Tuban -Kelompok tim pengelola sampah di Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban berkumpul dalam musyawarah rembug desa pada Selasa (18/11/2025) di Balai Desa setempat. Di depan puluhan perwakilan warga, mereka memaparkan apa yang telah dilakukan selama beberapa bulan terakhir ini. Rembug warga tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang diprakarsai ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan Daun Tumbuh Indonesia (YDTI) sebagai mitra pendamping.
Musyawarah serupa dilaksanakan di Desa Rengel pada Sabtu (15/11). Acara tersebut dihadiri oleh perangkat desa, Satuan Tugas (Satgas) Sampah, pengurus Bank Sampah, dan tokoh masyarakat.
Selain memaparkan laporan pertanggungjawaban oleh Tim Pelaksana (Timlak) masing-masing desa, forum juga membahas pencapaian, kendala yang dihadapi, serta merumuskan rencana strategis desa ke depan.
Kepala Desa Rengel, Mundir, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan EMCL dalam mengelola program. Ia menekankan bahwa tujuan program telah diarahkan pada pembangunan ketahanan desa.
“Target kami adalah membangun ketahanan dari pengelolaan sampah. Bagaimana pengelolaan sampah ini dapat menopang program peternakan dan pertanian desa,” ujar Mundir, menggarisbawahi potensi ekonomi sirkular yang diusung.
Senada dengan itu, Kepala Desa Pekuwon, Aksin, menyerukan agar semangat kolaborasi ini terus dijaga, terutama oleh Satgas Sampah dan Bank Sampah. “Apapun kendalanya harus kita musyawarahkan bersama-sama,” pesannya.
Ketua Yayasan Daya Tumbuh Indonesia, Mutohar Hadib, yang menjadi mitra pelaksana program, mengingatkan kembali akan tujuan utama program.
Menurutnya, program ini tidak hanya fokus pada maksimalisasi pengelolaan sampah dan peningkatan ekonomi, tetapi juga diharapkan mampu menambah kekompakan serta kolaborasi antarlembaga, mulai dari Satgas, Bank Sampah, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hingga Kelompok Diskusi Masyarakat Peduli (KDMP).
“Musyawarah ini sekaligus mengakhiri program pendampingan dari EMCL,” ujarnya.
Selama melakukan pendampingan, YDTI telah memastikan keterlibatan masyarakat sejak awal hingga berkembang sampai saat ini. Dia berharap program akan terus berkelanjutan.
Sementara itu, perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menegaskan posisi EMCL, Yayasan, dan perangkat desa sebagai sistem pendukung (supporting system).
“Kunci keberhasilan program apapun adalah kesadaran masyarakat. Maka, saya berharap Satgas Sampah dan Bank Sampah dapat menularkan kegiatan positif ini kepada warga lain,” tutur Joni.
Dia menambahkan bahwa konsistensi menjadi sangat penting untuk menjaga agar program ini dapat bertahan, bahkan berkembang, secara mandiri.
Musyawarah ini diharapkan menjadi momentum bagi kedua desa untuk semakin memantapkan langkah dalam menjadikan pengelolaan sampah sebagai pilar kemandirian ekonomi dan kebersihan lingkungan desa secara berkelanjutan.


