Oleh: Ponirin Mika*
Probolinggo.HarianJatim.Com- Sebut saja Faizal, siswa kelas XI tingkal SLTA di salah satu lembaga pendidikan, mengeluh lingkungan sekolah yang ia nilai tidak menyenangkan. Saya bertanya padanya, “Nak Faizal, dengan instrumen apa nanda melakukan penilaian, sehingga menyimpulkan seperti itu?”
Ia menjawab dan melanjutkan keluhannya. “Pak semenjak saya menjadi siswa di sekolah ini, motivasi belajar saya menurun. Dulu waktu saya berada di bangku SLTP, semangat belajar saya sangat tinggi. Entah apa yang salah pada diri saya. Namun ada yang saya temukan Pak. Kebanyakan guru yang mengajar di sekolah tak mampu membangkitkan semangat murid-muridnya, ia lebih senang menyampaikan materi tanpa memperhatikan kondisi kelas. Ia terlihat lebih unjuk kepintaran daripada menjadikan suasana kelas lebih menarik dan aktif. Ia pula menjadi raja yang tak menyukai dialog yang kritis dan produktif. Rasanya suasana di dalam kelas laksana kuburan yang mengerikan.”
Mendengar penjelasan itu, saya merenung, sehingga muncul asumsi bahwa perubahan kurikulum nasional mungkin terlalu cepat. Salah satunya dengan momotret kenyataan yang dialami oleh murid di sekolah itu. Memang problem yang dihadapi oleh dunia pendidikan hingga saat ini adalah tidak menemukannya konsep ideal. Realita ini yang menyebabkan konsep pendidikan yang ada tidak pernah berlaku secara konprehensif.
Dalam dunia Pendidikan atau lebih khusus sekolah, seorang guru merupakan sosok penting. Bukan berarti dari unsur pendidikan lainnya tidak dibutuhkan. Hanya saja adanya guru yang memiliki kecakapan menjadi kebutuhan yang tak terbantahkan.
Seorang guru bukan sekadar masuk kelas dan menyampaikan materi pelajaran. Tapi seorang guru harus mampu membangkitkan semangat belajar murid-muridnya agar ia sadar bahwa pendidikan adalah kebutuhan dalam hidupnya. Guru tidak tepat jika berposisi sebagai musuh terhadap murid-muridnya. Ia tidak hanya sebagai guru, melainkan sebagai orang tua di kelas dengan segala risikonya. Oleh sebab itu, seorang guru dituntut memiliki konpetensi pedagogik agar mampu menjadi guru yang ditunggu kehadirannya.
Membangkitkan semangat murid untuk senang belajar melebihi dari sekadar menyampaikan materi pelajaran belaka. Jika ada guru semacam itu, ia tidak ada ubahnya sebagai penggembala kambing. Guru adalah manusia istimewa yang harus melahirkan manusia yang istimewa pula.
Hilangnya motivasi seorang guru menjadi pendidik, pengayom dan orang tua bagi murid-muridnya mengantarkan pada raibnya semangat belajar murid. Kalau itu yang terjadi dunia pendidikan akan suram, bahkan akan menjadi institusi yang menakutkan, lebih menakutkan dari penjara.
*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton Probolinggo dan Anggota Community of Critical Sosial Research Paiton.


