Yang Tersisa Setelah Api: Abu, Batuk, dan Ketidakberdayaan

  • Bagikan
T. H. Hari Sucahyo

Penulis: T. H. Hari Sucahyo*

Indonesia sedang terbakar. Namun, kebakaran kali ini tidak hanya dapat dilihat dari kepulan asap yang menggantung di langit, gambar hutan yang menghitam, atau titik-titik merah yang memenuhi peta. Melalui mata Werner Herzog, sutradara legendaris asal Jerman, lewat salah satu film dokumenter mahakaryanya yang berjudul Lessons of Darkness (1992), barangkali kita akan melihat sesuatu yang lebih ganjil sekaligus lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: sebuah rumah yang terus-menerus berdebu.

Ada sesuatu yang aneh, khas Indonesia, dalam kebiasaan menyapu lantai. Pagi disapu, siang disapu lagi, sore dibersihkan, tetapi debu seperti selalu menemukan jalan untuk kembali. Seolah-olah rumah memproduksi debunya sendiri ketika kita sedang tidak memperhatikan.

Belakangan, di sejumlah daerah di Indonesia, orang-orang melakukan hal yang sama dengan abu. Di Kalimantan Barat, warga bercerita tentang bagaimana mereka menyapu rumah hanya untuk menemukan lapisan abu baru beberapa jam kemudian.

Sapu bergerak, lantai terlihat bersih, lalu abu kembali. Anak-anak jatuh sakit. Sekolah ditutup. Klinik dipenuhi orang-orang yang batuk dan mengalami gangguan pernapasan. Seorang ibu bahkan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia lelah menyapu abu yang terus datang kembali.

Bayangkan kesederhanaan adegan itu: sebuah sapu, sebuah lantai, dan abu yang berserakan di mana-mana.

Tidak ada dramatisasi. Tidak ada suara sirene setiap detik. Tidak ada kamera yang terus-menerus mengejar api. Hanya seseorang yang menyapu rumahnya sendiri, berulang kali, karena sesuatu dari luar telah masuk dan tidak mau pergi.

Barangkali justru di situlah wajah sebenarnya dari sebuah bencana.

Kita sering membayangkan kebakaran hutan sebagai sesuatu yang jauh. Hutan terbakar di suatu tempat, sementara kehidupan kita berlangsung di tempat lain.

Api berada di luar rumah, di balik pepohonan, di wilayah yang mungkin bahkan tidak pernah kita kunjungi. Selama kebakaran hanya terlihat sebagai gambar satelit atau berita beberapa menit di televisi, ia masih terasa seperti persoalan orang lain.

Tetapi abu di lantai mengubah semuanya.

Abu di rumah Anda berarti kebakaran tidak lagi berada di luar kehidupan Anda. Ia sudah masuk melalui jendela, menempel di meja, masuk ke pakaian, mengotori makanan, memenuhi paru-paru, dan mengubah cara anak-anak pergi ke sekolah.

Abu membuat sebuah bencana ekologis menjadi pengalaman domestik. Ia membuat kebakaran hutan menjadi sesuatu yang harus disapu dengan tangan sendiri.

Dan Indonesia kembali mengalami itu.

Indonesia terbakar di banyak tempat sekaligus.

Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampaknya. Sumatra menghadapi persoalan yang sama. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Sulawesi, Jawa, hingga Papua.

Hingga akhir Juli, lebih dari 200.000 hektare lahan telah terbakar. Situasi kemudian memburuk pada Agustus ketika kekeringan semakin parah dan pengaruh El Niño semakin terasa.

Angka 200.000 hektare terdengar besar. Namun, angka memiliki kelemahan: ia terlalu mudah membuat kita lupa bahwa setiap hektare bukan sekadar ukuran di atas kertas.

Di dalamnya ada pohon, tanah, hewan, sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup manusia. Ada rumah-rumah yang harus ditutup rapat. Ada orang tua yang khawatir ketika anaknya mulai batuk. Ada sekolah yang tidak dapat menjalankan kegiatan belajar. Ada petugas kesehatan yang kembali menerima pasien dengan keluhan serupa.

Di balik statistik selalu ada kehidupan yang sedang dipaksa menyesuaikan diri.

Kita mungkin tergoda menyalahkan cuaca. Kekeringan memang membuat vegetasi menjadi lebih mudah terbakar. El Niño memperburuk kondisi dengan mengurangi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Namun, mengatakan bahwa kebakaran terjadi hanya karena musim kering terasa terlalu sederhana.

Musim kering bukanlah pelaku tunggal. Ia lebih mirip kondisi yang membuka pintu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menyalakan api, mengapa api bisa menyebar sedemikian luas, dan mengapa kita selalu tampak terkejut ketika musim kebakaran datang?

