“Ya. Orang Madura butuh kemenangan. Dalam kontestasi ekonomi, politik, dan sosial-budaya orang Madura, diakui atau tidak, masih terpinggirkan. Dan Valen mengisi ruang hampa itu, meski sifatnya sesaat susuai karakter culture pop. Di sinilah kegilaan dukungan itu bisa dibaca”
Valen. Nama ini belakangan menyihir orang Madura. Ketika istri saya ke pasar, pedagang pasar yang tua pun kenal Valen. Istri saya yang tak tahu Valen pun nanya, siapa Valen? Pedagang pasar malah heran, “masa sampeyan gak tahu Valen, Bu?”.
Saya tahu Valen ketika buka medsos. Itu pun saya biarkan lewat. Cuma ketika saya melihat foto kepulangan Valen ke Pamekasan yang disambut luar biasa, saya pun nanya, fenomena apakah ini? Saya pun menjawab. Ini khas industri hiburan yang melahirkan bintang baru, meriah. Valen bukan lagi Valen yang lama. Valen menjelma sebagai seleb baru yang membawa keterkenalan (popularity) di satu sisi dan kegilaan (graziness) pemujanya di sisi lain. Pengikatnya adalah etnisitas (wakil Madura). Tapi jangan lupa ada kekuatan industri hiburan dengan kekuatan kapitalnya lengkap dengan sihir media di belakangnya.
Belum lagi Crazy Rich seperti sultan Madura yang makin menyelimuti gemerlapnya Valen. Di tambah lagi pemerintah daerah yang juga mensupportnya. Bobot daya tarik Valen makin kuat. Dalam dirinya bertemu kepentingan industri hiburan, modal, dan politik. Di perkuat lagi sentimen etnisitas. Entah faktor ini genuin atau ada yang meraciknya.
Saya di sini akan membahas soal etnisitas dan kepentingan politik dalam kasus Valen. Pertanyaannya, kenapa orang Madura begitu dalam tersihir Valen? Dan kenapa para pejabat publik perlu mendukung Varel?
Di tengah stereotip buruk bagi orang Madura, Valen menyeruak dari dunia hiburan. Tepatnya musik dangdut, sesuatu yang paling akrab di telinga orang Madura. Bagi orang Madura Valen adalah dangdut itu sendiri. Ia meniup roh musik yang memang sudah menubuh dalam diri orang Madura. Lain hal jika Valen ikut Indonesian idol. Tentu suaranya tak akan seberisik Valen di Akademi Dangdut.
Tapi yang paling masuk akal, Valen memanggungkan kemenangan orang Madura yang yang dalam dunia riil kalah (atau dikalahkan) dan dimarginalkan. Stereotip buruk atas suku ini adalah salah satunya. Dalam pentas nasional, suku ini bangga sama pak Mahfud MD yang sempat nyalon menjadi wakil presiden.
Tapi kasus carok massal di Bangkalan mengintrup beliau. Ada analisis jurnalis, viralnya kasus carok massal di Bangkalan by design untuk menjatuhkan citra pak Mahfud di dunia politik. “Ngapain pilih Pak Mahfud, tuh lihat saudaranya saling bunuh di Madura“. Kira-kira begitu framing yang ingin dibentuk dari viralnya kasus carok itu.
Ya. Orang Madura butuh kemenangan. Dalam kontestasi ekonomi, politik, dan sosial-budaya orang Madura, diakui atau tidak, masih terpinggirkan. Dan Valen mengisi ruang hampa itu, meski sifatnya sesaat susuai karakter culture pop. Di sinilah kegilaan dukungan itu bisa dibaca.
Rasa kalah dan butuh kemenangan sebagai kontestasi antar etnis berpilin dengan industri hiburan yang cerdas memainkan etnisitas. Bisa kita lihat bagaimana tokoh-tokoh Madura sepeti Sultan Madura “nyawer virtual” hingga lebih dari 2 Milyar. Di samping menyeret pejabat publik masuk perangkapnya.
Nah, kenapa pejabat publik harus terlibat? Logika pejabat dan politisi adalah kerumunan atau jumlah kepala. Valen berhasil menyihir orang Madura dalam jumlah besar. Dan ini adalah modal suara bagi para pejabat dan politisi. Menjadi blunder jika pejabat dan politisi tidak mengapresiasinya. Di samping dikutuk kayak Malin Kundang oleh massa, kerumunan sebagai target suara bagi mereka sayang jika terlewat. Mereka butuh validasi dan legitimasi. Massa yang tersihir adalah modalnya.
Masuk akal jika pejabat publik tak peduli dengan masalah riil yang dihadapi rakyatnya, kemiskinan, infrastruktur rusak, dst. Toh di tengah kesurupan massa, rakyat juga tak ingat akan masalah riilnya. Klop kan. Rakyat lupa karena terhibur, pejabat publik memanfaatkan situasi itu.
Sampai di sini, menjadi Valen itu berat. Dia sendiri harus membuktikan diri bisa keluar dari budaya pop yang sifatnya sesaat. Sisi lain, kegilaan orang Madura lambat laun akan kembali membumi. Saat itu orang Madura kembali ke dunia nyata yang tidak selalu indah tapi juga menyakitkan. Termasuk punya pejabat publik yang tidak memikirkannya. Maka jangan harap mereka mendesain strategi kebudayaan Madura dalam maknanya yang luas dan dalam.
Artikel ini dliansir harianjatim.com dari akun facebook resmi K. A. Dardiri Zubairi, Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimim, Gapura, Sumenep yang ditulis di Sumenep, 3 Januari 2026.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


