Oleh: Dwiyani Intan Ayu Ningsi Lewar*
Agama, sebagai sistem kepercayaan dan praktik yang terorganisasi, memiliki peran yang kompleks dan signifikan dalam isu hak asasi manusia (HAM), tidak hanya memberikan kerangka moral dan etika bagi individu dan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi bagaimana HAM dipahami, diinterpretasikan, dan diimplementasikan dalam berbagai konteks budaya dan sosial. Banyak agama mengandung prinsip-prinsip yang sejalan dengan nilai-nilai universal HAM, seperti konsep kasih sayang, keadilan, kesetaraan, dan martabat manusia yang dapat ditemukan dalam berbagai ajaran agama. Contoh dalam Islam yang menekankan prinsip keadilan dan persamaan (musawah), dalam agama Kristen dengan ajaran tentang kasih (agape) dan pengampunan, dan dalam agama Buddha dengan konsep metta (cinta kasih universal) dan karuna (belas kasih).
Dalam sejarah, agama sering kali berperan sebagai pelindung HAM, terutama ketika negara atau kekuatan politik lainnya melakukan pelanggaran. Para pemimpin agama, organisasi keagamaan, dan komunitas religius kerap berjuang membela hak-hak kaum minoritas, korban penindasan, dan kelompok rentan lainnya. Contohnya dapat dilihat pada gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat yang dipimpin Martin Luther King Jr.
Namun, agama juga dapat menjadi tantangan bagi HAM, dengan interpretasi agama yang sempit dan fundamentalis yang dapat digunakan untuk membenarkan diskriminasi, kekerasan, dan pelanggaran hak-hak tertentu. Contohnya seperti penolakan hak-hak perempuan, kaum LGBT, atau kelompok minoritas lainnya oleh beberapa kelompok agama. Selain itu, adanya konflik agama dan sektarianisme yang dapat memicu kekerasan dan pelanggaran HAM yang serius.
Kebebasan beragama adalah salah satu HAM yang paling mendasar, di mana setiap individu memiliki hak untuk memilih, mempraktikkan, dan mengubah agamanya tanpa paksaan atau diskriminasi. Namun, kebebasan ini sering kali menjadi sumber konflik dan ketegangan, terutama ketika negara atau kelompok agama tertentu mencoba memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain. Karena itu, penting untuk membedakan antara kebebasan beragama sebagai hak individu dan penggunaan agama sebagai alat untuk membenarkan pelanggaran HAM.
Dialog antariman adalah alat penting untuk membangun pemahaman, toleransi, dan kerja sama antara berbagai kelompok agama. Melalui dialog, individu dapat belajar tentang keyakinan dan praktik agama lain, mengatasi kesalahpahaman, dan menemukan titik temu untuk bekerja sama dalam isu-isu kemanusiaan. Selain itu, dialog antariman juga membantu mencegah konflik agama dan mempromosikan perdamaian serta rekonsiliasi.
Selain itu, agama memiliki kapasitas yang luar biasa sebagai kekuatan sosial. Banyak komunitas keagamaan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghormati hak-hak setiap orang melalui pendidikan, penguatan karakter, dan tindakan kemanusiaan. Peran ini menjadi semakin penting saat menghadapi masalah global seperti diskriminasi, ketidakadilan, kemiskinan, dan konflik, yang membutuhkan kolaborasi lintas agama untuk menemukan solusi. Komunitas keagamaan dapat memanfaatkan ajaran universal tentang kebaikan, kasih sayang, dan penghormatan martabat manusia untuk menciptakan ruang diskusi yang sehat, meningkatkan toleransi, dan membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif. Agama dapat menjadi jembatan untuk memperkuat komitmen terhadap HAM dalam kehidupan sehari-hari melalui peran yang konstruktif.
Banyak dari berbagai agama yang menekankan pada pentingnya keadilan sosial dan membantu kaum miskin dan terpinggirkan. Organisasi keagamaan sering kali terlibat dalam setiap kegiatan amal, pelayanan sosial, dan advokasi. Tujuannya untuk memperjuangkan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Selain itu, agama juga memberikan inspirasi dan motivasi bagi setiap individu untuk terlibat dalam gerakan-gerakan sosial yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.
Hubungan antara agama dan hukum sangat kompleks dan bervariasi di berbagai negara, dengan beberapa negara memiliki sistem hukum yang didasarkan pada prinsip-prinsip agama tertentu. Sementara itu, negara lain memiliki sistem hukum sekuler yang memisahkan agama dari negara. Namun dalam kedua kasus, penting untuk memastikan bahwa hukum menghormati HAM dan melindungi kebebasan beragama, serta mengatasi diskriminasi dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Di era modern, agama menghadapi berbagai tantangan baru, seperti globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial, di mana globalisasi telah membawa agama-agama yang berbeda ke dalam kontak yang lebih dekat. Teknologi telah memberikan agama-agama cara baru untuk menyebarkan pesan mereka, dan perubahan sosial telah mengubah norma-norma tradisional dan nilai-nilai agama.
Selain itu, peran agama semakin terlihat dalam masalah HAM di berbagai forum internasional, di mana organisasi lintas agama berusaha mendorong kerja sama internasional untuk mengatasi masalah kemanusiaan seperti perdagangan manusia, kekerasan berbasis gender, pengungsi, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Banyak lembaga keagamaan sekarang berpartisipasi dalam program kemanusiaan lokal dan internasional seperti bantuan bencana, rehabilitasi korban perang, dan pendampingan psikososial bagi komunitas yang terdampak konflik. Upaya ini menunjukkan bahwa agama adalah pedoman spiritual dan kekuatan sosial yang dapat mendorong solidaritas dan empati di seluruh dunia. Agama dapat membantu penguatan HAM karena melibatkan aktor moral yang sangat penting dalam masyarakat.
Agama akan terus memainkan peran penting dalam isu HAM di masa depan, sehingga para pemimpin agama, organisasi keagamaan, dan komunitas religius perlu mempromosikan interpretasi agama yang inklusif, toleran, dan menghormati HAM. Mereka juga harus bekerja sama dengan pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat sipil untuk memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan perlindungan HAM. Upaya ini sangat penting agar nilai-nilai kemanusiaan dapat ditegakkan secara menyeluruh dan memberi manfaat bagi semua orang.
Dengan memahami peran kompleks agama dalam isu HAM, kita dapat bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih adil, damai, dan menghormati martabat manusia. Pemimpin agama dan komunitas keagamaan harus mendorong interpretasi ajaran yang inklusif dan menghargai hak setiap orang untuk mencapai hal tersebut. Agar nilai-nilai kemanusiaan dapat ditegakkan secara konsisten, kerja sama antara tokoh agama, pemerintah, dan organisasi masyarakat sangat penting. Agama dapat berfungsi sebagai alat yang bermanfaat untuk mempertahankan hak asasi manusia dan menciptakan kehidupan sosial yang adil.
*) Dwiyani Intan Ayu Ningsi Lewar adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