Indonesia sudah mengalami kebakaran hutan dan lahan berkali-kali. Kita mengenal asap. Kita mengenal jarak pandang yang menurun. Kita mengenal masker. Kita mengenal sekolah yang diliburkan. Kita mengenal penerbangan yang terganggu. Kita mengenal anak-anak yang batuk.

Bahkan, kita mengenal ritual tahunan untuk mengatakan bahwa pemerintah akan bertindak lebih tegas.

Setiap kali api kembali, seolah-olah kita memulai percakapan yang sama dari awal.

Masalahnya bukan semata-mata karena kita tidak tahu.

Kita tahu bahwa lahan yang kering mudah terbakar. Kita tahu bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar dapat menghasilkan kebakaran yang sulit dikendalikan.

Kita tahu bahwa gambut yang terbakar bukan hanya menghasilkan api di permukaan, tetapi dapat menyimpan bara dan melepaskan asap dalam jumlah besar. Kita tahu bahwa asap kebakaran mengandung partikel berbahaya bagi kesehatan. Kita tahu bahwa anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan menjadi kelompok yang sangat rentan.

Yang tampaknya belum kita kuasai adalah kemampuan untuk mencegah pengetahuan itu berubah menjadi bencana yang berulang.

Di sinilah kebakaran hutan seharusnya tidak lagi dipandang semata-mata sebagai persoalan lingkungan.

Ia adalah persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi, tata ruang, penegakan hukum, bahkan persoalan tentang bagaimana negara memandang ruang hidup warganya.

Ketika sekolah tutup karena udara tidak sehat, kebakaran telah menjadi persoalan pendidikan.

Ketika klinik penuh oleh pasien yang mengalami gangguan pernapasan, kebakaran telah menjadi persoalan kesehatan publik.

Ketika petani kehilangan lahan dan aktivitas ekonomi terganggu, kebakaran menjadi persoalan penghidupan.

Dan ketika masyarakat harus menyapu abu dari rumah mereka setiap hari, kebakaran telah menjadi persoalan yang sangat pribadi.

Ironisnya, mungkin kita terlalu terbiasa dengan bencana.

Kita terbiasa melihat asap sehingga tidak lagi bertanya mengapa udara kita berubah.

Kita terbiasa memakai masker sehingga lupa bahwa masker seharusnya bukan solusi permanen untuk udara yang tercemar.

Kita terbiasa melihat foto hutan terbakar sehingga gambar tersebut kehilangan sebagian daya kejutnya.

Api menjadi latar belakang berita, bukan lagi peringatan.

Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada melihat hutan terbakar: menemukan abu di lantai rumah sendiri.

Hutan yang terbakar masih bisa terasa seperti sebuah pemandangan. Abu di rumah adalah gangguan yang harus kita sentuh.

Ia harus disapu. Ia harus dibersihkan.

Dan ketika beberapa jam kemudian muncul lagi, kita dipaksa menyadari bahwa tidak ada aktivitas domestik yang cukup untuk menghapus sumber masalahnya.

Sapu tidak akan pernah menyelesaikan kebakaran. Ia hanya membersihkan akibatnya.

Mungkin itulah metafora yang paling tepat untuk cara kita selama ini menghadapi kebakaran hutan dan lahan.

Kita terlalu sering menyapu abu tanpa memadamkan sumber apinya.

Kita sibuk menangani asap ketika api sudah membesar. Kita menghitung hektare yang terbakar ketika seharusnya kita lebih serius mencegah hektare pertama terbakar.

Kita menutup sekolah ketika udara sudah berbahaya, alih-alih memastikan sejak awal bahwa anak-anak tidak harus hidup di tengah udara seperti itu.

Indonesia tidak kekurangan pengalaman mengenai kebakaran. Yang kurang adalah kemauan untuk memperlakukan pengalaman tersebut sebagai pelajaran yang harus menghasilkan perubahan.

Karena pada akhirnya, kebakaran bukan hanya tentang hutan yang hilang.

Ia tentang batas antara bencana dan kehidupan sehari-hari yang semakin tipis.

Ketika abu masuk ke rumah, ketika anak tidak dapat pergi ke sekolah, ketika orang tua harus khawatir tentang udara yang dihirup keluarganya, kita tidak lagi berbicara tentang sesuatu yang terjadi jauh di sana.

Kebakaran itu sudah berada di dalam rumah.

Dan selama kita hanya terus menyapu, abu itu akan terus kembali.

Indonesia tidak seharusnya menunggu hujan untuk merasa aman.

Tidak seharusnya masyarakat menunggu api padam untuk kembali menjalani kehidupan normal.

Dan tidak seharusnya setiap musim kering membawa pertanyaan yang sama: kapan Indonesia akan terbakar lagi?

Pertanyaan yang lebih penting justru seharusnya jauh lebih sederhana: mengapa kita masih membiarkan rumah yang sama terus dipenuhi abu?


||* > Peminat bidang sosial, politik, dan humaniora.
> Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol.
> Tinggal di Semarang.


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google  News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com    

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90