Reporter: Ahmad Zainul Khofi
Probolinggo.HarianJatim.com – Bahaya radikalisme menjadi ancaman para pemuda, bahkan ditengarahi akan menyasar pada lembaga pendidikan seperti sekolah atau madrasah. Jika semua guru dan para pengelola pendidikan tidak mewaspadainya, ini akan menjadi ancama serius. Inilah yang memotivasi Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat (Lakpesdam) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Paiton mengadakan safari ke sekolah dan madrasah dengan kegiatan Lakpesdam Goes to School bertajuk “Pengenalan Islam Wasathiyah”.
Ponirin Mika menyampaikan, pelaksanaan kegiatan ini tengah memasuki tahun ke 2 sejak awal diadakan pada tahun 2021. Tuturnya, kegiatan ini tak lepas dari tujuan serempak menyongsong kesuksesan roadmap program Kementerian Agama RI dalam rangka penguatan Islam Wasathiyah di masyarakat.
“Program ini terus digencarkan, bahkan ditargetkan pada tahun 2024 Indonesia mendapatkan apresiasi sebagai negara berprespektif moderasi beragama dari berbagai capaian indeks kerukunan antar beragama. Hal ini perlu disokong,” tegas Ketua Lakpesdam dua periode ini.
Dalam perjalanannya, ia melanjutkan, mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari siswa berkait dengan paham keagamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
“Ada siswa yang mengkritik tentang adanya maulid nabi, ziarah kubur merupakan perbuatan syirik, dan banyak kegiatan keagamaan yang telah membudaya di tengah-tengah masyarakat mulai di bid’ah-bid’ahkan bahkan disyirikkan,” ungkapnya.
Hal itu, katanya, memberikan dorongan agar Lakpesdam tidak hanya mengadakan kegiatan seremonial yang tidak menyentuh kondisi masyarakat akar rumput.
“Kali ini kita telah memulai kembali kegiatan Lakpesdam Goes to School. Perdana di MTs Azzainiyah 1 dan sekarang di Pondok Pesantren Darul Hikmah,” imbuhnya usai mengisi acara di Ponpes Darul Hikmah Randutatah, Ahad (03/09/23).
Dalam pemaparannya, Ponirin mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah sebagai potret manusia yang ideal. Nabi terakhir ini, ungkapnya, dalam melaksanakan ajaran agama tidak berlebihan. Ia pun menyampaikan sebuah cerita tentang sabahat yang datang kepada nabi dan menyampaikan bahwa dirinya telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Ia berpuasa tanpa berbuka, dan tidak kawin dengan alasan takut mengganggu ibadahnya.
“Nabi mengatakan, aku ini adalah manusia yang terbaik. Tapi aku makan, tidur dan kawin. Kisah itu merepresentasikan posisi islam berada pada golongan ekstrem kanan, dan wasathiyah yang kita pelajari sebagaimana yang dicontohkan nabi, membelah jalur tengah aqidah diantara islam garis kanan dan garis kiri,” jelasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah Kiai Maryo menyambut baik pelaksanaan kegiatan Lakpesdam MWCNU Paiton di pesantrennya ini. Menurutnya, keberadaan lingkungan sekitar pesantren yang diasuhnya telah merasakan banyak keragaman golongan dalam islam yang bisa berimplikasi pada terpecahnya peradaban.
“Sudah saatnya kader-kader NU melebur pada masyarakat, menjadi tameng dan pahlawan di level akar rakyat dari guncangan beragam golongan yang berusaha mendiskreditkan kesucian islam,” pungkasnya.
Editor: Ponirin Mika


