Kesadaran Berorganisasi; Memiliki Etos Kerja dan Membuang Ego

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika

HarianJatim.Com-Manusia adalah makhluk unik. Ia diciptakan oleh Tuhan dengan memiliki talenta yang luar biasa. Kemampuannya ini merupakan pembeda antara makhluk manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Dalam rangka untuk mempertahankan keunggulan itu, manusia harus memiliki etos kerja Islami dan membuang ego. Sebab, keduanya merupakan kunci utama seseorang dalam menjaga dan mempertahankan keunggulan tersebut.

Sebagai khalifah di muka bumi, merupakan sebuah keniscayaan bagi diri seorang manusia untuk dapat menjadi pemimpin yang baik (khalifah), sesuai dengan maksud Tuhan menciptakan manusia dan menempatkannya di planet bumi. Bukan sebuah kebetulan Tuhan menciptakan manusia dan menjadikan bumi sebagai tempat yang ideal. Ini adalah skenario Tuhan yang paling besar dan tidak bisa ditandingi oleh makhluk meskipun sejagad pun. Manusia dijadikannya sebagai khalifah karena memiliki keunggulan dan multitalenta. Malaikat tidak akan bisa bila Tuhan memberikan mandat khalifah di muka bumi. Ia tidak akan selincah dan sehebat manusia dalam mengatur alam raya ini. Kemampuan yang di miliki malaikat tidak akan dapat bersaing dengan kecerdasan dan kelincahan manusia.

Namun manusia yang mampu mengatur, mengelola dan mengendalikan alam raya ini adalah mereka yang memiliki kesadaran organisasi. Menurut KH. Zaini Mun’im kesadaran  organisasi itu akan muncul dari orang yang memiliki kesadaran akan dirinya sebagai khalifatullah, serta mempunyai beberapa tehnical skill. Kesadaran organisasi yang termaktub dalam trilogi buah karya Kiai Zaini adalah spirit yang harus menjiwai para pemimpin di bidang apapun. Tanpa memiliki kesadaran beroganisasi itu maka setiap manusia tidak akan dapat menjaga status dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi

Ada dua faktor yang harus setia menemani bila seorang insan akan dapat menjalankan tugasnya, yaitu memiliki etos kerja Islami dan membuang ego. Etos kerja Islami itu adalah setiap pekerjaannya harus diorientasikan pada nilai-nilai ilahiyah. Tidak karena ingin di puji (riya), membanggakan diri (ujub). Tapi lebih kepada menjalankan perintah Allah dan Rasulnya. Sedangkan membuang ego adalah tidak merasa dirinya yang paling menonjol dan memiliki kecakapan di atas orang lain. Dan suka menafikan kehadiran pikiran orang lain. Sikap ego akan mendatangkan keangkuhan dan kemalasan dalam melaksanakan komunikasi organisasi. Ia menjadi single factor  dan biasanya akan menutup diri pada ide-ide positif yang diberikan orang lain. Maka dengan demikian, status kekhalifaannya akan raib di telan oleh kesombongan dan keangkuhan itu.

Seorang pemimpin harus mampu menjadi motivator, penggerak, dan innovator. Dan harus mampu menanggalkan segala kepicikan pikiran untuk mewujudkan cita-cita idealnya. Para pemimpin besar karena memiliki jiwa besar. Tak menjadikan kawan menjadi saingan dan tak menjadikan lawan sebagai musuh abadi.

*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
galerie proffound fistival. Enter address information (edit). Bienvenido a la sección dedicada a cayo santa maria :.