JEMBER– Pemilihan Umum raya (PEMIRA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember yang merupakan kegiatan pendidikan demokrasi untuk mahasiswa kini menjadi kontroversi. Pasalnya kegiatan ini berakhir pada problematika dimana mahasiswa banyak merasa dirugikan oleh tindakan banyak oknum dosen FEB UNEJ. Kegiatan pemilihan BEM di FEB UNEJ yang diselenggarakan pada 28 Desember kemarin disinyalir terdapat tindakan intervensi yang ddilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif. Pada hari pemilihan banyak mahasiswa mengaku dihubungi beberapa oknum dosen melalui group whatsapp maupun ditelpon secara langsung dan diinstruksikan untuk memilih salah satu pasangan calon. Bahkan lebih mengkagetkan lagi pada beberapa jam sebelum penutupan masa e-voting tersebar pesan suara whatsapp yang diduga merupakan suara dari Dekan FEB UNEJ. “Assalamualaikum, dek * ada pemilihan BEM di FEB, S2 bisa memilih, tolong teman-teman mu bisa ikut memilih ya untuk memilih paslon 01 nasionalis dan komunikasinya bagus dengan FEB dan kinerjanya bagus. Tolong ya” isi pesan suara yang tersebar.
Hal tersebut sangat disayangkan oleh banyak mahasiswa dikarenakan pesta demokrasi yang berjalan telah mendapat tekanan dan intervensi. Banyak mahasiswa yang mengaku bingung harus bagaimana menyikapi bagaimana sedangkan mahasiswa juga khawatir jika ketahuan pilihannya berbeda dan mereka akan mendapat sanksi. Pada akhirnya bayak mahasiswa kemudian memberanikan diri untuk meluruskan hal yang tiddak dibenarkan ini dengan membentuk Aliansi Penyelamat Demokrasi. Aliansi mahasiswa ini telah mengirimkan surat tuntutan kepada Dekan FEB Unej untuk dapat melakukan klarifikasi dan audensi serta menajamin tidak adanya dampak berkelanjutan pada proses pemilu mahasiswa yang telah menuai kontroversi ini. Langkah ini dilakukan aliansi mahasiswa lantaran simpati kepada banyak mahasiswa yang merasa terancam dan tidak mendapat jaminan perlindungan atas intervensi yang dilakukan oleh oknum-oknum pejabat fakultas. “kami hanya ingin menegakkan demokrasi dikampus tercinta saya ini, kampus yang menjujung tinggi karakter Pancasila, kami prihatin ke teman-teman dan adik-adik tingkat yang belum mendapatkan rasa aman dan nyaman atas kejadian di PEMIRA” sebut RR mahasiswa aliansi.
Sayangnya surat tuntutan yang dilayangkan pada 31 Desember lalu tidak mendapatkan respond an tanggapan dari pihak terkait. “saya heran kenapa surat kami tidak ditanggapi, padahal yang kami lakukan adalah untuk kebakan lembaga” tutur GF mahasiswa aliansi APD. Selanjutnya aliansi mahasiswa ini juga menegaskan bahwa akan meminta Rektor untuk turun tangan. “kami akan surati Bapak Rektor untuk mau membuka ruang audiensi dan menyelesaikan problematika ini” ungkap mahasiswa.


