MENCURI, SISI GELAP PERWATAKAN DAN PERBUATAN

  • Bagikan

Zaehol Fatah, M.Kom

(Kaum S3tv dan Dosen Biasa)

Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang ingin kehilangan hak milik yang ia cintai. Bila ada yang ingin kehilangan, maka dapat dikategorikan bahwa ia tidak waras atau memang mau melepaskan beban akhirat, yang diajarkan bahwa akan banyak pertanyaan di akhirat dari kepemilikan di dunia.

Di Indonesia memang tidak ada hukuman potong tangan dari pencuri. Dikutip dalam laman Databoks (Cindy Mutia Annur, 2023), pada periode Januari-April 2023, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melaporkan 137.419 kasus kejahatan di Indonesia, meningkat sebesar 30,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencurian dengan pemberatan (curat) menjadi jenis kejahatan yang paling dominan dengan 30.019 kasus. Curat, yang diatur oleh UU No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), adalah pencurian yang dilakukan dalam keadaan tertentu sehingga hukumannya lebih berat. Beberapa keadaan yang memberatkan termasuk mencuri benda suci, benda purbakala, ternak, atau barang yang menjadi sumber mata pencaharian.

Sebagai rukun iman yang menempati urut ketiga, maka iman kepada kitab Allah ﷻ memuat Al Qur’an. Rukun Iman menjadi dasar kepercayaan dalam Islam yang wajib diamalkan oleh orang yang beriman. Rukun Iman berasal dari dua kata, yaitu rukun yang artinya dasar atau pokok yang wajib dikerjakan, dan iman yang berarti yakin atau percaya.

Memandang QS. Al Maidah pada ayat 38, yang tentu menjadi bagian ruh rukun iman yang kita yakini, tentu akan ada akibat bagi pencuri yang menyusahkan pihak lain. Walupun secara fisik tidak dipotong tangannya, bila tidak tertangkap maka kausalitas hukum Allah ﷻ akan terus berjalan. Yang mencuri, korupsi atau manipulatif bisa saja dipotong kebahagiaannya, terpotong kedamaian hidupnya atau dibuat seleksi alam dengan kecelakaan sehingga dengan sendirinya tanganya akan terpotong disebabkan Allah yang maha perkasa dan maha bijaksana. Kalau ketemu mencuri akan diproses secara hukum, yang berakhir dengan penjara Tinggal suara nurani memainkan pemahaman mencuri. Namun, kalau sehat pikiran dan jiwanya, tidak akan ada seseorang yang akan melegalkan pencurian dalam kehidupan ini.

Penting merenungkan jejak-jejak kehidupan kita, dan mengenalkan sebab akibat mencuri dalam proses pendidikan. Setiap manusia membawa sisi putih dan sisi gelap. Hanya dengan paham adab dan ilmu seseorang dapat berlaku baik, dan mengendalikan watak buruknya. Adab dan ilmu yang bermanfaat akan membawa keberkahan dan kebaikan. Untuk menjadi amanah, mungkin banyak peristiwa kehidupan yang akan menjadi guru, ini lebih dahsyat dari sekedar nasihat yang kadang sering tak digubris. Alangkah baiknya, murid-murid dikenalkan kembali bahaya dan sebab akibat mencuri. Bahwa mencuri itu harus dihindari, ditiadakan dan jelas-jelas bukan jalan menuju Allah ﷻ.

Mengajarkan bahaya mencuri kepada para murid sejak dini menjadi penting dan genting untuk menyongsong hari esok yang lebih humanis dan bermanfaat. Tak lupa juga mengajari diri sendiri merupakan bentuk edukasi dua arah. Bukan hanya cerdas mengajar, tapi juga belajar melakoni kata-kata yang sering disampaikan. QS. Al Maidah : 38

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْٓا اَيْدِيَهُمَا جَزَاۤءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya :Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Pernah suatu ketika, dahulu saat di kampus, sandal kamar mandi sering hilang. Sepekan beli, hilang. Berkali-kali beli hilang. Sudah tidak ada solusi untuk membuat sandal tetap ada. Akhirnya, ada inisiatif menulis QS. Al Maidah : 38 di jalan sebelum masuk kamar mandi dengan memberikan tambahan tulisan.

“Wahai orang beriman, yang di dadanya ada Al Quran. Selama kalian muslim, dan memegang rukun iman, dan tidak kafir maka yakinilah kalau kalian tetap mencuri sandal atau ghazab, Allah pasti mengazab kalian dengan : kecelakaan atau peristiwa lain sehingga tangan kalian terpotong. Kecuali sudah tidak beriman, silahkan curi sandal di sini, dan tunggulah takdir Allah”.

Ajaib! setelah tulisan ini dipasang, sandal di kamar mandi tidak pernah hilang, sampai tipis-tipis.

Dapat dipetik hikmah, yang masuk ke kamar mandi, mungkin sebelumnya tidak tahu pesan-pesan Allah ﷻ. Tapi, saat pesan dan atensi datang, mereka juga memilih menghindar karena masih memiliki iman.

Selamat belajar sampai liang lahat, belajar itu sampai mati, tiada henti. Menua itu pasti, tapi tambah dewasa dan bijaksana bukan merupakan kepastian dalam kehidupan ini. Fastabiqul khoirot, God bless you. Allahu’alam bisshowab. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Ai blog : create content automatically and earn. Booking todo incluido ofertas al caribe.