Anak Muda dan Kecemasan Masa Depan di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

  • Bagikan
Generasi muda menghadapi tekanan ekonomi, pengangguran, dan ketidakpastian masa depan di tengah bonus demografi Indonesia. (foto: ilustrasi)

|| Penulis : Sapa Redaksi*

Di tengah optimisme bonus demografi yang terus digaungkan pemerintah, ada kegelisahan yang tumbuh perlahan di kalangan generasi muda. Banyak anak muda hari ini hidup dalam situasi yang serba tidak pasti: pekerjaan sulit didapat, biaya hidup meningkat, harga rumah semakin jauh dari jangkauan, sementara masa depan terasa makin sukar diprediksi.

Kecemasan itu bukan sekadar perasaan personal. Ia mulai menjadi gejala sosial.

Di Jawa Timur, jumlah penduduk usia produktif terus bertambah setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kelompok usia muda mendominasi struktur demografi Indonesia dalam satu dekade terakhir. Situasi ini sering disebut sebagai bonus demografi—fase ketika jumlah penduduk produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif.

Secara teori, bonus demografi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Namun dalam praktiknya, peluang itu hanya akan berhasil jika tersedia lapangan kerja, pendidikan yang relevan, serta kualitas sumber daya manusia yang memadai. Tanpa itu, bonus demografi justru dapat berubah menjadi tekanan sosial baru.

Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menunjukkan kelompok usia muda masih menjadi penyumbang terbesar pengangguran nasional. Lulusan SMA dan perguruan tinggi termasuk kelompok yang paling rentan menghadapi kesulitan memasuki pasar kerja. Di banyak daerah, termasuk Jawa Timur, muncul fenomena ironi pendidikan: semakin tinggi pendidikan seseorang, belum tentu semakin mudah memperoleh pekerjaan yang layak.

Korelasi ini menjadi penting. Ketika jumlah lulusan meningkat tetapi daya serap lapangan kerja tidak tumbuh seimbang, maka lahirlah generasi muda yang hidup dalam ketidakpastian berkepanjangan.

Situasi diperumit oleh perubahan dunia kerja yang berlangsung sangat cepat. Digitalisasi, otomatisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan mulai menggantikan banyak jenis pekerjaan administratif dan rutin. Di sisi lain, pekerjaan baru justru menuntut keterampilan adaptif yang belum sepenuhnya mampu dipenuhi sistem pendidikan formal.

Artinya, persoalan generasi muda hari ini bukan hanya kekurangan pekerjaan, tetapi juga ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri.

Kondisi tersebut tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda akhirnya bekerja di sektor informal, menjadi pekerja paruh waktu, atau menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang studinya. Sebagian lain memilih merantau ke kota besar karena merasa daerah asal tidak lagi menyediakan ruang ekonomi yang cukup.

Di saat yang sama, tekanan sosial terhadap anak muda justru semakin tinggi. Media sosial menghadirkan standar kesuksesan yang serba cepat dan sering kali tidak realistis. Anak muda dipaksa melihat pencapaian orang lain setiap hari—karier, gaya hidup, bisnis, hingga kemapanan finansial—yang tanpa disadari memicu rasa tertinggal secara psikologis.

Korelasi antara tekanan ekonomi dan kesehatan mental generasi muda kini semakin nyata. Berbagai survei kesehatan mental menunjukkan kelompok usia muda menjadi salah satu kelompok paling rentan mengalami kecemasan, stres, dan kelelahan emosional. Ketidakpastian pekerjaan, tekanan sosial, serta minimnya rasa aman ekonomi menjadi faktor yang saling berkaitan.

Di daerah, tantangan itu lebih kompleks lagi. Anak muda di kawasan pinggiran dan kepulauan menghadapi keterbatasan akses pelatihan, minim ruang kreatif, serta peluang kerja yang jauh lebih sempit dibanding kota besar. Akibatnya, urbanisasi terus meningkat dan daerah perlahan kehilangan energi produktif generasi mudanya.

Padahal, masa depan daerah sangat bergantung pada kemampuan mempertahankan dan memberdayakan anak mudanya sendiri.

Karena itu, persoalan generasi muda tidak bisa diselesaikan hanya dengan seminar motivasi atau pelatihan jangka pendek. Pemerintah daerah perlu membangun ekosistem yang benar-benar memberi rasa optimisme bagi generasi muda.

Pendidikan harus lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Pelatihan keterampilan digital perlu diperluas. Dukungan terhadap UMKM dan ekonomi kreatif harus lebih serius. Industri lokal juga perlu diarahkan agar mampu menyerap tenaga kerja muda secara lebih besar.

Lebih dari itu, pembangunan perlu menghadirkan rasa aman sosial. Sebab yang paling ditakutkan bukan hanya tingginya angka pengangguran, melainkan hilangnya keyakinan generasi muda bahwa kerja keras dan pendidikan masih memiliki arti bagi masa depan mereka.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur. Pembangunan yang benar-benar berhasil adalah pembangunan yang mampu menjaga harapan generasi mudanya tetap hidup.

Sebab ketika anak muda mulai kehilangan keyakinan terhadap masa depan, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nasib satu generasi, melainkan arah masa depan bangsa itu sendiri.


||* Tim Kreator HarianJatim.Com


Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.

Download sekarang!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Strong contextual links.