|| Penulis : Pukau Surya Kelana*
Dongeng tradisional merupakan fondasi utama dalam perkembangan sastra anak yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita. Jauh sebelum hadirnya teknologi digital seperti saat ini, orang tua menyampaikan dongeng secara lisan maupun melalui media cetak, seperti buku cerita, majalah, koran, dan media lainnya. Tradisi mendongeng tidak hanya bertujuan sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media edukatif yang mengandung nilai moral, etika, dan sosial bagi anak usia dini.
Dongeng tradisional melatih anak untuk mengembangkan imajinasi dan kemampuan berpikir simbolik. Dengan mendengarkan cerita, anak secara aktif membangun gambaran tentang tokoh, karakter, serta suasana dalam cerita. Hal ini sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro et al. (2010) yang menyatakan bahwa sastra anak berperan penting dalam merangsang daya imajinasi dan kreativitas anak. Proses ini berbeda dengan media digital saat ini yang cenderung menyajikan gambar, suara, dan suasana cerita secara instan sehingga kurang mendorong anak untuk berpikir dan mengembangkan imajinasinya.
Menurut teori perkembangan anak, interaksi langsung seperti kegiatan mendongeng dapat memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak (Aprilyani et al., 2022). Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa dongeng juga memiliki fungsi sosial yang signifikan, yaitu mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua. Interaksi melalui dongeng tidak hanya bersifat komunikatif, tetapi juga afektif. Anak tidak hanya menerima informasi tentang cerita, tetapi juga memperoleh kehangatan emosional, perhatian, serta berbagai nilai kehidupan secara langsung.
Dongeng juga mengandung kearifan lokal. Dengan menyampaikan dongeng kepada anak, orang tua secara tidak langsung turut berupaya menjaga budaya lokal agar tetap hidup. Selain itu, anak akan mengenal dan menghargai warisan budaya yang menjadi kekayaan bangsanya.
Dengan berbagai fungsi tersebut, dongeng memiliki peran yang sangat fundamental dalam perkembangan anak. Dongeng tidak hanya berfungsi mendukung perkembangan kognitif, tetapi juga membangun hubungan yang erat antara orang tua dan anak serta melestarikan nilai-nilai kearifan lokal.
Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat anak-anak saat ini lebih dekat dengan gawai dibandingkan dengan interaksi langsung. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam Survei Internet Indonesia 2024 menunjukkan bahwa tingkat penetrasi internet nasional telah mencapai sekitar 79,5 persen dari total populasi. Kelompok usia 13–18 tahun memiliki tingkat penggunaan internet tertinggi, yakni lebih dari 98 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa akses terhadap dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kondisi tersebut menandakan adanya perubahan pola interaksi dan cara anak mengakses hiburan maupun pembelajaran, termasuk dalam menikmati dongeng. Jika sebelumnya dongeng disampaikan secara langsung melalui interaksi yang hangat antara orang tua dan anak, kini penyampaiannya mulai bergeser ke media digital. Perubahan ini tentu membawa dampak terhadap perkembangan anak, baik secara kognitif, sosial, maupun emosional.
Di satu sisi, perkembangan teknologi dalam penyampaian dongeng memberikan dampak positif bagi anak. Kehadiran dongeng dalam bentuk digital, seperti video animasi dan aplikasi interaktif, membuat cerita menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Hal ini juga dapat meningkatkan minat anak terhadap sastra. Selain itu, kemudahan akses memungkinkan anak lebih mengenal kekayaan budaya bangsa.
Namun, penggunaan gawai secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif. Penggunaan gawai yang berlebihan akan mengurangi waktu interaksi antara orang tua dan anak. Anak menjadi lebih fokus pada layar gawai sehingga kemampuan sosial dan komunikasinya berpotensi menurun. Kondisi ini juga dapat mengurangi ketertarikan anak terhadap dongeng yang disampaikan secara langsung oleh orang tua sehingga interaksi emosional antara keduanya berkurang. Selain itu, tidak semua konten digital mengandung nilai moral yang sesuai bagi anak. Oleh karena itu, penggunaan media digital perlu mendapatkan pengawasan dari orang tua agar tidak berdampak negatif terhadap perkembangan anak.
Dengan demikian, pergeseran dongeng dari bentuk tradisional ke dunia digital merupakan bentuk adaptasi sastra anak terhadap perkembangan zaman yang tidak dapat dihindari. Teknologi digital memang menghadirkan berbagai inovasi dalam perkembangan sastra anak, khususnya dongeng. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan terhadap pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pelestarian nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng tradisional menjadi kunci agar sastra anak tetap berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
||* Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang
DAFTAR PUSTAKA
Aprilyani, R., Fahlevi, R., Wulandari, R., & Pranajaya, S. A. (2022). Perkembangan peserta didik.
Nurgiyantoro, B., Universitas, F. B. S., & Yogyakarta, N. (2010). oleh Burhan Nurgiyantoro A. Pendahuluan Dunia pendidikan kembali dimeriahkan dan disibukkan oleh adanya perubahan kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Meriah karena di mana-mana orang berbicara kurikulum baru yang bakal menggantikan kurikulum sebelum. 91–116.
Ir. H. Abdullah Rasyid, M.E. (2026). Pembatasan Pemakaian Gadget bagi Anak: Investasi Negara dalam Membangun Generasi Sehat dan Produktif.
Simak berita terbaru dan kabar terbaru melalui Google News harianjatim.com. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi Harianjatim.com.


