Kewajiban Mencari Rezeki Halal

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika

Probolinggo.HarianJatim.Com– Hujjatul Islam Imam Ghazali mengajak kita agar mencari rezeki yang halal. Pentingnya mencari rezeki halal ini telah dijelaskan olehnya di dalam kitab Ihya Ulumiddin. Bahkan ada bab tersendiri di dalam kitab itu dengan menjelaskan secara komprehensif mengenai masalah halal, haram dan syubhat.

Memakan barang yang haram akan berpengaruh pada karakter seseorang. Baik dan tidaknya karakter seseorang akan ditentukan pula oleh kualitas makanan yang masuk ke perutnya. Bernilainya makanan yang di konsumsi tak hanya mengandung gizi yang bagus. Tapi jernih dari kesyubhatan dan keharamannya. Saya membaca penjelasan berkait pentingnya mencari rezeki yang halal itu dengan penuh teliti dari kata perkata, kalimat perkalimat sehingga saya memiliki kesimpulan bahwa Imam Ghazali salah satu ulama yang sangat memperhatikan terhadap kebaikan karakter seseorang.

Nabi Muhammad SAW bersabda; Mencari rezeki yang halal adalah wajib bagi setiap orang islam.

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang bekerja ingin mendapatkan uang untuk nafakah keluarga, anak dan bahkan orang-orang yang menjadi tanggungannya untuk berhati-hati dalam mencarikan harta bendanya.

Sebab jika rezeki yang di dapat itu dari jalan yang haram atau pun harta itu haram secara dzatnya, ia akan berdampak buruk pada perkembangan diri manusia menjadi insan yang baik. Makan makanan yang haram itu akan menjadi daging, dan akan menjadi energi pula, pada selanjutnya akan menyusup menjadi karakter yang tidak sejalan dengan ajaran ilahi.

Ada sabda Nabi juga yang artinya adalah; Mencari rezeki yang halal itu adalah termasuk jihad.

Andaikan ada orang yang bekerja dengan penuh kesungguhan di tempat yang halal, dan bekerja untuk mendapatkan sesuatu yang halal kemudian meninggal dunia, maka ia termasuk mati dalam keadaan syahid. Ini menggambarkan bahwa bersungguh-sungguh mencari rezeki yang halal mendapat perhatian khusus dalam ajaran agama. Kewajiban mencari rezeki yang halal itu disebandingkan dengan kewajiaban melaksanakan shalat, puasa dan bahkan naik haji ke baitullah.

Akhir-akhir ini, kehidupan kita agak sulit membedakan antara halal dan haram. Lebih-lebih bekerja di tempat yang sangat tidak memperhatikan terhadap ajaran agama. Baginya bekerja ya bekerja, agama ya agama. Paham ini berkeinginan memisahkan antara pekerjaan dunia dan akhirat. Padahal di dalam ajaran islam itu, semua perilaku seseorang di dunia akan berdampak pada kehidupan akhirat. Jikalau perilaku di dalam kehidupan dunia ini, ia mengerjakan sesuai dengan ajaran islam. Ia pun memiliki keimanan bahwa perilakunya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah.

Menjaga diri agar terhindar dari mendapatkan rezeki yang haram dan memakannya bagian yang harus diperhatikan dengan penuh kesungguhan. Jangan sampai diri kita, keluarga kita, anak-anak kita mengkonsumsi barang haram. Ini membuat cahaya (ilmu) Allah tidak mudah didapatkan. Jika cahaya Allah itu tidak ada pada diri kita. Ini sebuah kerugian besar. Naudzubillah…

*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
proffound fistival 14. Enter address information (edit). Viajes a punta cana.