PENDAHULUAN
Gempuran era digitalisasi dewasa ini menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia, salah satunya yakni dari aspek pendidikan. Era digital yang menawarkan segala bentuk kemudahan, nyatanya masih belum bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih relatif kurang daripada negara lainnya (Anisa, Ipungkarti, & Saffanah, 2021: 1). Salah satu penyebabnya yaitu kurangnya literasi dan daya berpikir yang kritis (critical thinking) pada masyarakat, khususnya pelajar.
Bukan hanya kemampuan baca-tulis, makna literasi adalah ketrampilan seseorang dalam mengelola informasi dan wawasan untuk meningkatkan kualitas hidup (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016). Sejalan dengan itu, Kirsch dan Jungeblut (dalam Irianto & Febrianti, 2017: 641) mendeskripsikan literasi sebagai kecakapan seseorang dalam menggunakan informasi dengan tujuan mengoptimalkan wawasan ilmu sehingga dapat merasakan manfaatnya. Dengan literasi, seorang literat yang dibutuhkan bangsa akan tercipta sehingga diharapkan mampu membuat Indonesia keluar dari era kemunduran bahkan mampu bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lainnya.
Pada kenyataannya, menanamkan budaya literasi di Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hasil survei yang digagas oleh UNESCO membuktikan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001%. Artinya, hanya terdapat satu orang saja yang berminat literasi dalam 1000 orang. Hal itu berarti di antara 250juta jumlah masyarakat di Indonesia, hanya 250ribu jiwa yang mempunyai minat literasi. Hasil survei tersebut semakin menunjukkan ketimpangan apabila dipadankan dengan penduduk Amerika Serikat yang memiliki kebiasaan membaca sebanyak 10-20 buku per tahun dan juga peduduk Jepang yang memiliki kebiasaan untuk membaca 10-15 buku dalam setahun (Herfanda, 2018: 2).
Kenyataannya, tingkat minat baca siswa di Indonesia hanya menduduki posisi ke-57 dari 65 negara. Sementara budaya literasi di Indonesia berkedudukan pada ranking 64 dari 65 negara yang disurvei (Permatasari, 2015: 147). Tidak hanya itu, pada Maret 2016, Central Connection State University (CCSU) melakukan penelitian World’s Most Literate Nations Rangked yang menghasilkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-60 sebagai negara berkategori literasi rendah dari total sejumlah 61 negara. Sedangkan, dari aspek infrastruktur pendukung untuk membaca, ranking Indonesia melampaui negara-negara Eropa, lebih tepatnya berkedudukan di ranking 34 lebih tinggi dibandingkan Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan kajian permasalahan terkait budaya literasi masyarakat Indonesia yang masih kurang di era digital ini. Dalam membangun bangsa yang berkualitas, budaya literasi memiliki peranan yang fundamental untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas. Oleh karena itu, dengan mengetahui faktor-faktor penyebab rendahnya budaya literasi diharapkan mampu mengetahui solusi dari permasalahan tersebut. Mahasiswa sebagai agent of change juga diharapkan dapat meningkatkan budaya literasi yang menjadi penentu kualitas bangsa Indonesia.
PEMBAHASAN
Budaya Literasi sebagai Penentu Kualitas Bangsa
Suatu bangsa yang berkualitas, di dalamnya pasti terdapat masyarakat yang intelektual dan berpengetahuan luas. Sementara itu, intelektualitas masing-masing individu diwujudkan dari seberapa banyak wawsan pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan wawasan tersebut dipengaruhi oleh informasi yang ditemukan, baik secara tuturan maupun tulisan. Dengan demikian, semakin tingginya peradaban suatu bangsa maka semakin banyak pula penduduk yang antusias dalam meningkatkan wawasannya (Permatasari, 2015: 147).
Umumnya, budaya suatu bangsa berkaitan erat dengan budaya literasi. Budaya baca yang dihasilkan dari temuan-temuan kaum cendekia mempengaruhi faktor kebudayaan dan peradaban. Hasil temuan tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan yang menjadikan warisan literasi bermanfaat bagi dinamika kehidupan sosial. Oleh karena itu, bisa dipastikan bahwa budaya literasi memiliki peranan penting dalam melahirkan bangsa yang berkualitas melalui masyarakat yang intelek.
International Education Achievement (IEA) meneliti 31 negara di Asia, Afrika, Eropa, dam Amerika pada tahun 2022, hasilnya memperlihatkan bahwa kualitas baca anak-anak di Indonesia masih rendah dimana Indonesia menduduki peringkat dua terbawah. Hal tersebut relevan dengan temuan yang dihasilkan UNDP pada tahun 2005 bahwa tingkat kualitas sumber daya manusia (Human Development Index/HDI) di Indonesia hanya menduduki posisi ke-117 dari total sejumlah 175 negara (Permatasari, 2015: 153). Sayangnya, masih belum banyak yang mengkritisi dan mendiskusikan lebih jauh mengenai fenomena tersebut.
