Ini Pesan Kiai Zuhri Saat Sumpah Pendidikan Profesi Ners UNUJA

  • Bagikan

Reporter: Ahmad Zainul Khofi

Probolinggo.HarianJatim.com – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo KH. Moh. Zuhri Zaini menyebutkan, dua kebutuhan dasar manusia dalam hidupnya, yaitu kebutuhan nafkah dan kesehatan.

Menurut Kiai Zuhri, adanya tenaga kesehatan di tengah-tengah masyarakat merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat.

Pasalnya, untuk menjadi manusia yang bermanfaat di lingkungan masyarakat, harus didasari oleh semangat pengabdian, semangat khidmah, dan semangat ibadah, supaya manfaat itu mengandung keberkahan. Ia pun megutip pepatah arab “khoirunnas anfauhum linnas”

Hal itu disampaikan KH. Moh. Zuhri Zaini saat memberikan tausiyah kepada 69 lulusan pendidikan profesi Ners UNUJA dan para tamu akademisi bidang kesehatan yang hadir dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Profesi Ners Fakultas Kesehatan Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo, Sabtu (01/07/23).

Demikian juga, Kiai Zuhri menjabarkan bahwa ibadah dalam konsep kita tentu bukan hanya dzikir, sholat, dan puasa, tapi segala bentuk kebaikan yang dinilai oleh Allah SWT.

“Jika kita niatkan dengan pengabdian lillahita’ala akan ada pahalanya, dan jelas akan ada barokahnya,” dawuh pengasuh ponpes dengan ribuan santri tersebut.

Sesuatu yang barokah, lanjut kiai kharismatik itu, tidak bisa dinilai dengan kalkulator. Karena jika dihitung dengan kalkulator mungkin sesuatu itu bernilai sedikit, namun ketika bernilai barokah maka sesuatu itu membawa banyak kebaikan,” imbuh beliau.

Keberkahan yang dimaksud olehnya adalah melakukan pekerjaan dalam profesi apapun dengan pengabdian yang tulus dan berniat lillahita’ala.

“Ketulusan ditandai dengan keikhlasan, dan tentu keikhlasan harus disertai dengan profesionalisme,” jelasnya.

Kiai Zuhri memaparkan, ikhlas yang dimaknai malas itu tidak benar. Bekerja dengan ikhlas dalam istilah islam adalah itqon.

“Ada santri yang badannya kekar, besar. Kebetulan kerja bakti ngangkut batu, dia hanya membawa dua batu: tangan kanan satu, kiri satu. Kemudian, ditanya oleh temannya, “kamu kok hanya bawa batu dua, padahal kamu bawa sepuluh mampu”, dia menjawab “Ini keikhlasan saya”. Ikhlas dimaknai malas (kerja seenaknya), itu tidak benar,” papar analoginya.

Pada kesempatan itu, KH. Moh. Zuhri Zaini juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kualitas diri melalui kemudahan jejaring informasi di era kemajuan teknologi.

“Peningkatan diri selain keikhlasan dalam mengabdi, juga selalu update pengetahuan melalui pencarian informasi-informasi sekalipun tidak di lembaga formal. Tapi andaikan melanjutkan studi sampai S2 itu sangat baik,” ungkap KH. Moh. Zuhri Zaini di acara yang bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Editor: Ponirin Mika

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Sei teil unseres ersten proffound treffens und schreibe geschichte !. Enter address information (edit). Viajes a punta cana.