Pemkab Sumenep Perkuat Pendampingan Petani Garam, Dorong Sinergi Pusat hingga Daerah

  • Bagikan
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo saat menjadi pembicara dalam acara dialog khusus yang diselenggarakan JTV. (foto: tangkap layar)

Reporter: harianjatim

Surabaya-harianjatim.com. Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memperkuat pendampingan terhadap petani garam melalui kolaborasi lintas pemerintah, mulai dari tingkat daerah, provinsi, hingga pusat. Upaya ini dilakukan untuk mendorong peningkatan produksi dan kualitas garam nasional di tengah tantangan cuaca dan fluktuasi produksi.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan, pendampingan kepada petani tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui sinergi antarlembaga.

“Pendampingan petani garam bukan hanya oleh pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan pemerintah provinsi dan pusat,” kata Fauzi dalam Dialog Khusus bertema swasembada garam yang diselenggarakan JTV, Senin (20/4/2026).

Menurut Fauzi, salah satu program strategis yang menjadi pijakan penguatan sektor garam adalah PUGAR (Pengembangan Usaha Garam Rakyat) yang telah berjalan sejak 2011. Program tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas petani melalui pendekatan berbasis kelompok.

Ia menjelaskan, pendekatan kelompok dinilai lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga standar kualitas garam. Selain itu, pola tersebut juga memudahkan distribusi bantuan serta koordinasi antarpetani.

“Pendampingan dilakukan melalui kelompok, bukan perorangan. Selain memperkuat koordinasi, juga meningkatkan efisiensi distribusi bantuan,” ujarnya.

Salah satu bentuk dukungan konkret pemerintah, lanjut Fauzi, adalah pemberian bantuan geomembran. Bantuan ini diberikan secara kolaboratif oleh pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.

Menurut dia, penggunaan teknologi geomembran mampu meningkatkan kualitas garam karena menjaga kebersihan sekaligus mempercepat proses produksi.

“Geomembran ini membantu meningkatkan kualitas garam. Teknologi ini mampu menjaga kebersihan dan mempercepat proses produksi,” katanya.

Secara nasional, sektor garam masih menghadapi tantangan produksi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi garam Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berfluktuasi, terutama akibat faktor cuaca. Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat kebutuhan garam nasional, baik untuk konsumsi maupun industri, mencapai jutaan ton per tahun, sehingga peningkatan kualitas dan kuantitas produksi dalam negeri menjadi krusial untuk mengurangi ketergantungan impor.

Lebih jauh, Fauzi menekankan bahwa sektor garam memiliki keterkaitan langsung dengan kepentingan nasional, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan industri.

Namun demikian, ia mengakui produksi garam masih sangat bergantung pada faktor cuaca. Kondisi cuaca ekstrem, seperti curah hujan tinggi, dapat berdampak signifikan terhadap hasil panen.

“Cuaca bisa membuat petani senang, tetapi juga bisa merugikan. Hujan panjang tentu berpengaruh pada hasil garam,” ucapnya.

Dalam konteks kemitraan, Pemerintah Kabupaten Sumenep juga menjalin hubungan dengan PT Garam. Menurut Fauzi, hubungan tersebut berjalan secara alami karena sebagian besar petani mengelola lahan milik perusahaan tersebut.

“Mayoritas petani garam di Sumenep mengelola lahan PT Garam, sebagian lainnya milik sendiri. Ini membuat interaksi tetap terjalin,” katanya.

Selain itu, pemerintah daerah juga berperan memfasilitasi komunikasi terkait harga garam agar tetap stabil dan sesuai dengan standar nasional.

“Kerja sama ini penting agar petani tidak dirugikan dan harga tetap stabil sesuai ketentuan nasional,” ujar Fauzi.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus updatetopik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

(jd/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Karl hall for president of the united states. “indonesian couple publicly caned 140 times for adultery in aceh”.