Paradoks Kemajuan: Di Balik Retakan Tatanan Dunia Baru

  • Bagikan
T.H. Hari Sucahyo*

Oleh : T.H. Hari Sucahyo*

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kita sedang hidup di persimpangan sejarah. Dunia yang selama puluhan tahun terasa relatif stabil dengan aturan ekonomi yang dapat diprediksi, tatanan politik yang mapan, serta keyakinan bahwa kemajuan sosial bergerak ke satu arah, kini tampak retak di banyak sisi. Setiap hari, berita datang silih berganti bukan sekadar sebagai informasi, melainkan sebagai guncangan terhadap asumsi-asumsi lama yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Yang dulu terasa pasti kini menjadi cair, dan yang dulu dianggap ekstrem kini menjadi bagian dari arus utama.

Banyak pengamat menempatkan pemerintahan Donald Trump sebagai pusat gempa dari perubahan global ini. Di bawah kepemimpinannya, bahasa politik berubah secara drastis: diplomasi yang halus digantikan oleh retorika konfrontatif, konsensus internasional diperlakukan sebagai beban, dan aliansi transatlantik yang dibangun dengan susah payah sejak Perang Dunia II dipertanyakan relevansinya. Dunia yang sebelumnya diikat oleh multilateralisme dan norma bersama mulai digambarkan sebagai arena persaingan keras antarnegara, tempat kekuatan dan kepentingan nasional berdiri di atas komitmen kolektif.

Menyederhanakan semua perubahan ini sebagai produk satu pemerintahan atau satu negara jelas menyesatkan. Trump mungkin berfungsi sebagai katalis atau simbol, tetapi bahan bakar sejati dari keguncangan global ini jauh lebih dalam. Ia berakar pada transformasi ekonomi yang telah berlangsung lama, pada perubahan sosial yang dipercepat oleh teknologi, dan pada rasa keterasingan yang dirasakan jutaan orang di tengah dunia yang katanya semakin makmur. Amerika Serikat hanyalah salah satu panggung utama; drama yang sama, dengan aktor dan dialek berbeda, dimainkan di Eropa, Asia, dan belahan dunia lain.

Ketidaksetaraan ekonomi adalah benang merah yang menghubungkan hampir semua ketegangan ini. Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi global memang menciptakan kekayaan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi distribusinya semakin timpang. Segelintir individu dan korporasi mengumpulkan kekayaan dalam jumlah fantastis, sementara sebagian besar masyarakat hanya merasakan stagnasi atau bahkan kemunduran. Ketika produktivitas meningkat dan pasar saham mencetak rekor demi rekor, upah riil bagi banyak pekerja nyaris tidak bergerak. Janji bahwa kerja keras akan berbuah kehidupan yang lebih baik terdengar semakin kosong.

Kontras ini menjadi semakin mencolok ketika kita melihat simbol-simbol kapitalisme modern. Figur seperti Elon Musk sering dipuja sebagai representasi inovasi, visi masa depan, dan keberanian mengambil risiko. Narasi yang mengelilinginya adalah narasi meritokrasi ekstrem: seseorang yang, melalui kecerdasan dan keberanian, mampu menembus batas-batas lama dan mengubah dunia. Di balik kisah sukses yang spektakuler ini, terdapat realitas yang jauh lebih muram. Ketika nilai saham melonjak dan kekayaan pribadi tumbuh menuju angka triliunan, sebagian besar pekerja, bahkan di negara terkaya di dunia, berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar seperti perumahan, kesehatan, dan pendidikan.

Di sinilah muncul jurang psikologis yang sama berbahayanya dengan jurang ekonomi. Bukan hanya soal siapa yang memiliki apa, tetapi juga soal siapa yang merasa dilihat dan dihargai. Banyak orang merasa sistem yang ada tidak lagi bekerja untuk mereka. Mereka melihat elit ekonomi dan politik hidup di dunia yang sama sekali berbeda, kebal terhadap krisis yang sehari-hari mereka hadapi. Ketika kepercayaan terhadap institusi runtuh, ruang terbuka lebar bagi populisme, teori konspirasi, dan narasi “kami melawan mereka” yang sederhana namun menggugah emosi.