Data dan fakta di atas memperlihatkan bahwa masih kurang mumpuninya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Keadaan tersebut diperburuk lagi dengan budaya tutur (lisan) yang mendominasi budaya literasi. Akibatnya, masyarakat Indonesia memiliki kendala dalam mengoptimalksan diri dan meningkatkan wawasannya secara mandiri melalui literasi. Rendahnya minat literasi tersebut mampu menghambat kemampuan masyarakat dalam menjajaki perkembangan teknologi informasi di dunia. Permasalahan tersebut akhirnya berdampak pada semakin tertinggalnya bangsa Indonesia dari negara lainnya. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat perlu menumbuhkan minat literasi sejak usia dini, terutama kepada generasi yang kelak akan melanjutkan peradaban bangsa ini, sehingga diharapkan bangsa Indonesia dapat mencapai kemajuan seperti yang didapatkan dari negara-negara lainnya.
Faktor Penyebab Rendahnya Budaya Literasi Masyarakat Indonesia
Terdapat berbagai faktor yang diperkirakan menjadi penyebab budaya literasi pada masyarakat yang rendah. Salah satu faktor utama yang paling mendasar adalah masyarakat Indonesia yang belum memiliki kebiasaan membaca. Menurut Permatasari (2015: 148), kebanyakan masyarakat masih memandang aktivitas membaca bukan secara sukarela untuk mengisi waktu (to full time), tetapi hanya sekadar untuk menghabiskan waktu (to kill time). Artinya, kegiatan membaca masih belum ditumbuhkan sebagai kebiasaan (habit) tetapi hanya sebagai kegiatan ‘iseng’ semata. Padahal, membangun masyarakat membaca (reading society) merupakan salah satu cara yang dijalankan untuk mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia sehingga cerdas beradaptasi atas kemajuan tingkat universal yang melibatkan seluruh sektor kehidupan manusia
Beberapa faktor lain yang menyebabkan budaya literasi pada masyarakat Indonesia masih rendah adalah pertama, penggunaan teknologi informasi elektronik yang lebih canggih sehingga buku tidak lagi menjadi media utama untuk mendapatkan informasi yang diharapkan. Menurut Zati (2018: 19) dengan adanya teknologi informasi, seperti mesin pencari Google, Yahoo, dll semakin membuat manusia melupakan keberadaan buku. Situs mesin pencari daring tersebut dianggap lebih mudah dan praktis sehingga melunturkan minat literasi masyarakat dan beralih menggunakan teknologi yang serba instan dan cepat.
Kedua, sarana dan prasarana pendidikan yang belum merata. Faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi yang lainnya adalah infrastruktur yang tersedia kurang mencukupi untuk mendukung kegiatan literasi. Terbatasnya sarana dan prasarana untuk kegiatan literasi, seperti perpustakaan yang belum sesuai standar dan kurangnya variasi buku-buku bacaan dapat menjadi penyebab kurangnnya minat literasi pada pelajar. Sarana dan prasarana ini merupakan komponen pendukung pendidikan yang penting bagi keberlangsungan proses pembelajaran. Sayangnya, tidak seluruh sekolah di Indonesia mempunya infrastruktur dan fasilitas yang bisa mengoptimalkan kegiatan literasi.
Ketiga, perkembangan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dari pemerintah yang masih belum sesuai dari harapan. Sebagaimana diketahui bahwa kebijakan terkait dengan budaya literasi telah diupayakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, Gerakan Literasi Sekolah telah disebarluaskan kepada seluruh sekolah di Indonesia yang terdiri dari 3 proses yaitu: 1) penumbuhan minat baca, 2) meningkatkan kemampuan literasi buku pengayaan, dan 3) meningkatkan kemampuan literasi buku pelajaran (Kemdikbud, 2016). Sayangnya, menurut penelitian yang digarap oleh Krismanto (2017: 185) menyatakan bahwa hanya sebanyak 33% yang rutin mengaplikasikan kegiatan GLS sesuai dengan panduannya dari total 24 Sekolah Dasar yang diteliti di suatu kota. Bahkan, terdapat sejumlah 33% sekolah lainnya yang belum pernah mengimplementasikan kegiatan GLS sesuai panduan dan sisanya tidak konsisten dalam mempraktikkannya.
