategi manajemen stres efektif berdasarkan temuan penelitian terdahulu dan observasi lapangan.
Tuntutan akademik yang tinggi bukan hanya memengaruhi perfoma belajar, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup mahasiswa. Tak sedikit mahasiswa yang merasa kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, mengalami tidur tidak teratur, bahkan mengalami gejala burnut. Fenomena ini telah menjadi isu penting di dunia pendidikan, sehingga banyak lembaga kampus maupun ahli psikologi mulai memperkenalkan berbagi mode dan strategi manajemen stres yang dapat di terapkan secara mandiri oleh mahasiswa.
Salah satu penyebab utama stres mahasiswa adalah ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan mengelola waktu. Banyak mahasiswa yang masih kesulitan menyusun skala prioritas, sehingga tugas menjadi menumpuk dan dikerjakan di waktu terakhir. Kebiasaan prokrastinasi memperburuk kondisi ini. Tidak jarang mahasiswa merasa kewalahan dan akhirnya mengalami tekanan berlebih. Untuk mengatasi hal tersebut, penerapan manajemen waktu merupakan langkah awal yang sangat penting. Mahasiswa dianjurkan membuat jadwal harian, mencatat deadline, dan membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil agar terasa lebih ringan. Dengan pengaturan waktu yang baik, mahasiswa dapat mengurangi rasa terdesak yang menjadi pemicu stres utama.
Selain manajemen waktu, teknik relaksasi juga menjadi strategi yang terbukti efektif meredakan stres. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan pernapasan dalam, meditasi, dan mindfulness mampu menurunkan kadar kecemasan dan meningkatkan kemampuan fokus. Mahasiswa dapat meluangkan waktu 5–10 menit setiap hari untuk melakukan pernapasan terstruktur atau meditasi singkat. Aktivitas sederhana ini dapat membantu mengontrol emosi dan menenangkan pikiran setelah menghadapi tugas-tugas berat. Bahkan, beberapa kampus kini menyediakan ruang meditasi atau sesi konseling gratis untuk mendorong mahasiswa menerapkan kebiasaan sehat ini.
Aktivitas fisik juga menjadi komponen penting dalam mengelola stres. Olahraga ringan seperti jogging, yoga, atau bersepeda dapat meningkatkan produksi endorfin, hormon yang membantu tubuh merasa lebih tenang dan bahagia. Di tengah kesibukan kuliah, mahasiswa dapat memanfaatkan waktu singkat, misalnya 15 menit sebelum belajar, untuk melakukan peregangan. Aktivitas fisik bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga meningkatkan energi dan menjaga kestabilan mental.
Strategi lain yang tak kalah penting adalah kemampuan meminta bantuan. Banyak mahasiswa merasa harus menyelesaikan semua masalahnya sendiri karena takut dianggap tidak kompeten. Padahal, berbicara kepada orang yang dipercaya—baik itu teman, keluarga, atau konselor kampus—dapat menjadi cara efektif meredakan beban pikiran. Lingkungan sosial yang suportif memberikan ruang untuk berbagi cerita, bertukar pandangan, dan mendapatkan dorongan moral. Kampus juga memiliki layanan bimbingan konseling yang bisa digunakan untuk membantu mahasiswa mengatasi tekanan akademik maupun masalah pribadi.
Di sisi lain, pengelolaan stres juga membutuhkan perubahan pola pikir. Mahasiswa perlu menanamkan perspektif bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir dari segalanya. Banyak stres muncul karena mahasiswa menuntut dirinya untuk selalu sempurna. Dengan menerima bahwa tidak semua hal dapat dikuasai secara instan, mahasiswa dapat mengurangi tekanan internal yang selama ini membebani diri mereka sendiri. Sikap fleksibel, menerima kekurangan, dan memberi ruang untuk melakukan kesalahan adalah langkah penting menuju kesehatan mental yang lebih baik.