Perubahan teknologi mempercepat semua dinamika ini. Revolusi digital menjanjikan efisiensi, konektivitas, dan peluang baru, tetapi juga membawa disrupsi besar terhadap pasar tenaga kerja dan kehidupan sosial. Otomatisasi dan kecerdasan buatan mengancam jutaan pekerjaan, sementara platform digital menciptakan bentuk kerja baru yang fleksibel namun sering kali tanpa perlindungan sosial. Media sosial, di sisi lain, mengaburkan batas antara fakta dan opini, memperkuat polarisasi, dan mengubah politik menjadi pertunjukan emosi yang berlangsung tanpa henti.

Eropa, yang lama dipandang sebagai benteng stabilitas sosial dan kompromi politik, tidak kebal terhadap gejolak ini. Krisis keuangan, gelombang migrasi, dan ketegangan geopolitik telah menguji solidaritas internalnya. Partai-partai arus utama kehilangan dukungan, sementara gerakan populis dan nasionalis memperoleh panggung dengan menjanjikan jawaban sederhana atas masalah kompleks. Di banyak negara, kebebasan sipil dan norma demokrasi yang selama ini dianggap aman mulai diperdebatkan kembali, seolah-olah pencapaian tersebut bisa dinegosiasikan ulang.

Semua ini menunjukkan bahwa kita tidak sekadar menghadapi serangkaian krisis terpisah, melainkan sebuah transformasi sistemik. Ekonomi, politik, dan teknologi saling berkelindan, menciptakan umpan balik yang memperkuat ketidakstabilan. Kebijakan ekonomi yang menguntungkan segelintir orang memperdalam ketidaksetaraan, ketidaksetaraan memicu ketidakpuasan politik, dan ketidakpuasan ini dieksploitasi melalui teknologi komunikasi modern yang mempercepat penyebaran kemarahan dan ketakutan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia akan berubah, melainkan ke arah mana perubahan itu akan membawa kita. Apakah kita akan bergerak menuju fragmentasi yang lebih dalam, dengan dunia terbagi ke dalam wilayah pengaruh yang bersaing dan masyarakat yang terpolarisasi? Ataukah krisis ini justru akan menjadi momentum untuk membayangkan ulang kontrak sosial, memperbarui institusi, dan mendefinisikan kembali makna kemajuan?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak akan datang dari satu pemimpin, satu negara, atau satu ideologi. Ia akan dibentuk oleh pilihan kolektif yang dibuat dalam kondisi penuh ketidakpastian. Sejarah menunjukkan bahwa periode gejolak sering kali melahirkan baik kemunduran yang gelap maupun lompatan maju yang radikal. Dunia lama memang sedang runtuh, tetapi dunia baru belum sepenuhnya terbentuk. Di ruang di antara keduanya, ketakutan dan harapan hidup berdampingan.

Mungkin tantangan terbesar zaman ini bukanlah tarif, aliansi, atau angka-angka kekayaan yang fantastis, melainkan kemampuan kita untuk memulihkan rasa tujuan bersama. Tanpa itu, inovasi akan terasa hampa, pertumbuhan ekonomi akan kehilangan makna, dan politik akan terus terjebak dalam siklus konflik tanpa solusi. Kita hidup di masa yang penuh gejolak, tetapi juga di masa yang menuntut keberanian intelektual dan moral untuk membayangkan masa depan yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berkelanjutan daripada dunia yang kini sedang kita tinggalkan.


*)Peminat bidang Sosial, Politik, dan Humaniora
Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol Tinggal di Semarang


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
sed cursus ante dapibus diam.