Ketika Game Mengalahkan Buku

  • Bagikan

Oleh: Intan Wulan Dari*

Sore itu rumah terasa tenang, hanya suara ketukan jemari seorang anak di layar ponsel yang terdengar jelas. Ia duduk dengan wajah serius, matanya tak beranjak dari permainan yang sedang ia mainkan. Di sampingnya, sebuah buku cerita baru masih tergeletak, sepi tanpa perhatian. Saya sempat memperhatikan dengan heran, lalu bertanya dalam hati: mengapa buku yang dulu menjadi teman imajinasi kini tampak tersisih? Pemandangan sederhana itu membuat saya merenung, apakah benar dunia digital sudah mulai mengalahkan buku dalam kehidupan anak-anak masa kini? Menurut penulis, kondisi ini menunjukkan bahwa minat literasi anak mulai mengalami penurunan.

Perkembangan teknologi saat ini memang terasa sangat cepat. Hampir semua anak sudah mengenal ponsel pintar dan berbagai jenis game digital. Game hadir dengan tampilan yang menarik, warna yang cerah, serta tantangan yang membuat pemain merasa tertantang untuk terus mencoba. Tidak heran jika anak bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk bermain. Selain itu, game juga memberikan kesenangan secara langsung, misalnya ketika berhasil naik level atau memenangkan permainan. Hal-hal seperti ini membuat anak merasa lebih tertarik dibandingkan dengan membaca buku.

Di sisi lain, membaca buku sering kali dianggap kurang menarik. Banyak anak merasa membaca itu membutuhkan waktu dan konsentrasi lebih. Apalagi jika dibandingkan dengan game yang serba cepat dan penuh visual. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, membaca punya banyak manfaat yang tidak sedikit. Dengan membaca, anak bisa menambah pengetahuan, memperluas kosa kata, dan juga melatih cara berpikir. Bahkan, kemampuan memahami pelajaran di sekolah juga sangat dipengaruhi oleh kebiasaan membaca. Seperti yang pernah dikatakan Anies Baswedan, “Membaca adalah jendela dunia, dan buku adalah pintu masuknya”(Baswedan, 2015). Kutipan ini menegaskan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas, melainkan jalan menuju pengetahuan yang lebih luas.

Dampak dari kebiasaan lebih sering bermain game ini mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada anak yang kesulitan menjelaskan pendapatnya dengan jelas atau kurang terbiasa menulis. Selain itu, mereka juga cenderung ingin segala sesuatu yang cepat, seperti yang mereka rasakan saat bermain game. Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya pengawasan, tentu bisa berpengaruh pada perkembangan mereka ke depannya. Andrea Hirata dalam novel “Laskar Pelangi” (2005) menggambarkan bagaimana semangat belajar dan membaca mampu mengubah masa depan anak-anak dari daerah terpencil. Gambaran itu seolah menjadi pengingat bahwa membaca dapat membuka peluang besar bagi siapa pun, termasuk anak-anak di era digital.

Akan tetapi, bukan berarti game harus dijauhkan sepenuhnya dari anak. Game juga bisa memberikan manfaat jika digunakan dengan cara yang tepat. Misalnya, ada game yang melatih strategi atau kerja sama. Hanya saja, perlu adanya batasan waktu agar anak tidak terlalu bergantung pada game. Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting untuk mengarahkan anak agar tetap memiliki keseimbangan antara bermain dan belajar. Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan oleh “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2016)” juga menekankan pentingnya membiasakan anak membaca sejak dini. Program tersebut menjadi salah satu upaya nyata untuk mengembalikan budaya membaca di tengah derasnya arus digital.

Selain itu, buku memiliki kekuatan imajinasi yang tidak bisa digantikan oleh game. Misalnya, karya “Roald Dahl, Matilda” (1988) memperlihatkan bagaimana seorang anak kecil menemukan kekuatan luar biasa melalui kecintaannya pada buku. Begitu pula dengan “J.K. Rowling, Harry Potter and the Philosopher’s Stone” (1997), yang berhasil membawa jutaan pembaca ke dunia fantasi penuh keajaiban. Kedua karya ini menunjukkan bahwa buku mampu menumbuhkan imajinasi, empati, dan daya pikir kritis yang tidak selalu bisa diperoleh dari game digital. Membaca bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga membangun karakter dan kepribadian anak.

Fenomena ketika game mengalahkan buku sebenarnya adalah gambaran nyata perubahan kebiasaan anak di era sekarang. Teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi penggunaannya tetap perlu dikontrol. Jika anak hanya dibiarkan larut dalam dunia game, maka kemampuan literasi mereka akan semakin menurun. Sebaliknya, jika orang tua dan guru mampu menyeimbangkan antara dunia digital dan dunia literasi, anak-anak akan tumbuh dengan lebih baik. Mereka bisa menikmati keseruan game sekaligus merasakan manfaat membaca buku. Dengan begitu, perkembangan mereka tidak hanya terfokus pada hiburan, tetapi juga pada pengetahuan dan keterampilan berpikir.

Menurut penulis, membiasakan anak untuk membaca sejak dini merupakan langkah penting agar minat literasi tidak semakin menurun. Buku tetap harus diberi ruang dalam kehidupan anak-anak, meskipun teknologi semakin maju. Dengan adanya keseimbangan antara bermain game dan membaca buku, diharapkan anak dapat berkembang dengan lebih baik, baik dari segi pengetahuan maupun cara berpikir. Seperti yang ditunjukkan oleh berbagai karya sastra dan gerakan literasi, membaca adalah jalan panjang menuju masa depan yang lebih cerah. Oleh karena itu, mari kita jadikan buku sebagai sahabat sejati anak-anak, agar mereka tidak hanya pandai bermain, tetapi juga bijak dalam berpikir.


Daftar Pustaka
Dahl, Roald. Matilda. London: Jonathan Cape, 1988.
Rowling, J.K. Harry Potter and the Philosopher’s Stone. London: Bloomsbury, 1997.
Hirata, Andrea. Laskar Pelangi. Jakarta: Bentang Pustaka, 2005.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2016). Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Kemendikbud.
Baswedan, Anies. (2015). Kutipan tentang literasi: “Membaca adalah jendela dunia, dan buku adalah pintu masuknya.”


*) Oleh : Intan Wulan Mahasiwa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus updatetopik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Karl hall for president of the united states karl hall for president of the united states. Carrier group has entered centcom region amid the rising iran tensions.