Tidak kalah penting, mahasiswa juga perlu memastikan bahwa mereka menjalani gaya hidup sehat. Pola tidur yang cukup, asupan makanan bergizi, dan hidrasi yang baik sangat berpengaruh terhadap kondisi emosional. Sayangnya, banyak mahasiswa yang begadang mengerjakan tugas atau melewatkan makan demi mengejar deadline. Kebiasaan ini justru memperburuk tingkat stres dan mengurangi kemampuan otak untuk bekerja optimal. Dengan memperhatikan kebutuhan dasar tubuh, mahasiswa dapat meningkatkan ketahanan diri terhadap stres.
Strategi manajemen stres tidak dapat berdiri sendiri; semuanya harus diterapkan secara konsisten dan menyeluruh. Mahasiswa harus mengenali tanda-tanda stres sejak dini, seperti mudah marah, sulit tidur, hilang fokus, atau merasa lelah berkepanjangan. Kesadaran ini membantu mereka mengambil langkah sebelum stres berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Lingkungan kampus pun diharapkan dapat berperan aktif dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa dengan menyediakan fasilitas, kebijakan akademik yang seimbang, serta program-program pengembangan diri.
Pada akhirnya, manajemen stres bukan hanya tuntutan akademik, tetapi bagian dari keterampilan hidup (life skills) yang akan sangat bermanfaat bagi masa depan mahasiswa. Dunia kerja nantinya juga penuh tekanan, sehingga kemampuan mengelola stres sejak dini akan menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan yang lebih besar. Mahasiswa yang mampu menjaga keseimbangan antara akademik dan kesehatan mental akan lebih produktif, kreatif, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Dengan berbagai strategi yang tersedia mulai dari manajemen waktu, teknik relaksasi, olahraga, dukungan sosial, hingga perubahan pola pikir mahasiswa memiliki banyak pilihan untuk mengelola stres secara efektif. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen untuk menjaga diri dan kesadaran bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan pencapaian akademik. Dengan begitu, mahasiswa dapat menjalani proses pendidikan dengan lebih tenang, fokus, dan bermakna tanpa harus tersesat dalam tekanan yang menguras energi.
Kesimpulannya, bahwa stres akademik pada mahasiswa merupakan fenomena umum dan berkaitan dengan beban tugas, kompetisi akademik, dan pengaruh digital. Strategi manajemen stres yang efektif mencakup manajemen waktu, praktik mindfulness, dukungan sosial, pembatasan digital, serta penerapan pola hidup sehat. Dengan penerapan strategi tersebut, mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan regulasi diri, produktivitas akademik, dan kesejahteraan mental. Perguruan tinggi juga berperan penting dalam menciptakan ekosistem akademik yang suportif sehingga mahasiswa mampu menjalani proses pembelajaran secara optimal.
*) Nabilla Laila F adalah mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang
REFERENSI
- Khilyatu Zahwa dan Hanif (2024)
“penelitian ini menunjukan bahwa manajemen waktu terstuktur (jadwal prioritas, pengaturan waktu istiraha, mengurangi prokrastinasi) dapat menurunkan stres akademik dan meningkatkan kesehatan https://jurnal.unai.edu/index.php/jsk/article/view/4034?utm_source=chatgpt.commental mahasiswa.”
2. Khairunnisa dan Dewi (2025)
“Penelitian ini menemukan bahwa praktik mindfulness membantu mahasiswa mengelola stres melalui peningkatan kesadaran diri serta penerimaan terhadap tekanan akademik.” https://jurnalsentral.com/index.php/jdss/article/view/116?utm_source=chatgpt.com
3. Fariz, Fitriana dan Puspita (2025)
“Dalam studi kasus mahasiswa semester akhir, ditemukan mereka memakai problem-focused coping (manajemen waktu, pemecahan tugas), emotion-focused coping (jurnal, mindfulness), dan religious coping (ibadah) untuk mengatasi stres.”https://jurnal.unai.edu/index.php/jsk/article/view/4034?utm_source=chatgpt.com


