Oleh: Adenovi Siti*
Dalam kehidupan modern, ritme keseharian semakin cepat dan menuntut setiap individu untuk mampu beradaptasi dengan tekanan waktu. Aktivitas yang saling bertumpuk membuat banyak orang merasa hidupnya terus dikejar detik. Fenomena ini menggambarkan apa yang disebut oleh Rahardian (2021:112) sebagai “kehidupan percepatan,” yaitu kondisi ketika waktu seakan berkurang sementara kewajiban terus bertambah. Dalam situasi semacam ini, banyak orang akhirnya kehilangan kendali atas alur hidupnya sendiri, bahkan tidak sempat memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan untuk merasa tenang.
Pada kondisi seperti ini, kebiasaan sederhana seperti menikmati kopi susu justru dapat menjadi titik refleksi. Kopi susu, dengan perpaduan rasa yang kuat sekaligus lembut, mengajarkan bahwa segala sesuatu membutuhkan keseimbangan. Proses meracik kopi susu tidak dapat dilakukan secara terburu-buru, ada takaran, ritme, dan kesabaran yang harus dijaga agar hasilnya tetap harmonis. Dari sinilah muncul gagasan bahwa menata hidup pun memerlukan kemampuan menakar prioritas, menentukan batas energi, dan memahami kapan seseorang harus berhenti sejenak untuk memulihkan kejernihan pikir.
Selain itu, analogi kopi susu menunjukkan bahwa keseimbangan tidak selalu lahir dari hal-hal besar. Justru keputusan-keputusan kecil seperti memilih istirahat sejenak, mengurangi beban yang tidak perlu, hingga menyusun ulang kebiasaan harian dapat memengaruhi stabilitas hidup secara keseluruhan. Dengan cara inilah manajemen kopi susu menjadi relevan, karena mengajarkan bahwa manusia dapat menata hidup yang serba cepat dengan mengembangkan pola pikir yang lebih teratur, sadar, dan terarah sehingga setiap hari terasa lebih ringan dan bermakna untuk dijalani.
- Kehidupan Modern dan Tekanan Waktu
Banyak penelitian menunjukkan bahwa percepatan ritme hidup bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga psikologis. Menurut Gunawan (2022:223), masyarakat kini cenderung menyamakan produktivitas dengan keberhasilan, sehingga terus terdorong untuk melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat. Akibatnya, tekanan waktu sering kali membuat seseorang kehilangan kendali terhadap pola hidupnya sendiri.
Dalam budaya yang serba cepat ini, semuanya ingin selesai hari ini juga, bahkan kalau bisa beberapa jam ke depan. Informasi datang tanpa henti, tuntutan sosial makin meningkat, dan pekerjaan seolah tidak pernah habis. Pada titik inilah, manajemen diri menjadi krusial agar ritme hidup tetap berjalan secara sehat dan stabil.
2. Filosofi Kopi Susu sebagai Model Manajemen Kehidupan
Kopi susu tidak tercipta secara asal. Ada proses peracikan yang membutuhkan perhatian pada komposisi. Seperti yang dijelaskan oleh Prasetyo (2020:77), keseimbangan hanya tercapai ketika peracik memahami karakter setiap bahan. Jika diibaratkan pada hidup, “kopi” dapat mencerminkan tekanan, tuntutan, atau hal-hal yang bersifat berat, sedangkan “susu” mencerminkan kelembutan, waktu istirahat, dan momen pemulihan.
Mengelola hidup berarti menentukan porsi kedua hal tersebut. Ketika seseorang terlalu fokus pada “kopi”, hidup menjadi keras dan melelahkan. Namun jika ia hanya memilih “susu”, produktivitas bisa menurun dan tujuan hidup sulit tercapai. Perpaduan di antara keduanya adalah seni yang perlu dipelajari.
Maka dari itu, manajemen kopi susu bukan sekadar metafora, tetapi pendekatan yang menawarkan pemikiran lebih lembut mengenai bagaimana seseorang dapat menyeimbangkan antara kerja dan jeda, antara kewajiban dan kebutuhan diri.
