Sebelum Mengajari Orang Menulis, Saya Belajar dari Sepiring Nasi Serpang

  • Bagikan
Nasi Serpang (Dok. Ist)

|| Penulis: Bustomi*

Minggu pagi, 20 September 2026, saya datang ke Bangkalan, Madura, bukan untuk mencari Nasi Serpang, tapi untuk mengajari orang menulis.

Pukul 09.00 WIB saya dijadwalkan menjadi pemateri dengan topik “Write to Publish: Dari Ide Menjadi Artikel Layak Tayang”, acara yang diselenggarakan IKA UNAIR Bangkalan bekerjasama dengan RSIA Hikmah Sawi.

Karena tidak ingin datang terburu-buru, saya dan tim berangkat lebih awal. Kami tiba sebelum acara dimulai. Ada waktu luang, tetapi ada satu persoalan yang jauh lebih mendesak daripada mencari ide tulisan, yakni perut. Kami pun mencari sarapan.

Di tengah percakapan dengan beberapa orang di grup WhatsApp, saya bertanya, “Kalau ingin mencicipi nasi serpang yang khas, legendaris, dan menjadi favorit orang lokal maupun pendatang, harus ke mana?”

Jawabannya mengarah kepada satu tempat. Seorang ibu paruh baya yang sudah lama berjualan di depan Gedung PKPN, persis di seberang Klenteng Eng An Bio.

Saya tersenyum. Ternyata pagi itu saya tidak sedang mencari bahan tulisan. Hanya sedang mencari sarapan. Tetapi bukankah sering kali begitulah cerita ditemukan? Ia datang ketika kita tidak sedang mencarinya.

Nasi serpang sebenarnya bukan nama yang asing bagi saya. Sebelum datang ke Bangkalan, sudah beberapa kali mendengar orang bercerita tentang makanan ini. Teman-teman dari Madura pernah menyebutnya. Orang yang mengenal kuliner Madura juga sering memasukkannya dalam percakapan tentang makanan khas Bangkalan.

Tetapi selama itu, nasi serpang hanyalah sebuah cerita. Tahu namanya, tetapi belum tahu rasanya. Kenal reputasinya, tetapi belum pernah berhadapan dengan sepiringnya. Tahu orang menyukainya, tetapi belum tahu mengapa.

Pagi itu, untuk pertama kalinya, cerita tersebut berada di depan mata. Harganya Rp18.000. Tidak mahal untuk ukuran sebuah sarapan dengan lauk yang begitu ramai.

Barangkali yang membuat nasi serpang menarik bukan karena ia menyajikan banyak lauk. Bisa jadi justru karena ia tahu berapa banyak yang harus disajikan dan berapa banyak yang tidak perlu ditambahkan.

Seorang panitia acara, Abdul Muis, kemudian mengatakan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar komentar bahwa nasi serpang itu enak. “Kalau kurang satu lauknya, kurang enak dimakan. Tapi kalau lebih satu juga enggak enak. Enak kalau takarannya pas.”

Saya terdiam sebentar. “Takaran yang pas.” Kalimat itu seperti sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada nasi. Bahkan mungkin sedang membicarakan tulisan.

Di atas daun pisang, nasi serpang tampak seperti sebuah pertemuan kecil. Ada nasi yang pulen. Ada pepes ikan tongkol. Ada kerang dengan bumbu sambal goreng. Ada telur asin. Ada dendeng daging sapi Madura. Ada sohun berbumbu kecap. Ada sambal terasi. Ada kerupuk berbumbu rujak. Ada pula keripik paru dan pelengkap lain yang bisa hadir dalam variasi penyajian.

Laut dan daratan seperti duduk berdampingan. Ikan dan kerang datang dari dunia laut. Daging sapi membawa cerita daratan. Telur, sambal, kerupuk, sohun, dan berbagai pelengkap mempertemukan rasa yang berbeda dalam ruang yang sama.

Tetapi ada satu yang justru tidak hadir, yakni sayur. Aneh? Tidak juga. Justru ketidakhadiran sayur itu merupakan bagian dari karakter Nasi Serpang.

