Oleh : Muhammad Rijal Isnaini Purnomo*
Hijrah. Kata ini telah menjadi buzzword di kalangan generasi muda Indonesia, terutama milenial (lahir 1981-1996) dan Gen Z (lahir 1997-2012). Dalam konteks Islam, hijrah merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW yang penuh pengorbanan dan transformasi. Namun, di era digital ini, hijrah sering kali direduksi menjadi tren sosial: meninggalkan kebiasaan buruk seperti pesta malam, konsumsi berlebihan, atau hubungan toksik, untuk mengejar gaya hidup yang lebih “bermakna”. Saya percaya, hijrah milenial dan Gen Z bukan sekadar tren viral di TikTok atau Instagram, melainkan revolusi diri yang mendesak di tengah krisis identitas generasi ini. Tapi, apakah ini benar-benar revolusi, atau hanya ilusi perubahan yang mudah pudar?
Mari kita akui fakta pahit: generasi muda kita hidup di dunia yang penuh kontradiksi. Milenial tumbuh di era booming ekonomi Asia, tapi sekarang terjebak dalam stagnasi karier, utang, dan burnout. Gen Z, yang lebih digital-native, menghadapi pandemi, perubahan iklim, dan ketidakpastian pekerjaan akibat AI. Media sosial memperburuknya dengan mempromosikan standar hidup yang tidak realistis – tubuh sempurna, rumah mewah, dan liburan eksotis. Hasilnya? Tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, sekitar 20% remaja Indonesia mengalami gangguan mental, dan angka ini lebih tinggi di kalangan Gen Z.
Di sinilah hijrah masuk sebagai jawaban. Saya melihatnya sebagai gerakan positif yang mendorong introspeksi. Banyak milenial mulai hijrah dengan meninggalkan pekerjaan korporat yang menghisap energi, beralih ke wirausaha atau freelancing. Mereka belajar mengelola keuangan dengan metode seperti “hijrah finansial” – mengurangi belanja impulsif dan berinvestasi di halal. Gen Z, yang lebih radikal, sering kali hijrah ke gaya hidup minimalis: zero waste, veganisme, atau bahkan pindah ke desa untuk hidup sederhana. Contohnya, influencer seperti Deddy Corbuzier atau Najwa Shihab telah menginspirasi jutaan orang melalui podcast mereka, mendorong audiens untuk hijrah spiritual – kembali ke sholat, puasa sunnah, dan membaca Al-Quran.
Di media sosial, hijrah dipamerkan sebagai konten: posting foto hijab baru, video tantangan puasa, atau cerita “sebelum dan sesudah”. Ini bagus untuk awareness, tapi apakah itu tahan lama? Banyak yang hijrah karena FOMO atau tekanan peer, bukan komitmen sejati. Hasilnya, relapse terjadi – kembali ke kebiasaan lama setelah beberapa bulan. Saya ingat kasus seorang teman Gen Z yang hijrah dengan meninggalkan game online, tapi setelah viral di TikTok, ia kembali kecanduan karena kurangnya dukungan komunitas.
Hijrah milenial dan Gen Z sering kali terlalu individualistik. Di era kapitalisme digital, hijrah dipasarkan sebagai produk – buku motivasi, kursus online, atau merchandise hijrah yang harganya jutaan. Ini menguntungkan industri, tapi apakah membantu perubahan sosial? Saya berpendapat, hijrah sejati harus inklusif dan berdampak luas. Misalnya, alih-alih hanya fokus pada diri sendiri, generasi ini bisa hijrah kolektif: bergabung dalam gerakan lingkungan, advokasi hak pekerja, atau pendidikan gratis untuk anak miskin. Bayangkan jika hijrah mendorong solidaritas, seperti gotong royong digital untuk membantu korban bencana.
Manfaat hijrah tak bisa diabaikan. Secara pribadi, ia meningkatkan kualitas hidup. Studi dari World Health Organization menunjukkan bahwa orang dengan rutinitas spiritual lebih tahan stres. Hijrah juga mendorong produktivitas: banyak yang melaporkan peningkatan kreativitas setelah meninggalkan distraksi gadget. Secara sosial, hijrah Gen Z telah mempengaruhi tren positif, seperti boomnya produk halal dan etis di Indonesia, yang mencapai nilai pasar triliunan rupiah. Ini bukti bahwa generasi muda bisa menjadi agen perubahan, bukan hanya konsumen pasif.
Tapi, tantangan terbesar adalah konsistensi. Hijrah bukan sprint, melainkan maraton. Saya sarankan generasi ini membangun ekosistem dukungan: komunitas offline seperti majelis taklim atau kelas hijrah, bukan hanya online. Orang tua dan pendidik harus terlibat, mengajarkan bahwa hijrah bukan tentang kesempurnaan, melainkan pertumbuhan. Jika tidak, hijrah akan tetap tren, dan generasi ini akan terus terjebak dalam siklus krisis.
Kesimpulannya, hijrah milenial dan Gen Z adalah peluang emas untuk revolusi diri yang mendalam, bukan sekadar tren yang mudah pudar di dunia maya. Kita telah melihat bagaimana generasi ini, yang tumbuh di tengah turbulensi ekonomi, sosial, dan digital, menggunakan hijrah sebagai alat untuk keluar dari jebakan konsumtif dan kembali ke nilai-nilai esensial. Namun, seperti yang saya tekankan sepanjang artikel ini, hijrah yang sejati memerlukan lebih dari sekadar postingan Instagram atau tantangan viral; ia membutuhkan komitmen jangka panjang, dukungan komunitas, dan orientasi sosial yang lebih luas.
Saya percaya bahwa jika hijrah tetap dangkal dan individualistik, ia akan gagal mencapai potensinya. Generasi ini harus mentransformasi hijrah menjadi gerakan kolektif yang mampu mengatasi masalah besar seperti ketimpangan sosial, perubahan iklim, dan krisis kesehatan mental. Bayangkan dampaknya jika ribuan milenial dan Gen Z hijrah bersama-sama: membangun startup sosial, mengadvokasi kebijakan hijau, atau mendirikan sekolah gratis di daerah terpencil. Ini bukan utopia; ini adalah kemungkinan nyata yang telah terbukti oleh gerakan-gerakan muda di seluruh dunia, seperti Fridays for Future atau Black Lives Matter.
Akhirnya, hijrah adalah tentang tanggung jawab. Generasi muda memiliki kekuatan untuk membentuk masa depan, tapi itu datang dengan risiko. Jika kita gagal, maka hijrah hanyalah kata-kata kosong, dan kita akan meninggalkan warisan kegagalan bagi generasi berikutnya. Saya mendesak setiap pembaca – terutama milenial dan Gen Z – untuk merefleksikan perjalanan hijrah mereka sendiri. Mulailah hari ini: evaluasi kebiasaan Anda, cari mentor, dan bergabunglah dengan komunitas yang mendukung perubahan positif. Hijrah sekarang, bukan besok, karena waktu tidak menunggu. Mari kita buktikan bahwa generasi ini bukan hanya konsumen tren, tapi pencipta revolusi yang abadi. Hijrah untuk dunia yang lebih baik – itu adalah panggilan kita bersama.
*) Muhammad Rijal Isnaini Purnomo adalah mahasiswa Progam Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universtas Muhammadiyah Malang.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. atau download App HarianjatimCom


