Disrupsi Informasi dan Teknologi Bisa Mengancam Persatuan

  • Bagikan

harianjatim.com-Bojonegoro.Dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya untuk terus membumikan nilai-nilai 4 Pilar MPR RI, Anggota DPR/ MPR RI Dr. Didik Mukrianto, SH., MH menggelar kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di daerah pemilihannya Jawa Timur IX (Tuban-Bojonegoro) yang digelar di Bojonegoro, Rabu (28/06/2023).

Kegiatan ini dihadiri oleh segenap perwakilan elemen masyarakat, tokoh masyarakat dan mahasiswa di sekitar Bojonegoro.

Menurut Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna ini, kegiatan ini diadakan untuk terus memasyarakatkan dan membumikan nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam 4 Pilar MPR RI sebagai filter penting dari bahaya disrupi informasi dan tehnologi khususnya media sosial.

“Masifnya penggunaan internet selain memberikan nilai positif, juga membawa ekses negatif yang cukup berbahaya. Bisa berpotensi menebar kedengkian, kebencian, fitnah, hoax yang bisa mengadu domba dan memecah belah bangsa. Fakta dan fiksi sukar dipilah, bermaksud menyebar kebenaran, justru menebar kebohongan,” terang Didik dalam paparannya.

Didik menerangkan bahwa saat ini minimal 160 juta orang Indonesia mengakses media sosial melalui smart phone. Dalam dunia maya, kebenaran dan kebohongan sukar dibedakan. Didik juga mengatakan bahwa saat ini adalah era dimana media sosial bisa menjadi disrupsi dalam kehidungan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

“Mengingat begitu besarnya potensi damage yang bisa ditimbulkan, maka perlu kearifan dan kebijaksanaan dalam menyikapinya. Membumikan dan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam 4 Pilar MPR RI di tengah-tengah masyarakat, Insha Allah akan menjadi filter dan tameng kuat menghadapi segala bentuk provokasi dan degradasi akibat berbagai macam disrupi,” ujar Didik

Pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate yang belajar silat sejak kelas 5 sekolah dasar ini mengingatkan masyarakat berhati-hati dan bijak dalam mengakses media sosial. Ada algoritma besar yang bisa mengambil peran memecah belah persatuan.

“Mereka adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang sengaja menciptakan misleading atau penyesatan informasi. Disinformasi yang mereka tuju agar terjadi kekacauan. Jika tidak hati-hati, kita akan masuk dalam trap atau jebakan perpecahan yang didesign mereka,” terangnya.

Untuk itu Didik berharap agar kedepan literasi digital harus menjadi bagian pendidikan masyarakat. Literasi digital juga harus diperkuat dengan muatan nasionalisme, idealisme dan juga pembumian nilai-nilai 4 Pilar MPR RI.

“Indonesia punya program smart city. Smart City idealnya akan melahirkan smart people. Smart City tidak hanya dinilai dari seberapa banyak warga masyarakat yang memiliki smart phone, tapi juga ditentukan berapa banyak partisipasi positif masyarakat dalam mengisi ruang digital dengan hal-hal positif, mendidik yang syarat dengan nilai-nilai luhur sebagai bagian identitas bangsa,” ujar Didik.

Sementara itu, Agus Widiarto, salah satu peserta yang hadir mempunyai keresahan dan ketakutan yang sama dampak negatif dan bahaya dari disrupsi informasi dan teknologi ini, jika moral dan karakter generasi bangsanya tidak diperkuat.

“Penguatan mental, moral dan karakter generasi muda saat ini berhadapan dengan kondisi nyata disrupi informasi dan tehnologi. Satu sisi Saya menyadari pentingnya mengakses informasi, tapi di sisi lain disrupi informasi dan teknologi ini bisa membawa dampak negatif yang cukup serius untuk bangsa ini. Saya setuju dengan Mas Didik dan berharap sosialisasi 4 Pilar MPR RI seperti ini harus semakin sering dilakukan. Saya yakin akan mampu menjadi filter efektif untuk melindungi generasi bangsa ini dari bahaya disrupsi,” tutur Agus saat diminta pendapatnya dalam sesi tanya jawab.

( fa)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Vuelo directo a punta cana.