Kita sering menganggap makanan lengkap harus mempunyai nasi, lauk, dan sayur. Nasi Serpang seperti tidak terlalu peduli dengan rumus itu. Ia punya rumus sendiri. Tidak harus ada kuah. Tidak harus ada sayur. Yang penting komposisinya pas. Dan mungkin di situlah nasi serpang menjadi menarik. Ia tidak berusaha memenuhi definisi makanan lengkap menurut kita. Ia cukup menjadi dirinya sendiri.

Mohammad Tojjib, salah seorang pemateri yang asli Bangkalan dan wartawan senior, bercerita bahwa nasi serpang berasal dari Serpang, Desa Sabiyan.

Ia juga menjelaskan karakter lain makanan ini yang biasanya dijual pagi hari, sebagai sarapan. Seporsinya cukup untuk mengawali hari, bukan untuk membuat seseorang merasa sedang menghadiri pesta tujuh hidangan. Kini nasi serpang juga bisa dipesan dalam bentuk nasi kotak untuk berbagai hajatan.

Makanan yang awalnya menunggu orang datang di pagi hari, perlahan belajar pergi menemui orang.

Tradisi, rupanya, tidak selalu bertahan dengan cara diam. Kadang ia bertahan karena mau menyesuaikan diri. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang, yakni karakter dasarnya. Termasuk nasi yang punel.

Ketua IKA Unair Bangkalan, dr. Raudatul Hikmah, memberi saya satu informasi yang menarik tentang soal ini. Setelah nasi matang dan diangkat, nasi itu kemudian diaduk-aduk sambil dikipas. Dari proses itulah teksturnya menjadi punel.

Saya kemudian berpikir, bahkan nasi pun ternyata membutuhkan perlakuan. Ia tidak sekadar dimasak, lalu selesai. Ada tahap setelah matang yang menentukan bagaimana ia akan hadir ketika sampai ke mulut.

Bukankah tulisan juga begitu?

Sebuah gagasan yang baru selesai ditulis belum tentu menjadi tulisan yang enak dibaca. Ia harus diaduk. Didinginkan. Diperiksa lagi. Kadang harus dikurangi. Kadang harus diberi sedikit ruang. Sampai akhirnya menemukan teksturnya sendiri.

Pagi itu saya sebenarnya sedang bersiap berbicara kepada peserta tentang bagaimana sebuah ide bisa berubah menjadi artikel layak tayang. Saya hendak mengatakan kepada mereka bahwa menulis bukan sekadar memiliki informasi. Bukan pula sekadar memiliki banyak data. Tulisan membutuhkan sudut pandang. Membutuhkan pilihan. Membutuhkan kemampuan memilah mana yang penting dan mana yang sebaiknya ditinggalkan.

Tetapi sebelum saya menyampaikan semua itu, nasi serpang seperti memberikan contoh yang jauh lebih sederhana.

Bayangkan jika semua lauk yang tersedia dimasukkan sebanyak-banyaknya. Kerang ditambah. Daging ditambah. Telur ditambah. Sambal ditambah. Kerupuk ditambah. Mungkin piringnya akan terlihat lebih meriah. Tetapi belum tentu lebih enak. Kurang satu tidak pas. Lebih satu juga tidak pas. Yang dicari adalah keseimbangan.

Dan tiba-tiba saya merasa sedang belajar menulis dari sepiring nasi.

Saya juga baru memahami mengapa makanan sederhana bisa menjadi penanda sebuah tempat. Nama “Serpang” membawa kita kepada asal-usulnya. Dari sebuah desa di Bangkalan, makanan ini kemudian dikenal lebih luas di Madura dan di luar daerah.

Tetapi makanan tidak pernah benar-benar hanya soal tempat.

Di dalam makanan selalu ada cara hidup. Ada kebiasaan. Ada selera. Ada ingatan. Ada orang-orang yang mempertahankannya. Ada pagi-pagi yang berulang. Ada penjual yang datang sebelum pembeli. Ada pembeli yang mungkin datang bukan karena sedang mencari makanan terkenal, tetapi karena sejak kecil sudah mengenal rasanya.