3. Mengatur Prioritas: Langkah Kecil yang Menentukan Arah
Dalam menata hidup, kemampuan menyusun prioritas merupakan hal yang sangat fundamental. Andayani (2023:193) menyatakan bahwa menentukan prioritas bukan hanya memilih mana yang lebih penting, tetapi juga memahami mana yang lebih mendesak, relevan, dan berdampak jangka panjang. Di era serba buru-buru, banyak orang terjebak dalam aktivitas yang tampak penting tetapi sebenarnya hanya “mendesak” secara semu.
Pendekatan yang lebih terstruktur dapat membantu. Misalnya, menggunakan daftar tugas harian, menentukan batas waktu realistis, dan memberi ruang jeda di antara kegiatan, seperti memberi jeda rasa antara kopi dan susu agar hasilnya lebih harmonis. Langkah kecil tersebut sering kali justru memberikan pengaruh besar terhadap kestabilan ritme hidup seseorang.
4. Pentingnya Melambat di Tengah Kecepatan yang Tidak Bisa Ditolak
Melambat bukan berarti berhenti. Melambat adalah mengambil waktu untuk menyadari langkah sendiri, mengevaluasi arah, serta memastikan bahwa ritme cepat tidak membawa seseorang kehilangan kualitas hidup. Dalam kajian psikologi, tindakan mengambil jeda ini disebut sebagai mindful pause, yaitu momen di mana seseorang memberi ruang bagi kesadarannya untuk kembali stabil (Heryanto, 2021:148).
Jika kehidupan terus dipacu tanpa jeda, seperti kopi yang langsung diminum panas-panas, hasilnya bisa menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan menyakiti diri sendiri. Melambat berarti mengizinkan diri bernafas, menemukan makna, dan menjaga kesehatan mental. Sikap inilah yang sering kali terlupakan dalam era percepatan modern.
5. Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Prinsip manajemen kopi susu dapat diterapkan melalui beberapa cara:
- Menentukan batas aktivitas, agar tidak terperangkap dalam pekerjaan tanpa henti.
- Menyediakan waktu untuk diri sendiri, seperti membaca, berjalan santai, atau sekadar menikmati minuman hangat.
- Mengatur kembali ritme kerja, dengan pola kerja-berhenti yang lebih seimbang.
- Menerima bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini, karena tidak semua kesibukan memiliki nilai yang sama.
Dengan demikian, seseorang dapat menjaga ritme hidup yang sehat tanpa merasa tenggelam dalam tekanan waktu.
Manajemen kopi susu mengajarkan bahwa hidup membutuhkan perpaduan, keseimbangan, dan ritme yang tepat. Di tengah dunia yang serba buru-buru, seni menata hidup bukan sekadar soal cepat menyelesaikan tugas, tetapi tentang kemampuan menyusun prioritas, memberi ruang jeda, serta memahami batas diri. Keseimbangan bukan ditemukan secara tiba-tiba, tetapi diusahakan melalui langkah yang sadar. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mulai menata hidupnya dengan lebih penuh perhatian. Seni menata hidup memang membutuhkan proses, tetapi upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak nyata bagi kualitas kehidupan. (Adenovi Siti Nurhalisa, 2025:26)
*) Adenovi Siti adalah mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang.
Referensi:
Andayani, R. (2023). “Manajemen Diri dan Prioritas Hidup.” Laksana Publishing. https://laksana.co.id/manajemen-diri-dan-prioritas
Gunawan, H. (2022). “Psikologi Masyarakat Modern.” Jakarta: Nusantara Press. https://nusantarapress.id/psikologi-modern
Heryanto, F. (2021). “Mindfulness di Era Digital.” Bandung: Pelita Pustaka. https://pelitapustaka.co.id/mindfulness
Prasetyo, D. (2020). Filosofi Kopi dalam Perspektif Manajemen Hidup. Malang: Cakra Media.Rahardian, S. (2021).Ritme Kehidupan dan Tekanan Waktu. Surabaya: Gramedia Ilmu.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Atau melalui aplikasi HarianjatimCom dan saluran Harian Jatim di WhatsApp