Keempat, kemampuan daya beli masyarakat terhadap buku yang belum menyeluruh. Bagi sebagian masyarakat, buku masih dipatok harga yang relatif cukup mahal, khususnya bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah. Apalagi pada masa kini, banyak masyarakat yang merasakan kesulitan ekonomi pasca pandemi sehingga buku bukanlah menjadi suatu kebutuhan. Terlebih dengan harga buku yang tidak sebanding dengan kebutuhan pokok membuat sebagian masyarakat marasa berat hati untuk menyisihkan uang untuk membeli buku. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila buku masih dianggap sebagai ‘barang mewah’ bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Peran Mahasiswa dalam Meningkatkan Budaya Literasi Masyarakat Indonesia
Sehubungan dengan budaya literasi, mahasiswa dituntut untuk lebih aktif memberikan kontribusi nyata mengenai permasalahan yang terjadi dewasa ini. Sebagai agent of change, mahasiswa diharapkan mampu membuat perubahan di lingkungan sekitarnya, khususnya dalam meningkatkan literasi. Mahasiswa sebagai kaum akademis dengan intelektual yang tinggi seharusnya mampu memberikan ide-ide inovatif dan kreatif yang nantinya menjadi solusi untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa.
Menurut Syahriyani (dalam Firdaus & Sukiman, 2020: 105), peranan mahasiswa dalam publikasi ilmiah sangat dibutuhkan dalam menciptakan pembaharuan suatu bangsa. Publikasi ilmiah juga bisa dilakukan sebagai salah satu upaya mahasiswa dalam meningkatkan budaya literasi. Publikasi ilmiah membutuhkan tingkat literasi yang tinggi agar mahasiswa mampu menuangkan ide-ide kreatif dan gagasan intelektualnya yang disajikan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Dengan publikasi ilmiah, mahasiswa dapat memberikan referensi dan bahan rujukan yang bermanfaat untuk generasi selanjutnya.
Upaya lain yang bisa dilakukan mahasiswa dalam meningkatkan literasi di lingkungan sekitar adalah dengan menyediakan “pojok literasi” di halaman rumah. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan memfasilitasi buku-buku bacaan gratis di lingkungan sekitar rumah. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengajarkan materi-materi pelajaran sekolah dalam kegiatan “pojok literasi”. Kegiatan ini dapat dilakukan di sore hari atau akhir pekan. Target dalam tujuan tersebut adalah masyarakat umum, khususnya anak-anak yang masih dalam tahap tumbung kembang. Tujuan dari dibentuknya kegiatan tersebut adalah mengembangkan ketrampilan berbahasa dan menciptakan kebiasaan literasi. Melalui proses pembelajaran di pojok literasi ini dapat diharapkan mampu meningkatkan kebiasaan masyarakat dalam berliterasi, khususnya literasi baca.
Kemudian, mahasiswa juga dapat kerkontribusi dengan menyebarkan pentingnya literasi di masa kini melalui media sosial. Mahasiswa yang telah bergabung dengan organisasi intra maupun ekstra kampus bisa menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat untuk lebih mempromosikan gerakan literasi, tidak hanya baca tulis tetapi juga literasi digital. Canggihnya teknologi seharusnya bukan menjadi halangan untuk mengejar ketertinggalan, tetapi justru bisa menjadi kesempatan agar masyarakat Indonesia bisa lebih melek literasi. Dengan demikian, literasi di kalangan masyarakat tidak hanya berbau konvensional, tetapi bisa memanfaatkan basis digital.
PENUTUP
Budaya literasi masih menjadi permasalahan bangsa Indonesia di era digitalisasi saat ini. Berikut beberapa alasan yang diperkirakan menjadi pemicu kurangnya tingkat budaya literasi masyarakat, yaitu (1) belum dibangunnya kebiasaan membaca oleh masyarakat Indonesia, (2) penggunaan teknologi informasi elektronik yang lebih canggih sehingga tidak lagi mengutamakan buku, (3) sarana dan prasarana pendidikan yang belum merata, (4) perkembangan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang masih belum sesuai dari harapan, dan (5) kemampuan daya beli masyarakat terhadap buku yang belum menyeluruh.
Tingkat literasi masyarakat yang rendah seharusnya menjadi tantangan kita bersama untuk mengupayakan solusi yang terbaik. Untuk dapat memperbaikinya, bisa dimulai dari kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menumbuhkan budaya literasi mulai sejak usia dini. Dengan demikian, aktivitas literasi diharapakan akan menjadi kebiasaan untuk mengisi waktu, bukan lagi hanya sekadar untuk menghabiskan waktu. Mulai sekarang masyarakat harus memperkenalkan kegiatan literasi sejak kepada generasi penerus mulai sejak dini sehingga minat literasi bisa terbentuk sedari kecil.
Mahasiswa sebagai agen perubahan juga diharapkan mampu untuk ikutserta membuat perubahan di lingkungan sekitarnya, khususnya dalam meningkatkan literasi. Ide-ide inovatif dan kreatif mahasiswa bisa menjadi solusi untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, mahasiswa dapat menyebarluaskan pentingnya penguasaan literasi untuk menciptakan pendidikan di Indonesia yang lebih berkualitas sehingga mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. Sebelum itu, tentunya mahasiswa juga harus menjadi seorang literat dengan menyajikan publikasi ilmiah yang nantinya akan bermanfaat sebagai referensi dan bahan rujukan generasi selanjutnya.
Oleh: Dinasty Prameswari, jurusan Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Malang