Dan mungkin ada pula orang seperti saya yang datang ke Bangkalan untuk mengajar menulis, lalu baru pertama kali benar-benar memahami satu bagian kecil dari Madura lewat sarapan.

Saya datang sebagai orang yang hanya tahu nasi serpang dari cerita. Saya pulang dengan pengalaman. Perbedaannya sederhana, tetapi penting. Cerita memberi kita pengetahuan, sementara pengalaman memberi kita hubungan.

Saya membayangkan nasi serpang seperti sebuah peta kecil. Bukan peta dengan garis-garis jalan. Melainkan peta rasa. Di sana laut dan darat bertemu. Ada ikan, kerang, daging sapi, telur, sambal, kerupuk, dan nasi. Masing-masing memiliki karakter. Tidak semuanya harus dominan. Tidak semuanya harus berbicara bersamaan. Justru karena itulah sepiring tersebut menjadi utuh.

Mungkin itu pula sebabnya makanan ini tidak perlu berteriak untuk menjadi khas. Ia cukup hadir setiap pagi. Di pinggir jalan. Di pasar. Di depan sebuah gedung. Di seberang sebuah klenteng. Dan bertahun-tahun kemudian, orang masih mencarinya.

Ada sesuatu yang sangat sederhana sekaligus dalam pada cara sebuah makanan bertahan seperti itu. Ia tidak membutuhkan panggung. Ia membutuhkan orang yang mau terus membuatnya. Dan orang yang mau terus memakannya.

Ketika saya berdiri di hadapan peserta acara pagi jelang siang itu, saya membawa materi yang sudah saya siapkan. Tentang ide. Tentang menulis. Tentang bagaimana sebuah gagasan diolah menjadi artikel.

Tetapi saya merasa mendapat tambahan satu contoh yang tidak ada dalam slide presentasi saya. Saya bisa mengatakan kepada peserta, “Jangan buru-buru mencari ide besar!” Kadang ide justru muncul dari sesuatu yang sangat kecil. Dari perjalanan yang tidak direncanakan. Dari pertanyaan sederhana di grup WhatsApp. Dari seorang ibu yang berjualan sarapan. Dari harga Rp18.000. Dari sepiring nasi tanpa sayur. Dari nasi yang harus dipunelkan dengan cara tertentu. Dari delapan atau beberapa lauk yang masing-masing membawa rasa sendiri. Dan

dari satu kalimat seorang panitia, “Kurang satu tidak enak. Lebih satu juga tidak enak. Yang enak kalau takarannya pas.”

Saya datang ke Bangkalan untuk mengajarkan bagaimana sebuah ide menjadi tulisan. Tetapi pagi itu saya justru mendapatkan pelajaran lebih dulu. Bahwa menulis, seperti meracik makanan, bukan pekerjaan menumpuk sebanyak-banyaknya bahan. Bukan pula soal membuat sesuatu terlihat paling ramai.

Menulis adalah soal memilih. Apa yang perlu dimasukkan. Apa yang harus disimpan. Apa yang harus dibuang. Dan kapan harus berhenti.

Sebab tulisan yang terlalu sedikit bisa terasa hambar. Tulisan yang terlalu penuh bisa membuat pembaca kenyang sebelum sampai pada gagasan utama. Yang dicari, sekali lagi, adalah takaran yang pas. Seperti nasi serpang.

Mungkin itulah alasan mengapa pagi itu saya tidak lagi menganggap nasi serpang sekadar makanan khas Bangkalan. Ia menjadi semacam catatan kecil bagi saya tentang bagaimana sebuah cerita seharusnya dibuat.

Dan ironisnya, pelajaran itu datang justru sebelum saya mulai mengajari orang lain menulis.

Saya datang untuk mengajar menulis. Saya pulang membawa sepiring pelajaran.

||* Mahasiswa Program Doktoral FISIP Unair yang suka membaca dan menulis

Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90