Saat Rapor Perlu Diseduh Ulang

  • Bagikan
Erwin Prastyo

Oleh: Erwin Prastyo*

Beberapa hari terakhir, jagat maya digemparkan oleh seorang guru berseragam dinas sekaligus kreator konten yang memamerkan aplikasi pengatrol nilai. Lebih ironis lagi, aplikasi itu dijual secara terbuka layaknya produk toko biasa. Cukup menuliskan komentar “mau”, kemudian diarahkan untuk transaksi layaknya transaksi di toko daring dan otomatis mendapatkan aplikasi untuk memanipulasi nilai rapor.

Bila kita kuliti lebih mendalam, yang diperjualbelikan sebetulnya bukan sekadar aplikasi, tetapi integritas. Aplikasi tersebut berfungsi mengubah nilai rapor, yang kita tahu rapor adalah dokumen resmi negara yang menjadi pijakan evaluasi pendidikan. Kejadian ini menambah panjang sengkarut persoalan dunia pendidikan Indonesia, mengindikasikan bahwa lembaga yang semestinya melatihkan penyelesaian masalah (problem solving) justru melahirkan masalah baru (problem producer).

Rapor menjadi jejak perjalanan belajar seorang murid. Setiap angka di dalamnya seyogianya menunjukkan apa yang telah dicapai, dipahami, dan dikuasai tiap semesternya. Namun setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan keraguannya terhadap validitas nilai rapor dan memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai instrumen pembanding, kasus ini seolah mengonfirmasi bahwa memang ada kegamangan mendalam dalam sistem penilaian kita.

Rapor Seharusnya Menjadi Cermin, Bukan Topeng

Idealnya, rapor adalah cermin jujur yang merefleksikan kemampuan murid. Rapor menunjukkan kekuatan, kekurangan, dan area yang perlu mendapat perhatian. Rapor tidak boleh menjadi topeng yang menutupi realitas, apalagi sekadar angka yang dipoles demi menjaga citra guru atau sekolah.

Kondisi hari ini berbeda jauh dari era 1990-an, ketika distraksi belajar sangat minim dan guru menjadi satu-satunya pusat kendali proses dan sumber belajar. Kini murid hidup di tengah derasnya arus digital: game online, media sosial, TikTok, hingga penggunaan gawai tanpa pengawasan. Distraksi ini nyata dan memengaruhi hasil belajar. Memaksakan nilai tetap baik di atas kertas adalah sikap yang tidak lagi sesuai dengan realitas zaman.

Sekolah sebagai Ruang Bertumbuh

Karenanya guru tidak perlu terjebak menciptakan skor semu. Penilaian apa adanya justru memberi ruang bagi orang tua untuk mengetahui kondisi nyata anaknya. Sekolah bukanlah tempat laundry yang mengubah pakaian kotor menjadi pakaian bersih nan wangi dalam sekejap, bukan pula bengkel yang memperbaiki kerusakan kendaraan secara instan. Sekolah adalah ruang tumbuh, dan pertumbuhan hanya mungkin dimulai dari kejujuran dalam melihat kondisi awal.

Solusi: Mengembalikan Marwah Penilaian

Untuk memahami akar masalah manipulasi nilai, kita perlu melihatnya sebagai persoalan sistemik, bukan sekadar perilaku individu. Penggunaan rapor digital yang semakin meluas harus diikuti dengan pengamanan berlapis, rekam jejak perubahan otomatis, serta audit berkala agar manipulasi dapat dicegah. Sistem penilaian yang rapuh akan selalu mengundang celah penyalahgunaan.

Di sisi lain, etika profesi guru harus kembali ditegakkan. Manipulasi nilai bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi pelanggaran moral yang merusak kepercayaan publik terhadap pendidikan. Organisasi profesi, kepala sekolah, hingga dinas pendidikan perlu menunjukkan ketegasan melalui sanksi yang jelas. Tanpa itu, kecurangan akan dianggap sebagai kewajaran.

Kemitraan orang tua dan sekolah juga harus diperkuat. Keberhasilan belajar bukan tanggung jawab satu pihak. Orang tua perlu memahami bahwa proses pendidikan anak berlangsung di rumah sama kuatnya dengan di sekolah. Komunikasi terbuka tentang capaian belajar akan membantu menghindari tekanan untuk menghasilkan nilai bagus semata.

Selain itu, sekolah perlu memperkuat pendidikan literasi digital. Murid perlu dibekali keterampilan mengelola waktu, memahami risiko distraksi, dan mempraktikkan disiplin dalam belajar. Mereka menghadapi tantangan yang tidak dialami generasi sebelumnya; karena itu bantuan yang diberikan pun harus berbeda.

Dan yang tak kalah penting, kepala sekolah harus menjadi teladan integritas. Di tengah perubahan sistem dan tekanan administratif, contoh nyata lebih kuat dari seribu imbauan. Integritas pimpinan akan merembes ke kultur kerja guru, lalu ke pengalaman belajar murid.

Renungan: Kejujuran adalah Masa Depan Pendidikan

Kasus aplikasi pengatrol nilai menunjukkan bahwa sebagian kerusakan pendidikan justru datang dari dalam, bukan dari luar. Ini adalah tamparan keras bahwa dunia pendidikan tidak kebal dari praktik tidak terpuji. Jika rapor saja bisa direkayasa, apa yang tersisa dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Regulasi penting, tetapi kesadaran moral jauh lebih penting. Pendidikan Indonesia tidak akan pulih hanya dengan perbaikan sistem; ia pulih ketika para pendidik menolak jalan pintas, ketika rapor kembali menjadi cermin belajar, bukan alat pencitraan.

Pada akhirnya bangsa ini tidak hanya membutuhkan murid yang pintar, tetapi juga guru yang jujur. Sebab kejujuran adalah pelajaran paling mendasar yang semestinya dipelajari dan diajarkan di sekolah. []


*) Erwin Prastyo adalah Alumni PPG Universitas Negeri Yogyakarta & Fasilitator Program Numerasi Tanoto Foundation


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.comAtau melalui aplikasi HarianjatimCom dan saluran Harian Jatim di WhatsApp

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
punta cana : lujo, aventura y las playas más vibrantes.