Oleh : Dinda Dwina Meythalia Putri*
Dalam kehidupan saat ini kata eksistensi sering kali muncul dikalangan anak zaman sekarang. Fenoma ini sesuai dengan fakta yang telah terjadi pada generasi saat ini khususnya pada anak karena anak yang baru memegang media sosial sangat rawan ingin mengikuti trend trend contohnya di aplikasi tiktok Instagram dan lain-lain, yang mana mereka lebih mementingan eksistensi/validasi agar keberadaan mereka diketahui oleh semua orang. Eksistensi muncul pada diri sendiri bukan karena keinginan, melainkan karena ingin membentuk rasa percaya diri dan makna diri seseorang. Selain itu eksistensi juga muncul dari proses pencarian identitas diri seseorang, khususnya pada anak anak di atas 5 tahun, yang cenderung mencoba berbagai cara untuk menunjukkan siapa dirinya. Hal ini akan menyebabkan mereka kehilangan keaslian pada diri mereka, karena mereka akan melalukan berbagai macam cara untuk tetap bisa eksis tanpa memperdulikan keasliannya.
Munculnya eksistensi juga menjadi faktor keinginan untuk mendapatkan validasi. Media sosial juga memperlihatkan bagaimana keadaan manusia sering bergantung pada pengakuan eksternal. Ketergantungan pada eksistensi ini menimbulkan alienasi terhadap diri sendiri, sehingga menciptakan jurang antara realitas pribadi dan personal digital. Inilah yang membuat mereka terjebak dalam dilema antara menjadi dirinya sendiri atau menjadi yang diinginkan orang lain. Ketika eksistensi dikaburkan oleh pencitraan, eksistensialisme menantang individu untuk bertanya: ”Apakah aku hidup menurut kehendak diriku sendiri atau menurut apa yang orang lain harapkan?”. Hal ini merupakan salah satu dampak negatif yang dialami anak anak pada saat ini karena besarnya pengaruh media sosial yang semakin maju, ditambah dengan konten-konten yang sedang trend pada saat ini, yang membuat mereka tertarik untuk melakukan trend tersebut agar diakui keberadaannya, karna itu keaslian dirinya sering dikaburkan atau ditinggalkan.
Eksistensi sendiri memiliki arti yaitu, keadaan di mana seseorang atau sesuatu diakui keberadaannya, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain. Dalam konteks manusia, eksistensi tidak hanya berarti “ada”, tetapi juga dianggap, dilihat, dan memiliki makna dalam lingkungan sosialnya. Perkembangan sosial dalam teknologi digital telah menghadirkan perubahan besar khususnya bagi anak anak saat ini. Media sosial adalah produk utama dari era digital, telah menjadi ruang baru bagi kalangan anak anak untuk berinteraksi, mengekspresikan diri sendiri dan membangun citra diri. Representasi diri di media sosial sering kali tidak mencerminkan keaslian dirinya sendiri, melainkan pencitraan yang disesuaikan dengan ekspetasi public.
Fenoma ini menimbulkan tantangan dalam mengenal diri, tetapi juga dalam membedakan antara keberadaan yang otentik dan identitas yang terdistorsi oleh pencitraan. Ketergantungan pada validasi ini menimbulkan alienasi terhadap diri sejati, sehingga menciptakan jurang antara realitas pribadi dan persona digital. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran orientasi identitas dari refleksi internal ke ekspresi eksternal. Dengan hal ini juga menimbulkan kecemasan dan kebingungan bagi orang tua.
Salah satu langkah utama adalah membangun kesadaran diri (self-awareness). Individu perlu memahami siapa dirinya, apa nilai yang ia pegang, serta apa yang benar-benar penting dalam hidupnya. Dengan mengenal diri sendiri, seseorang tidak mudah terpengaruh oleh standar luar yang belum tentu sesuai dengan jati dirinya. Selain itu, penting untuk mengurangi ketergantungan pada validasi eksternal. Pengakuan dari orang lain memang menyenangkan, tetapi tidak seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam menilai diri. Seseorang perlu belajar menghargai dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada pujian, like, atau komentar. Penggunaan media sosial juga perlu dilakukan secara bijak dan sadar. Media sosial seharusnya menjadi sarana ekspresi, bukan ajang pembuktian diri.
Media sosial telah menjadi ruang eksistensi baru bagi anak anak, di mana identitas tidak lagi dibentuk secara alami, melainkan dikonstruksi secara visual di hadapan publik digital. Dalam budaya pencitraan yang menuntut kesempurnaan, individu terdorong untuk menampilkan versi terbaik dirinya demi mendapatkan pengakuan sosial berupa likes dan komentar positif. Fenomena seperti FOMO (Fear of Missing Out) menciptakan kecemasan eksistensial, karena makna keberadaan sering kali bergantung pada kehadiran virtual dan interaksi superfisial. Oleh karena itu, filsafat bukan hanya wacana teoritis, tetapi juga sarana refleksi untuk membebaskan diri dari ketergantungan terhadap eksistensi semu di media sosial.
*) Oleh Dinda Dwina Meythalia Putri, Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus updatetopik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


