Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo
Islam hadir bukan semata-mata sebagai agama ritual, melainkan sebagai jalan keselamatan (dīn al-salām) dan pembebasan. Dalam sejarah peradaban, kehadiran para nabi, khususnya Nabi Muhammad saw., menjadi jawaban terhadap problematika keumatan yang akut—ketimpangan sosial, kekerasan simbolik, penindasan ekonomi, dan eksploitasi struktural. Maka, menghidupkan spirit kenabian sejatinya adalah usaha menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam ruang sosial kita hari ini.
Nabi Muhammad saw. adalah penakluk kezaliman bukan dengan pedang, tapi dengan visi peradaban. Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi al-Thariq menyebutkan bahwa Islam adalah revolusi spiritual dan sosial yang mengubah sistem jahiliyah menuju masyarakat adil dan beradab. Spirit kenabian adalah energi perlawanan terhadap setiap bentuk kezaliman dan penindasan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, spirit kenabian amat relevan. Ketika suara-suara keadilan dibungkam oleh kekuatan modal, dan kebijakan publik tak lagi berpihak kepada rakyat kecil, maka umat Islam tidak cukup hanya meramaikan masjid, tetapi harus hadir di garda depan menegakkan keadilan. Sebagaimana Nabi hadir di tengah masyarakat Makkah yang timpang dan eksploitatif.
Prof. KH. Sahal Mahfudh dalam Nuansa Fiqh Sosial menggarisbawahi pentingnya etika sosial dalam Islam. Fiqih bukan sekadar hukum halal dan haram, tapi etika keberpihakan kepada yang lemah. Ini adalah bagian dari misi kenabian yang harus diteruskan. Tanpa kesadaran sosial, dakwah hanyalah seremonial yang kehilangan ruh.
Nabi adalah manifestasi cinta dan keadilan. Dalam surah Al-Ahzab ayat 21, Allah berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian…” Ini bukan hanya dalam hal ibadah, tetapi dalam keberpihakan, advokasi, serta konsistensi memperjuangkan yang benar walau harus berhadapan dengan kekuasaan.
Spirit kenabian juga meniscayakan adanya keberanian moral (moral courage). Di tengah bisingnya kekuasaan yang korup dan dominasi narasi-narasi agama yang mengabdi pada status quo, kaum beriman harus berani berkata “tidak” kepada tirani, sebagaimana para nabi menolak tunduk kepada penguasa zalim. Nabi Musa melawan Firaun; Nabi Ibrahim menghancurkan berhala; Nabi Muhammad menentang Abu Lahab dan Abu Jahal.
Dalam dunia modern, spirit kenabian mewujud dalam advokasi terhadap hak-hak perempuan, kelompok minoritas, buruh, dan petani. Islam bukan milik kelompok elite yang menjadikan agama sebagai alat legitimasi. Sebaliknya, Islam adalah alat transformasi untuk membela yang dilemahkan. Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth menyebut bahwa pembebasan hanya lahir dari kesadaran kolektif terhadap penderitaan.
Gus Dur adalah contoh kontemporer dari spirit kenabian. Beliau membawa nilai Islam yang inklusif, humanis, dan membela hak kelompok terpinggirkan. Dalam setiap langkahnya, Gus Dur menunjukkan bahwa Islam adalah kekuatan moral yang membebaskan, bukan membelenggu. Spirit kenabian hidup dalam diri tokoh-tokoh yang berani menyuarakan yang benar meski harus dikucilkan.
Dalam tradisi pesantren, nilai-nilai kenabian hidup melalui akhlak, keilmuan, dan pengabdian. Santri bukan hanya pelajar kitab kuning, tetapi calon pemimpin perubahan sosial. KH. Hasyim Asy’ari menyebut, “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Ini adalah ekspresi dari etika kenabian: mencintai, merawat, dan memperjuangkan tanah air dari segala bentuk penjajahan.
Spirit kenabian mengajarkan untuk tidak diam terhadap ketidakadilan. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan; jika tidak mampu, ubahlah dengan lisan; jika tidak mampu, dengan hati, dan itu selemah-lemahnya iman.” Ini adalah prinsip dasar aktivisme Islam.
Kita tak bisa terus membiarkan Islam dikerdilkan oleh jargon-jargon kosong. Apalah arti hijrah jika hanya mengubah gaya hidup, tapi abai terhadap nasib sesama. Apalah arti ukhuwah jika hanya sebatas di forum kajian, tetapi tak pernah menuntut keadilan sosial. Spirit kenabian menuntut kita untuk hidup secara transformatif.
Tantangan besar hari ini adalah menghidupkan kembali dimensi profetik Islam: dimensi transenden dan praksis. Seperti dikatakan oleh Fazlur Rahman, Islam bukan sekadar sistem teologis, tetapi sistem etis yang menuntut tanggung jawab sosial. Islam tidak anti-modernitas, tetapi menolak modernitas yang tidak bermoral.
Nabi bukan hanya guru spiritual, tapi juga pemimpin politik, negarawan, dan pembaharu sosial. Dalam The Message karya Tariq Ramadan, digambarkan bagaimana Nabi menjadikan negara Madinah sebagai prototipe masyarakat multikultural yang adil. Konstitusi Madinah adalah bukti bahwa Islam mampu hidup berdampingan dalam pluralitas.
Ketika spirit kenabian redup, maka agama hanya jadi kosmetik. Kita melihat banyak pemimpin yang religius secara simbolik, tapi menindas dalam praktik. Maka, membumikan spirit kenabian artinya menolak formalisme agama yang kering dari kasih sayang, kejujuran, dan pembelaan terhadap yang tertindas.
Kita harus merebut kembali Islam dari tangan mereka yang menyempitkan agama hanya pada fikih, tanpa ihsan dan hikmah. Spirit kenabian bukan sekadar shalat dan puasa, tetapi berani menghadapi kekuasaan yang zalim, membela orang-orang kecil, dan menolak menjadi bagian dari sistem yang menindas.
Dunia yang bising ini membutuhkan teladan spiritual, bukan kultus individu. Spirit kenabian mengajarkan kesederhanaan, kesabaran, dan integritas. Nabi tidak membangun istana, tapi masjid dan pasar. Beliau tidak menumpuk kekayaan, tapi membagikan hak. Beliau tidak minta dilayani, tapi melayani.
Menghidupkan spirit kenabian adalah tugas kita semua. Baik sebagai guru, pemuda, pengusaha, birokrat, aktivis, atau warga biasa. Kita tidak harus menjadi nabi, tapi bisa hidup dengan semangat kenabian: kejujuran, keadilan, dan cinta kasih. Dunia tidak butuh banyak tokoh, tapi banyak teladan.
Sebagaimana Nabi membangun masyarakat dari bawah, kita pun harus memulai dari sekitar kita: keluarga, RT, desa, sekolah. Membangun kesadaran kritis, etika sosial, dan keberanian moral. Spirit kenabian bukan sekadar teori, tapi aksi nyata yang lahir dari hati yang terhubung dengan langit dan berpijak di bumi.
Akhirnya, menghidupkan spirit kenabian adalah bentuk pengabdian kita kepada kemanusiaan dan Tuhan. Karena seperti kata Imam Al-Ghazali: “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Dan siapa yang mengenal Tuhannya, ia tidak akan tinggal diam di tengah kezaliman.


