Cahaya di Balik Layar: Menemukan Akhlak di Tengah Bisingnya Dunia Digital

  • Bagikan
Zahra Purnama Cahya Haedy

Oleh: Zahra Purnama Cahya Haedy*

Di era digital yang tumbuh sangat cepat, kita sebagai Gen Z hidup dalam lingkungan yang hampir tidak pernah lepas dari layar. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, hampir semua aktivitas kita bersentuhan dengan media sosial, hiburan online, game, dan berbagai bentuk informasi yang terus mengalir tanpa henti. Dunia digital ini memang memberi kemudahan luar biasa—kita bisa belajar apa pun, terhubung dengan banyak orang, dan mengekspresikan diri dengan lebih bebas. Namun, di balik semua itu, ada tantangan besar yang sering tidak kita sadari. Bisingnya dunia maya menghadirkan hoaks, komentar pedas, flexing yang bikin insecure, dan cyberbullying yang makin marak. Semua itu, kalau tidak disaring secara bijak, bisa memengaruhi akhlak dan perilaku kita dalam kehidupan nyata. Karena itulah, menurut kita, nilai-nilai Islam perlu hadir sebagai cahaya penuntun agar kita tetap kuat menghadapi dinamika digital yang penuh warna ini.

Sebagai pengguna aktif internet, kita harus memahami bahwa apa yang terjadi di dunia maya tetap berkaitan erat dengan kehidupan nyata. Komentar yang kita tulis, pendapat yang kita bagikan, dan cara kita merespons sesuatu tetap menunjukkan karakter diri kita. Nilai akhlak seperti tabayyun, menjaga ucapan, menghindari fitnah, serta bersikap santun harus diterapkan bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Tidak jarang kita melihat orang merasa bebas berkata kasar hanya karena mereka tidak bertemu langsung dengan lawan bicaranya. Padahal, setiap kata yang terlontar dari jari kita tetap memiliki dampak moral. Di sinilah Pendidikan Agama Islam (PAI) punya peran besar. PAI bukan hanya soal teori dan hafalan, tetapi tentang bagaimana kita membentuk karakter agar mampu membedakan mana konten yang bermanfaat dan mana yang memberi dampak buruk, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Membangun akhlak digital tidak cukup hanya dengan paham teori, tetapi perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah kecil seperti membiasakan tabayyun sebelum menyebarkan informasi bisa mencegah munculnya fitnah atau kepanikan di masyarakat. Begitu juga dengan menghindari debat kusir di kolom komentar. Tidak semua hal membutuhkan reaksi; kadang memilih diam jauh lebih bijak daripada ikutan marah atau memperkeruh suasana. Kita juga bisa mulai membangun kontribusi positif melalui konten yang bermanfaat. Konten islami, motivasi, edukasi, atau sekadar pengingat baik bisa menjadi bentuk dakwah kecil yang berdampak besar. Di era digital, kebaikan bisa menyebar lebih luas dari yang kita bayangkan.

Kesadaran untuk mengatur waktu juga sangat penting dalam membangun akhlak digital. Dunia digital memang seru, tetapi tanpa batasan, kita bisa jadi kecanduan dan akhirnya menghabiskan waktu untuk hal yang kurang produktif. Ketika terlalu lama berada di dunia maya, kita bisa kehilangan fokus, menjadi mudah terpancing emosi, bahkan tidak sadar ikut terbawa tren negatif. Karena itu, kita perlu membuat batasan untuk diri sendiri: misalnya, menentukan jam khusus untuk belajar, mengurangi waktu scrolling tanpa tujuan, atau membuat jadwal harian agar penggunaan gadget tetap seimbang. Orang tua, guru PAI, dan lingkungan sekolah juga berperan penting. Mereka perlu menjadi contoh bagaimana bersikap bijak dalam menggunakan teknologi, karena teladan sering kali lebih manjur daripada sekadar nasihat.

Dalam proses penguatan karakter digital, nilai ADIKSIMBA—Aman, Damai, Inspiratif, Kreatif, Santun, Islami, Mandiri, dan Beradab—dapat menjadi pedoman kuat. Nilai ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek aktivitas online. Bersikap Aman berarti menjaga privasi, tidak menyebarkan data pribadi, dan berhati-hati terhadap konten berbahaya. Damai berarti tidak ikut menyebarkan kebencian atau provokasi. Inspiratif berarti berusaha membagikan hal-hal yang memberi manfaat. Kreatif berarti menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya positif. Santun berarti tetap sopan meski berada di tengah perbedaan pendapat. Islami berarti menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam bersikap. Mandiri berarti tidak mudah terpengaruh oleh tren negatif. Dan Beradab berarti menjaga etika digital agar lingkungan online tetap sehat. Jika nilai-nilai ini bisa kita terapkan, dunia digital tidak lagi menjadi ancaman, melainkan ruang untuk mengembangkan diri.

Menurut kita, era digital sebenarnya membuka banyak peluang untuk menyebarkan kebaikan. Jika dulu dakwah hanya bisa dilakukan melalui ceramah atau tulisan panjang, kini kita bisa berdakwah lewat video singkat, podcast, quotes, atau konten kreatif lainnya. Banyak influencer muslim yang berhasil menyebarkan pesan positif dan menginspirasi jutaan orang hanya dengan memanfaatkan platform digital. Ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi media dakwah yang kuat ketika digunakan dengan akhlak dan niat yang baik. Dunia digital memang luas dan kadang bising, tetapi dengan karakter yang kuat, kita bisa menjadi bagian dari kelompok yang memberikan pengaruh baik, bukan hanya ikut terbawa arus.

Selain itu, kita juga perlu menyadari bahwa dunia digital bukan hanya tempat berinteraksi, tetapi juga ruang pembentukan identitas. Banyak remaja yang akhirnya merasa harus mengikuti standar yang ditentukan media sosial—mulai dari gaya hidup, penampilan, sampai cara berpikir—padahal tidak semuanya sesuai dengan nilai-nilai yang kita miliki. Tekanan sosial digital bisa membuat seseorang merasa tidak cukup baik hanya karena melihat postingan orang lain yang terlihat sempurna. Di sinilah pentingnya memiliki prinsip kuat dan rasa percaya diri yang sehat. Dengan berpegang pada ajaran Islam dan memahami bahwa setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, kita bisa lebih tenang menghadapi tekanan dunia maya. Kita tidak perlu menjadi seperti orang lain hanya demi validasi. Justru, menjadi diri sendiri dengan akhlak yang baik adalah bentuk keberanian yang sebenarnya.

Pada akhirnya, menjaga akhlak di era digital adalah tanggung jawab kita sebagai pengguna teknologi sekaligus sebagai muslim. Tantangan memang banyak, tetapi kesempatan berbuat baik juga tidak kalah besar. Jika kita mampu memegang nilai-nilai Islam, menerapkannya, serta membiasakan perilaku positif saat berinteraksi di dunia maya, ruang digital bisa menjadi tempat yang penuh kebaikan dan inspirasi. Kita tidak perlu membalas kebisingan dengan kebisingan, cukup dengan akhlak yang baik, kita bisa menjadi cahaya di balik layar bagi diri sendiri dan orang lain.


*) Zahra Purnama Cahya Haedy mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.comatau download App HarianjatimCom.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Booking todo incluido ofertas al caribe.