Nalar kritis merupakan salah satu fondasi utama profesi guru. Guru yang terbiasa mendiskusikan gagasan dan merefleksikan fenomena sosial akan lebih mudah menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna bagi murid. Sebaliknya, ketika ruang diskusi profesional melemah, maka pembelajaran berisiko terjebak pada rutinitas dan reproduksi pengetahuan semata.
Oleh: Erwin Prastyo*
Ruang guru dan grup WhatsApp sekolah merupakan dua ruang yang kerap luput dari perhatian, tetapi diyakini sangat menentukan visi dan kualitas sebuah sekolah. Keduanya menjadi tempat guru menghabiskan waktu di luar ruang kelas yaitu berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun makna kerja kolektif. Ruang guru hadir secara fisik, sedangkan grup WhatsApp menjadi ruang virtual yang semakin dominan dalam keseharian sekolah.
Dalam praktiknya, ruang guru sering dipandang sebatas pemenuhan standar sarana prasarana. Padahal, lebih dari itu, ruang guru semestinya berfungsi sebagai pusat membangun kesadaran intelektual dan pertukaran gagasan profesional. Demikian pula grup WhatsApp sekolah, yang idealnya menjadi medium komunikasi strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan program, dan merespons dinamika pembelajaran yang terus berubah.
Ruang Gagasan yang Diharapkan
Idealnya, ruang guru merupakan ruang lahirnya gagasan kemajuan sekolah. Di sanalah guru berbagi praktik baik, mendiskusikan persoalan pembelajaran juga solusinya, serta merancang program yang berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Ruang ini dapat menjadi tempat konsolidasi gagasan, baik untuk program jangka pendek maupun arah pengembangan sekolah dalam jangka panjang.
Grup WhatsApp sekolah pun memiliki potensi serupa. Sebagai ruang komunikasi yang cepat dan langsung, grup ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi, memperdalam refleksi, serta mengaitkan fenomena sosial dengan praktik pembelajaran. Ketika dikelola dengan baik, dua ruang ini dapat menjadi penopang penting budaya profesional guru di sekolah
Ketika Ruang Kehilangan Makna
Namun, realitas di banyak sekolah menunjukkan kondisi yang berbeda. Ruang guru kerap beralih fungsi menjadi ruang obrolan ringan yang tidak selalu berkaitan dengan pembelajaran atau pengembangan sekolah. Obrolan seputar gosip, konten yang sedang viral, atau isu personal sering kali lebih dominan dibandingkan diskusi pedagogis.
Untuk mengurangi dampak kurang baik obrolan tersebut hingga dikhawatirkan akan menurunkan tingkat disiplin para guru, malah ada juga sekolah yang secara sadar tidak menyediakan ruang guru untuk guru-gurunya.
Hal serupa terjadi pada grup WhatsApp sekolah. Alih-alih menjadi ruang dialog, grup ini lebih sering digunakan untuk penyampaian informasi satu arah, sebut saja undangan rapat, pemberitahuan kegiatan, atau delegasi penugasan pimpinan kepada guru. Interaksi yang bersifat reflektif dan kritis relatif nyaris jarang terjadi. Akibatnya, ruang komunikasi yang seharusnya strategis menjadi rutinitas administratif belaka.
Kondisi ini tidak berdiri sendiri. Hal ini berkaitan erat dengan kepemimpinan sekolah, budaya organisasi, serta tingkat profesionalisme guru. Tanpa arah yang jelas, ruang guru dan grup WhatsApp kehilangan potensinya sebagai sarana pembentuk budaya berpikir kolektif.
Guru dan Nalar Kritis
Nalar kritis merupakan salah satu fondasi utama profesi guru. Guru yang terbiasa mendiskusikan gagasan dan merefleksikan fenomena sosial akan lebih mudah menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna bagi murid. Sebaliknya, ketika ruang diskusi profesional melemah, maka pembelajaran berisiko terjebak pada rutinitas dan reproduksi pengetahuan semata.
Dalam konteks ini, ruang guru dan grup WhatsApp seharusnya menjadi wahana untuk menumbuhkan kesadaran kritis tersebut. Bukan sebagai ruang perdebatan tanpa arah, melainkan sebagai tempat membangun pemahaman bersama tentang tantangan pendidikan yang dihadapi.
Menghidupkan Kembali Ruang Profesional Guru
Mengoptimalkan ruang guru dan grup WhatsApp sekolah bukan semata soal fasilitas, tetapi soal kesadaran berpikir dan kepemimpinan. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam menginisiasi sekaligus mengarahkan budaya komunikasi yang sehat dan produktif. Guru pun dituntut untuk memaknai kedua ruang tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab profesionalnya.
Jika ruang guru dan grup WhatsApp mampu dihidupkan sebagai ruang produksi gagasan, ajang refleksi, dan koordinasi, maka dari sanalah arah kemajuan sekolah dapat dirumuskan. Masa depan sekolah, pada akhirnya, tidak hanya ditentukan di ruang kelas, tetapi juga di ruang-ruang tempat guru berpikir dan berbincang bersama.
*) Erwin Prastyo _ Alumnus PPG Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) & Fasilitator Program Numerasi Tanoto Foundation
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
Download sekarang!.


