|| Sapa Redaksi*
Setiap musim kemarau datang, Jawa Timur kembali berhadapan dengan persoalan lama yang belum sepenuhnya terselesaikan: kekeringan.
Di sejumlah wilayah, terutama kawasan yang memiliki keterbatasan sumber air, musim kemarau bukan sekadar perubahan cuaca. Ia menjadi masa ketika warga mulai menghitung cadangan air, petani mulai khawatir terhadap keberlangsungan tanaman, dan pemerintah daerah kembali disibukkan dengan distribusi bantuan air bersih.
Pola ini terus berulang dari tahun ke tahun. Kekeringan datang, status darurat ditetapkan, bantuan air dikirim, lalu persoalan mereda ketika musim hujan tiba. Namun, ketika kemarau berikutnya datang, persoalan yang sama kembali muncul.
Pertanyaannya, sampai kapan kekeringan hanya diperlakukan sebagai bencana musiman, bukan sebagai persoalan pembangunan yang membutuhkan solusi jangka panjang?
Jawa Timur sebenarnya bukan daerah yang kekurangan sumber daya air. Provinsi ini memiliki banyak sungai besar, kawasan pertanian luas, serta potensi sumber air yang melimpah. Namun, persoalan utama terletak pada kemampuan mengelola, menyimpan, dan mendistribusikan air secara berkelanjutan.
Di sinilah tantangan terbesar pemerintah daerah diuji.
Dari Bantuan Darurat Menuju Ketahanan Air
Selama ini, penanganan kekeringan masih banyak berorientasi pada respons setelah krisis terjadi. Ketika sumur warga mengering atau kebutuhan air bersih mulai sulit dipenuhi, pemerintah bergerak melalui pengiriman tangki air dan bantuan kebutuhan dasar.
Langkah tersebut tentu penting. Dalam kondisi darurat, negara memang harus hadir memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap air bersih.
Namun, bantuan darurat tidak boleh menjadi satu-satunya strategi.
Sebab, persoalan kekeringan bukan hanya tentang tidak adanya air pada satu musim tertentu. Persoalannya lebih kompleks: bagaimana daerah memiliki cadangan air yang cukup ketika curah hujan menurun, bagaimana menjaga kawasan resapan, dan bagaimana memastikan infrastruktur air mampu menjangkau masyarakat.
Pemerintah daerah perlu mengubah cara pandang. Kekeringan tidak cukup ditangani dengan pendekatan kebencanaan, tetapi harus masuk dalam agenda pembangunan.
Pembangunan embung, waduk kecil, sumur resapan, rehabilitasi jaringan irigasi, serta perlindungan kawasan hutan dan sumber mata air harus menjadi investasi jangka panjang.
Sebab, air yang tersedia hari ini merupakan hasil keputusan pembangunan yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya.
Petani Menjadi Kelompok yang Paling Rentan
Bagi masyarakat pedesaan, terutama petani, air bukan sekadar kebutuhan rumah tangga. Air adalah sumber kehidupan dan keberlangsungan ekonomi.
Ketika kemarau panjang terjadi, dampaknya langsung terasa di sektor pertanian. Tanaman mengalami kekurangan air, biaya produksi meningkat, bahkan sebagian petani harus menunda musim tanam.
Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu penyangga pangan nasional. Produksi padi, jagung, hortikultura, hingga berbagai komoditas pertanian lainnya memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah maupun nasional.
Namun, predikat sebagai lumbung pangan harus diikuti dengan perlindungan terhadap faktor utama produksi: air.
Tidak cukup hanya mendorong peningkatan produksi pertanian melalui bantuan alat mesin pertanian atau teknologi budidaya. Tanpa kepastian ketersediaan air, produktivitas pertanian tetap menghadapi risiko besar.
Karena itu, kebijakan pangan dan kebijakan pengelolaan air harus berjalan beriringan.
Perubahan Iklim Memperbesar Tantangan
Persoalan kekeringan juga semakin kompleks akibat perubahan iklim. Pola musim semakin sulit diprediksi, periode kemarau dapat berlangsung lebih panjang, sementara intensitas hujan ketika musim penghujan bisa semakin ekstrem.
Situasi ini menuntut pemerintah untuk memiliki perencanaan yang lebih adaptif.
Daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola lama: menunggu laporan kekeringan, melakukan pendataan, kemudian menyalurkan bantuan.
Pendekatan semacam itu penting dalam situasi darurat, tetapi tidak cukup untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
Pemerintah perlu memiliki peta risiko kekeringan, data sumber air yang akurat, serta perencanaan pembangunan yang mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.
Air Harus Menjadi Prioritas Politik Pembangunan
Selama ini, pembangunan sering lebih mudah terlihat melalui proyek fisik seperti jalan, gedung, atau infrastruktur yang langsung tampak oleh mata.
Sementara pembangunan sektor air sering berjalan lebih senyap, meskipun dampaknya sangat menentukan kehidupan masyarakat.
Padahal, ketersediaan air memiliki hubungan langsung dengan kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga ketahanan pangan.
Masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih akan kehilangan waktu produktif. Petani yang gagal panen akan kehilangan pendapatan. Daerah yang tidak memiliki cadangan air akan semakin rentan menghadapi krisis.
Karena itu, air harus ditempatkan sebagai prioritas politik pembangunan, bukan hanya program teknis pemerintahan.
Membangun Kesadaran Bersama
Pemerintah memang memiliki peran utama dalam menyediakan infrastruktur dan kebijakan. Namun, keberhasilan menjaga ketersediaan air juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
Pengelolaan lingkungan, menjaga kawasan resapan, tidak merusak sumber mata air, serta penggunaan air secara bijak harus menjadi budaya bersama.
Sebab, krisis air tidak hanya disebabkan oleh faktor alam. Aktivitas manusia juga memiliki pengaruh besar terhadap keberlanjutan sumber daya air.
Jawa Timur memiliki kesempatan untuk keluar dari siklus kekeringan tahunan. Namun, hal itu membutuhkan perubahan paradigma: dari pemerintah yang hanya hadir ketika krisis terjadi menjadi pemerintah yang mampu mencegah krisis sejak awal.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan ketika bantuan air tiba di lokasi bencana. Ukuran keberhasilan adalah ketika masyarakat tidak lagi merasa cemas setiap kali musim kemarau datang.
Kekeringan mungkin tidak dapat sepenuhnya dihindari. Tetapi dampaknya dapat dikurangi jika negara memiliki perencanaan, keberanian mengambil keputusan, dan komitmen menjaga air sebagai aset kehidupan.
Karena sesungguhnya, krisis air bukan hanya persoalan musim kemarau. Ia adalah ujian tentang bagaimana sebuah daerah mengelola masa depannya.
|| Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.
Berita


