Perjalanan spritual orang sepertiku

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika

Probolinggo.HarianJatim.Com- Entahlah, saya disebut orang yang anti ziarah atau orang yang anti tahlilan. Itu hanya guyon semata. Buktinya, saya suka mengunjungi maqbaroh orang-orang pilihan Allah (waliyullah). Meski ini tidak cukup menjawab tuduhan-tuduhan orang terhadap saya. Paling tidak, potret itu menjadi saksi bahwa saya adalah pecinta ziarah makam-makam wali di Tanah Jawa.

Berziarah, sebenarnya bukan hanya sekadar membaca Yasin, tahlil, dan berdoa, tapi mempelajari manaqib para wali untuk bisa diteladani dengan sempurna.

Sama halnya dengan orang yang berkunjung ke makam Nabi Muhammad di Madinah. Tidak sekadar ingin melihat maqbaroh beliau, namun lebih dari itu, agar tertanam rasa cinta yang mendalam untuk mengikuti ajarannya.

Berziarah tak bisa dipahami sebagai ritual belaka. Tapi ada ilmu yang harus didapat, yaitu menjadikan orang yang diziarahi sebagai spirit dalam berdakwah terkait keagamaan, pendidikan, sosial ekonomi, dan politik.

Mengapa Nabi pernah melarang orang berziarah ke kuburan? Sebab ada kelemahan iman dan tauhid bagi peziarahnya, kala itu. Di mana emosi keagamaan mengalahkan cinta keagamaan, begitulah tutur Prof. Quraisy Shihab. Mendatangi maqbaroh para wali dengan setumpuk kemaksiatan, bahkan mungkin tak bisa memisahkan perilaku syirik dengan ibadah yang murni. Ini menjadi problematika yang sangat meresahkan bagi umat yang benar-benar membaca tauhid seutuhnya.

Ah, tidak usah terlalu panjang membahas persoalan ini. Lebih baik, mari menjadi Muslim kaffah sesuai dengan keinginan Alqur’an. “Masuklah Islam secara kaffah”. Ayat ini mengajak kita untuk berfikir Islami secara totalitas, bertauhid secara komprehensif, beramal dengan tulus. Tak bisa menyebut dirinya sebagai Muslim, tapi pikiran dan keyakinannya jauh dari ajaran Islam. Ah.. kok serius lagi ini.

Mengambil berkah melalui waliyullah adalah sesuatu yang tak patut dipersoalkan. Bahkan itu sebuah keharusan. Jika kita tak mampu menjadi manusia yang utuh, baik mental maupun spritual, serta keilmuannya.

Singkatnya, mengaji di dekat maqbaroh orang alim sangat menentramkan hati, melunakkan pikiran, dan memperkuat dzikir. Lebih-lebih orang sepertiku yang memiliki keimanan dan keilmuan bagai sebutir debu.

Ponirin Mika| Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton Probolinggo dan Anggota Community of Critical Sosial Research Probolinggo.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Punta cana escapadas por el mundo. Earn money recurring online by referring others — completely free and simple to use on websites and social media. kontakt proffound fistival.