Surabaya – harianjatim.com Perhelatan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) atau Lomba Baca Kitab yang di selenggarakan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Propinsi Jawa Timur (Jatim) menimbulkan polemik.
Hal tersebut usai kabar soal para pemenang yang hanya menerima sertifikat atau piagam penghargaan.
Sontak hal tersebut tuai berbagai respon kekecewaan dari sejumlah pihak.
Diberitakan sebelumnya, para peserta yang meraih gelar juara hanya membawa pulang map yang berisi piagam penghargaan alih-alih langsung membawa piala dan juga uang pembinaan.
Diketahui, kegiatan lomba MQK yang berlangsung di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto selama 4 hari berturut-turut (5-8/06/2023) dan diikuti oleh 1.148 santri dari seluruh Jawa Timur tuai beragam reaksi.
Salah satu yang merespon dengan kekecewaan salah satunya diungkapkan oleh Ketua Harian Nusa Bangsa Indonesia (NBI) Holding, Sugiharto.
Dalam keterangannya, ia mengaku kecewa terhadap perhelatan MQK ini dirasa sangat mengecewakan pasalnya para juara terutama untuk juara peringkat 1, 2 dan 3 tidak diberikan penghargaan yang layak sebagai bentuk penghormatan.
Sebab menurutnya, MQK merupakan gelaran prestisius bagi santri dan pesantren.
“Tidak habis pikir para juara hanya dikasih map atau piagam saja. Sehingga, Kemenag Kanwil Jatim tidak hanya gara-gara anggaran kemudian hanya diapresiasi seperti itu kepada para juara,” ungkapnya kepada media ini, Sabtu (10/06).
Pria yang akrab disapa Totok ini menuturkan, bahwa panitia tidak serius dan tidak profesional dalam mempersiapkan acara besar dan sangat mulia tersebut yang seharusnya kejadian itu tidak perlu terjadi.
“Kami berharap Kinerja Kemenag ini dievaluasi oleh Komisi VIII DPR RI. Kasihan para santri yang juara pulang dengan tangan hampa,” tandasnya.
Meski sebenarnya, lanjut Totok, para santri yang juara tidak mengharapkan itu, akan tetapi bentuk penghargaan serta sebagai motivasi harus diberikan secara langsung oleh Kemenag.
“Masak ada hadiah diserahkan ke daerah masing-masing. Namanya hadiah itu ya harusnya diterima di atas panggung oleh para juara. Kalau tidak siap ya jangan ngadakan acara,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan, bahwa Jatim akan jadi tuan rumah pada pelaksanaan MQK Nasional.
Untuk itu, pihaknya juga berharap Presiden RI, Joko Widodo menegur kinerja Menteri Agama beserta jajarannya.
“Kalau yang level Jatim saja tidak becus, bagaimana nanti kalau level nasional. Ini masalah serius. Kemenag harus peka, apalagi Menterinya dari kalangan santri,” bebernya.
Dalam keterangan lain, Ketua Panitia MQK tahun 2023, Mohammad As’adul Anam menyampaikan, bahwa terkait penghargaan kepada santri belum diberikan karena memang waktu yang tidak memungkinkan, serta anggaran yang belum cair.
“Saat penutupan sudah disampaikan MC, pemberian piagam dan lainnya akan diberikan melalui Kasi PD Pontren Kabupaten/Kota untuk didistribusikan ke para juara,” ungkap As’adul Anam, sebagaimana ditulis NU Online Jatim. Jumat, (09/06/2023).
Pria yang juga Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur itu menambahkan, untuk sementara yang diberikan adalah piagam dari beberapa majelis.
Pasalnya, saat penutupan baru 6 majelis dan selebihnya akan diberikan kepada Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten/Kota untuk disampaikan kepada para juara beserta dengan uang pembinaan.
“Jadi tidak benar kalau tidak ada penghargaan tapi memang belum tersampaikan kepada para santri. Itu dikarenakan waktu menunjukkan pukul 00.25 sehingga tidak memungkinkan untuk diberikan semua,” tukasnya.
Diketahui, kegiatan yang melibatkan 90 dewan juri, 30 panitera dan ratusan panitia tersebut telah menghasilkan para juara yang akan menjadi kafilah Jawa Timur pada ajang MQK Nasional ke-7 di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan bulan Juli 2023 mendatang.


