|| Penulis : Sapa Redaksi*
Bagi sebagian orang di kota besar, pergi ke rumah sakit mungkin hanya perkara beberapa menit perjalanan. Dokter mudah ditemukan, ambulans tersedia, dan layanan kesehatan dapat diakses dengan relatif cepat. Namun bagi banyak warga di daerah pinggiran dan kepulauan di Jawa Timur, sakit sering kali berarti perjalanan panjang, waktu tunggu, dan kecemasan yang tidak sederhana.
Ada keluarga yang harus berangkat dini hari demi mendapatkan antrean pengobatan. Ada pasien yang menempuh perjalanan laut sebelum tiba di rumah sakit rujukan. Ada pula orang tua yang memilih menahan sakit karena khawatir tidak memiliki cukup biaya untuk transportasi dan kebutuhan selama berobat.
Di titik itulah, kesehatan tidak lagi sekadar persoalan medis. Ia berubah menjadi persoalan jarak, akses, dan kemampuan bertahan hidup.
Selama beberapa tahun terakhir, pembangunan layanan kesehatan memang terus dilakukan. Program jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan membantu banyak masyarakat memperoleh pengobatan yang sebelumnya sulit dijangkau. Rumah sakit dibangun, puskesmas diperbaiki, dan pelayanan kesehatan perlahan berkembang.
Namun di balik berbagai kemajuan itu, masih ada jurang yang terasa nyata antara pusat kota dan daerah pinggiran.
Kota-kota besar seperti Surabaya atau Malang memiliki fasilitas kesehatan yang jauh lebih lengkap. Dokter spesialis lebih mudah ditemui, alat medis lebih memadai, dan pilihan rumah sakit lebih banyak tersedia.
Sebaliknya, masyarakat di wilayah pedesaan dan kepulauan sering kali harus menghadapi keterbatasan layanan dasar. Tidak semua daerah memiliki tenaga medis yang cukup. Tidak semua puskesmas mampu menangani kondisi darurat. Bahkan untuk pemeriksaan tertentu, warga harus pergi ke kota lain dengan perjalanan yang melelahkan.
Bagi masyarakat kecil, perjalanan berobat bukan hanya soal waktu. Ada ongkos transportasi, biaya makan, kehilangan penghasilan harian, hingga beban psikologis keluarga yang ikut menunggu.
Tidak sedikit warga yang akhirnya memilih menunda pengobatan karena merasa biaya menuju fasilitas kesehatan lebih berat daripada sakit yang mereka rasakan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa akses kesehatan belum sepenuhnya setara.
Padahal ketika seseorang sakit, yang paling dibutuhkan sebenarnya bukan hanya obat atau tindakan medis. Yang dibutuhkan adalah rasa tenang bahwa pertolongan bisa diperoleh tanpa harus merasa sendirian.
Karena itu, pembangunan kesehatan tidak cukup hanya menghadirkan gedung rumah sakit yang megah di kota besar. Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat di pinggiran juga memiliki rasa aman yang sama ketika menghadapi sakit.
Tenaga kesehatan perlu lebih merata. Fasilitas layanan dasar harus diperkuat. Transportasi dan sistem rujukan bagi wilayah terpencil perlu dipermudah. Teknologi kesehatan juga harus dimanfaatkan agar masyarakat di daerah sulit tetap dapat memperoleh layanan konsultasi dan penanganan awal secara cepat.
Yang tidak kalah penting, pelayanan kesehatan perlu dibangun dengan empati.
Sebab bagi masyarakat kecil, keramahan tenaga medis, kepastian pelayanan, dan kemudahan akses sering kali memiliki arti sebesar obat itu sendiri.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan kesehatan bukan terletak pada seberapa modern rumah sakit di pusat kota, melainkan pada seberapa jauh negara mampu menghadirkan rasa aman hingga ke daerah paling pinggir.
Sebab selama masih ada warga yang harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk mendapatkan hak dasar bernama kesehatan, selama itu pula pekerjaan rumah pelayanan publik belum benar-benar selesai.
||* Tim Kreator HarianJatim.Com
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com dan Saluran WhatsApp. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


