Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam: Perkuat Ekonomi Rakyat, Wujudkan Kemerdekaan Sejati

  • Bagikan
Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam di Surabaya (Dok. Ist)

Surabaya — harianjatim.com Peringatan 121 tahun Syarikat Islam (SI) menjadi momentum untuk memperkuat gerakan ekonomi kerakyatan dan memperjuangkan kemandirian ekonomi bangsa. Semangat tersebut mengemuka dalam pembukaan Majelis Tahkim atau Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, Jawa Timur, pada 17 Oktober 2026, dengan mengusung tema “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati”.

Kota Surabaya memiliki makna historis dalam perjalanan Syarikat Islam. Di kota inilah H.O.S. Tjokroaminoto mengembangkan gerakan organisasi dan membangkitkan kesadaran ekonomi kaum pribumi pada masa pergerakan nasional. Lebih dari satu abad kemudian, Surabaya kembali menjadi tempat konsolidasi kader SI untuk melanjutkan perjuangan melalui penguatan ekonomi rakyat.

Bagi Syarikat Islam, usia 121 tahun bukan sekadar penanda perjalanan organisasi, melainkan pengingat atas komitmen panjang dalam melawan ketimpangan ekonomi dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Tantangan perjuangan saat ini dinilai tidak lagi sebatas penjajahan politik, tetapi juga kemiskinan, kesenjangan sosial, dan ketergantungan ekonomi.

Dalam pidatonya pada pembukaan Majelis Tahkim ke-42, pimpinan senior Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, menegaskan bahwa kongres tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan amanat konstitusi organisasi sekaligus momentum kebangkitan ekonomi umat.

“Hari ini insyaa Allah kita memenuhi amanat konstitusi Majelis Tahkim, kongres bertema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati,” tutur Hamdan Zoelva di hadapan belasan ribu kader dan simpatisan yang memadati arena kongres.

Hamdan Zoelva menyoroti pentingnya mengembalikan orientasi gerakan Syarikat Islam pada persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat, terutama kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya dijalankan melalui pendekatan keagamaan, tetapi juga perlu diwujudkan dalam upaya nyata meningkatkan kesejahteraan umat.

“Masalah ekonomi dan kemiskinan. Kita hendak bangkit dan melawan. Gerakan perbaikan umat, lewat ekonomi,” tegas Hamdan dengan nada berapi-api.

Pesan tersebut menegaskan bahwa dakwah ekonomi menjadi salah satu jalan perjuangan Syarikat Islam untuk membangun kemandirian masyarakat. Melalui penguatan usaha rakyat, koperasi, dan pemberdayaan ekonomi umat, SI berupaya mendorong kemerdekaan sejati yang tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan politik, tetapi juga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Dukungan terhadap penguatan ekonomi kerakyatan juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, yang hadir dalam Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat kembali peran historis Sarekat Islam dalam perkembangan pergerakan nasional Indonesia.

“Kalau boleh jujur, gerakan kebangkitan nasional pertama adalah Sarekat Islam, tapi yang kita peringati Boedi Oetomo. Persatuan nasional, Sumpah Pemuda, padahal Sarekat Islam yang pertama,” ungkap Zulkifli Hasan blak-blakan.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kontribusi Sarekat Islam dalam sejarah kebangkitan nasional. Organisasi ini memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat pribumi, termasuk melalui gerakan ekonomi dan persatuan yang berkembang pada masa kolonial.

Selain menyinggung sejarah, Zulkifli Hasan menekankan perlunya keberpihakan kebijakan negara terhadap petani dan peternak Indonesia. Ia menilai kesejahteraan produsen pangan lokal harus menjadi perhatian utama agar mereka tidak terus berada dalam posisi yang lemah di tengah persaingan pasar.

“Petani kita miskin, petani luar kita untungkan. Dan itulah yang terjadi berpuluh tahun. Kita perlu berpihak pada petani dan peternak Indonesia,” serunya.

Pernyataan Menko Pangan tersebut sejalan dengan semangat ekonomi kerakyatan yang diusung Syarikat Islam. Penguatan posisi petani, peternak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta koperasi dinilai menjadi bagian penting dalam membangun sistem ekonomi yang lebih adil dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam forum tersebut, Zulkifli Hasan juga mengapresiasi inisiatif Syarikat Islam dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan melalui penguatan koperasi, termasuk Koperasi Desa. Program tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat dari tingkat desa.

“Koperasi Desa merupakan salah satu perwujudan cita-clair koperasi Syarikat Islam. Meski banyak perlawanan, Pak Prabowo bilang jalan terus. Untuk mewujudkan cita-cita Syarikat Islam sebagaimana disebut Bung Hamdan Zoelva,” ujar Zulkifli Hasan menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap sinergi kerakyatan ini.

Pengembangan koperasi menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan ekonomi produktif. Melalui kelembagaan koperasi, pelaku usaha di tingkat desa diharapkan dapat memperkuat kerja sama, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Dalam konteks kemandirian pangan, koperasi juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat rantai pasok dan mempertemukan produsen dengan pasar. Karena itu, sinergi antara gerakan organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, koperasi, dan pemerintah menjadi salah satu aspek penting dalam mendorong ekonomi kerakyatan.

Majelis Tahkim atau Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam berlangsung pada 17–20 Oktober 2026 dengan rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Asrama Haji Sukolilo dan Jatim Expo, Surabaya. Agenda tersebut menjadi ruang konsolidasi organisasi sekaligus penguatan program dakwah ekonomi bagi para kader dan anggota Syarikat Islam.

Rangkaian kegiatan juga diramaikan dengan Festival Koperasi in Conjunction with SI Connect Expo 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku usaha kecil, koperasi, dan berbagai komunitas untuk membangun jejaring serta membuka peluang kolaborasi ekonomi.

Kehadiran festival dan pameran tersebut memperkuat dimensi praktis dari tema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati. Selain menjadi forum organisasi, kegiatan ini membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, memperluas jaringan bisnis, dan menjajaki kemitraan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Perjalanan Syarikat Islam dari masa pergerakan nasional hingga penyelenggaraan Majelis Tahkim ke-42 menunjukkan kesinambungan perjuangan dalam membangun kesadaran dan kemandirian masyarakat. Jika pada masa kolonial perjuangan diarahkan untuk menghadapi ketidakadilan dan dominasi ekonomi, tantangan saat ini berkaitan dengan kemiskinan, kesenjangan, serta penguatan daya saing ekonomi rakyat.

Melalui tema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati, Syarikat Islam menegaskan bahwa kemerdekaan perlu diwujudkan dalam kehidupan ekonomi yang lebih berdaulat. Petani, peternak, pelaku UMKM, koperasi, dan masyarakat desa menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan ekonomi yang inklusif.

Dari Surabaya, semangat perjuangan yang tumbuh sejak era H.O.S. Tjokroaminoto kembali diteguhkan melalui agenda penguatan ekonomi umat. Peringatan 121 tahun Syarikat Islam bukan hanya menjadi ruang mengenang sejarah, tetapi juga momentum untuk memperbarui strategi perjuangan agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi Syarikat Islam, kemerdekaan sejati tidak berhenti pada kebebasan politik. Kemerdekaan juga berarti kemampuan bangsa mengelola potensi ekonominya, memperkuat kesejahteraan rakyat, dan membangun kemandirian di negeri sendiri.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90