Moderasi Beragama dengan Bingkai Toleransi

  • Bagikan

Moderasi berarti moderat atau lawan kata dari ekstrem yakni sikap yang berlebihan terhadap perbedaan dan keragaman. Sedangkan, beragama adalah menganut atau memeluk suatu agama. Moderasi beragama dapat diartikan sebagai cara pandang, sikap dan perilaku yang mampu bertindak adil serta tidak ekstrim dalam beragama. Menurut Quraisy Shihab, moderasi memiliki beberapa pilar penting, diantaranya keadilan, keseimbangan, dan juga toleransi. Moderasi beragama berkaitan erat dengan menjaga kebersamaan sehingga memiliki sifat tenggang rasa terhadap perbedaan (toleransi), hal ini bertujuan untuk saling memahami perbedaan satu sama lain.

Moderasi beragama dalam pemahaman Islam merupakan suatu sikap yang mengedepankan sikap toleran dalam perbedaan, sehingga tidak menghalangi seseorang untuk menjalin kerja sama, berdasarkan asas kemanusiaan. Seperti dalam firman Allah :


يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat: 13)


Dalam ayat tersebut mengajarkan bahwa akan sejahtera, rukun dan damai jika bisa hidup berdampingan dengan suku bangsa dan agama lain apabila mampu mengali dan memahami nilai-nilai keseimbangan hidup dan moderasi beragama. Moderasi beragama ini tidak dapat dipisahkan dengan toleransi karena moderasi beragama adalah suatu proses untuk bertoleransi, sedangkan toleransi adalah hasil (outcome) dari pelaksanaan moderasi.

Seringkali terdapat perbedaan dalam beragama di suatu tempat. Salah satunya di Kabupaten Pasuruan terdapat dua agama yang berbeda dalam satu desa yakni Dusun Ngaruh, Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur. Mayoritas agama yang dipeluk oleh masyarakat Ngaruh adalah Hindu dan Islam. Meskipun terdapat perbedaan dalam beragama tak menghalangi masyarakat setempat dalam melaksanakan kewajiban beribadah. Perbedaan dua agama tersebut tampak dari cara berpakaian masing-masing agama ketika melaksanakan ibadah dan penggunaan gelang ditangan yang dipakai oleh umat Hindu. Perbedaan agama tak menghalangi dusun ini menjadi dusun yang tidak harmonis. Ngaruh merupakan dusun yang dikenal sangat harmonis dan tentram. Karena dalam prinsip utama dalam hidup mereka adalah rasa toleransi, tingginya rasa toleransi yang dimiliki oleh masyarakat Ngaruh menjadi keunggulan dan kekaguman bagi setiap pendatang. Selain itu, dalam setiap kegiatan masyarakat Ngaruh selalu bergotong-royong tidak pernah membeda-bedakan antar pemeluk agama. Bahkan ketika terdapat kegiatan rutin umat islam masyarakat yang beragama hindu tidak pernah membuat ricuh, akan tetapi ikut serta untuk mensukseskan acara tersebut. Sebaliknya jika terdapat kegiatan dari umat hindu masyarakat yang beragama islam juga turut serta mensukseskan acara tersebut.


Toleransi beragama bukan untuk saling melebur keyakinan, akan tetapi toleransi adalah sikap yang saling menghormati dan menghargai perbedaan. Moderasi beragama merupakan hal utama dalam mewujudkan keharmonisan berbangsa dan beragama dengan bersikap yang netral atau tidak berlebihan dan tidak mudah mengklaim seseorang maupun kelompok. Moderasi beragama juga dapat dikatakan sebagai sikap kerukunan antar umat beragama, yang merupakan sikap hidup damai, saling menghormati, dan saling memberikan kebebasan dalam menjalankan ajaran agama menurut kepercayaan masing-masing.

Penulis : Afifah Dwi Lestari – Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Tu próxima aventura te espera en islas maldivas. Bath body & home – sensational bathrooms.