Oleh : Sukriyanto*
Di ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, hidup dan berkembang sebuah kesenian tradisional yang masih lestari hingga kini—Hadrah. Bukan sekadar kesenian biasa, Hadrah di Sumenep telah menjelma menjadi simbol budaya yang menyatu dalam kehidupan masyarakat. Dan di balik kuatnya tradisi ini, berdiri satu nama yang tak bisa dilepaskan dari sejarahnya: Ustad Ahmad Umar Bin Ta’lab.
Beliau adalah sosok sentral yang memperkenalkan Hadrah khas Sumenep dengan gaya dan ciri unik yang membedakannya dari daerah lain. Sejak tahun 1970-an, Ustad Ahmad Umar telah menciptakan pola-pola pukulan dan lagu-lagu Hadrah yang menyentuh sisi spiritual masyarakat. Salah satu karyanya yang paling monumental adalah Vol. 1 Hadrah berjudul “Sholatu Robb”. Lagu ini menjadi titik awal yang memperkenalkan kesenian Hadrah secara luas kepada masyarakat Sumenep dan sekitarnya.
Di kalangan seniman dan pecinta Hadrah, beliau dijuluki sebagai Guru Besar Hadrah Klasik Sumenep. Julukan ini bukan sekadar penghormatan, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi dan pengaruh besar yang beliau berikan dalam dunia Hadrah Madura.
Yang menarik, karya-karya beliau tak lekang oleh zaman. Meski zaman terus berubah dan modernisasi semakin kencang, nada dan tabuhan Hadrah ciptaan Ustad Ahmad Umar tetap hidup dan diteruskan oleh generasi baru. Banyak kelompok Hadrah, termasuk genre al-Banjari, yang masih menjadikan beliau sebagai panutan utama.
Fenomena Banjari dan Dinamika Hadrah Masa Kini
Lima tahun terakhir, kesenian Hadrah mengalami perkembangan yang dinamis di Sumenep. Muncul banyak kelompok Hadrah al-Banjari dengan gaya lebih modern dan variasi pukulan yang semakin kreatif. Beberapa bahkan menggabungkan unsur musik modern seperti organ, ketipung, hingga sound system, menciptakan perpaduan antara tradisi dan tren kekinian.
Meski demikian, Hadrah klasik ala Sumenep tetap bertahan. Ciri khasnya yang kuat dan kedalaman makna spiritual dalam setiap tabuhan membuatnya terus dicintai. Bagi masyarakat Sumenep, Hadrah bukan hanya pertunjukan seni—ia adalah warisan jiwa dan identitas budaya yang hidup dalam denyut kehidupan sehari-hari.
Ajakan untuk Generasi Muda
Dalam dinamika perkembangan zaman, generasi muda Madura memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat Hadrah khas Sumenep. Jangan sampai kesenian luhur ini perlahan terkikis oleh dominasi tradisi dari wilayah lain yang mulai marak. Hadrah Sumenep bukan hanya tentang irama dan tabuhan, tapi tentang jati diri, sejarah, dan kebanggaan daerah.
Mewarisi Hadrah berarti merawat akar budaya sendiri. Sudah saatnya para pemuda dan pelajar Madura tidak hanya mengenal Hadrah, tapi juga aktif melestarikan, memainkannya, dan menghidupkannya di berbagai kesempatan. Karena sejatinya, budaya yang tidak dijaga oleh anak mudanya, akan perlahan hilang ditelan zaman.
Ustad Ahmad Umar Bin Ta’lab boleh saja telah tiada, namun Hadrah warisannya akan tetap hidup, selama masih ada generasi yang bersedia menjaganya.
*) Pemuda Desa Sekaligus Aktivis HMI
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. atau download App HarianjatimCom.


