Gerakan Aktivis untuk Presiden; “Paradox Madura: Menggugat Prabowo, Menanti Keadilan”

  • Bagikan
Gerakan Aktivis untuk Presiden; “Paradox Madura: Menggugat Prabowo, Menanti Keadilan”. (foto: pamitia for harianjatim)

Reporter: harianjatim

Madura-harianjatim.com. “Paradox Madura: Menggugat Prabowo, Menanti Keadilan”, menjadi tema diskusi publik dan kajian kritis yang digelar Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Taretan Legal Justitia baru-baru ini di Pemekasan, Madura, Jawa Timur.

Tema itu bukan sekedar bingkai diskusi, melainkan sebuah gerakan dan kajian kritis sebagai ruang refleksi atas kondisi sosial, ekonomi, dan penegakan hukum di Madura dalam konteks satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Diskusi ini diikuti puluhan aktivis dari latar bekalang organisasi kampus berbeda, mulai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kabupaten Pamekasan.

Jalannya diskusi berlangsung teratur, sistematis dibawah pemandu acara. Diskusi berlangsung setelah empat pemateri menyampaikan materi, keempat pemateri itu diantaranya Sekretaris DPP Asosiasi Pengacara Syari’ah Indonesia (APSI) Sulaisi Abdurrazaq, Ribut Baidi, Syaiful Anam Ghan dan Ibnu Hayat Efendi.

Warga Madura Belum Merdeka dari Kemiskinan

Sulaisi Abdurrazaq dalam paparannya mengatakan, kondisi riil di Pulau Madura pada khususnya masih terjadi ketimpangan antara kekayaan sumber daya alam (SDA) Madura dan kondisi kesejahteraan masyarakatnya, merupakan sebuah Paradox.

”Madura memiliki potensi besar, tetapi belum mampu keluar dari stigma kemiskinan,” ujarnya.

Dia mencontohkan saat ini warga Madura kesulitan dalam mencari lapangan pekerjaan, kemiskinan akut, dan mahalnya harga bahan pokok masih dirasakan masyarakat.

Sulaisi juga menyoroti sektor migas. Dari empat kabupaten di Madura, hanya Pamekasan yang tidak memiliki potensi migas, sementara Sumenep menjadi salah satu penyumbang migas terbesar di Jawa Timur.

Namun, kata dia, kesejahteraan masyarakat dinilai belum sebanding dengan potensi tersebut. Hal serupa terjadi pada komoditas tembakau yang menjadi bahan baku utama industri rokok nasional.

“Paradoksnya, kita kaya sumber daya, tetapi tetap masuk kawasan miskin,” ujarnya.

Penegakan Hukum Masih Lemah

Pemateri kedua, Ribut Baidi, menegaskan bahwa perjuangan sosial berada di atas sekadar perdebatan ideologi. Ia menyebut forum tersebut sebagai stimulus bagi mahasiswa agar tetap kritis dan kompak.

Ia juga menyinggung hasil riset lembaga Celios (center of Economic and Law Studies) yang menyoroti sejumlah persoalan penegakan hukum pada tahun pertama pemerintahan Prabowo.

Menurut Ribut, problem hukum kerap belum tuntas, sementara persoalan baru terus muncul, mulai dari isu lingkungan, narkoba, hingga korupsi.

Ia mencontohkan dugaan perusakan lingkungan akibat tambang di Pamekasan yang perlu dikaji dari aspek regulasi dan implementasi hukum.

“Keadilan adalah kebijakan yang paling bijak. Regulasi tanpa keadilan tidak akan melahirkan kebijakan yang baik,” katanya.

Perlunya Gerakan Massif

Pemateri lainnya, Syaiful Anam Ghan menyoroti pentingnya dimensi moral dalam kebijakan publik. Ia menilai perdebatan halal-haram serta boleh-tidak boleh kerap diabaikan dalam diskursus politik dan hukum.

Menurut dia, korupsi merupakan bentuk kerusakan moral yang berdampak luas terhadap sistem sosial.

Syaiful juga mengkritik menurunnya gerakan mahasiswa di Madura yang dinilai tidak lagi progresif.

“Diskusi penting, tetapi gerakan juga perlu,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski angka kemiskinan disebut menurun, pergerakannya dinilai lambat dan membutuhkan keseriusan pemerintah.

Semangat Reformasi Harus Terus Berkembang

Pemateri terakhir, Ibnu Hayat Efendi, membandingkan dinamika gerakan mahasiswa pra 2010-an dengan setelahnya.

”Semangat reformasi di masa kami lebih kuat dibanding saat ini, yang cenderung pragmatis,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kehadiran Jembatan Suramadu yang sempat diharapkan menjadi pintu kemajuan Madura, tetapi nyatanya kesejahteraan belum dirasakan masyarakat Madura.

”kemajuan daerah harus diukur melalui tiga indikator utama, yakni pendidikan, ekonomi, dan hukum,” pungkasnya.



Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

(Rls/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
simple tools to help you manage your online presence and connect with your audience across all platforms.