Reporter : Ponirin Mika
Probolinggo.HarianJatim.Com – Pada kegiatan diskusi publik yang mengangkat tajuk “Jihad Santri Untuk Islam dan Indonesia” pemantik Ahmad Sahidah, PhD menyampaikan bahwa konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel bukan konflik agama tapi soal perampasan hak. Sebelum ia memberikan pemaparannya, tanpa segan memuji penampilan sangkar Kala, Akses dan Gas Bumi. Kata Sahidah, dirinya tidak perlu menjelaskan tentang tajuk yang tertera, cukup melihat penampilan teater kita sudah mata kita terbuka soal resolusi jihad. Ini disampaikan pada, Senin (23/10/23) di halaman Madrasah Aliyah Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Menurutnya, apa yang terjadi di Palestina dan Israel mengajak kita untuk ikut berfikir dan merasa iba karena ini adalah soal kemanusiaan.
“Media itu penting untuk menyampaikan dakwah kita sebagai santri. Dakwah tidak bermakna sempit yaitu berbentuk ceramah tapi bagaimana pesan-pesan kebaikan itu bisa di terima oleh orang lain, dan itu butuh media,” tegasnya.
Mantan dosen salah satu universitas di Malaysia ini menyinggung bahwa jihad santri saat ini tidak mengangkat senjata. Namun lebih meningkatkan ilmu, wawasan dan kesenian.
“Jika santri tidak terus mempersiapkan diri dengan ilmu maka akan diperbudak oleh teknologi,” terangnya.
Selanjutnya ia berharap agar teknologi jangan dijadikan sebagai berhala yang harus disembah.
“Tahun 2030 ribuan pekerjaan manusia akan di ambil oleh mesin,” pungkasnya.
Oleh karena itu, Sahidah berharap agar kegiatan membaca, diskusi harus terus digulirkan.
“Santri jangan takut membuka pikirannya untuk menambah ilmu dan wawasan,” pintanya..


