Poros Pilar Umat Agar Sukses Risma-Wisnu Berlanjut

  • Bagikan

Dwi Tunggal Tri Rismaharini dan Wisnu Sakti Buana telah berhasil membawa segudang prestasi untuk Kota Surabaya dari tingkat Nasional sampai Internasional. Hal ini membuktikan bahwa selama dua periode kepemimpinannya memang fokus dan sungguh-sungguh untuk membangun Kota Surabaya menjadi lebih baik.

Basis pembangunan Kota Surabaya yang menitikberatkan pada percepatan infrastruktur statis (Jalan, Pertamanan, dll) ternyata sejalan dengan pertumbuhan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang mengalami peningkatan pertumbuhan dalam tujuh tahun terakhir, di angka 81.07 persen (2017). Inilah yang kita sebut sebagai infrastruktur dinamis dan itu artinya, keselerasan antara relasi pembangunan tersebut telah berjalan dengan baik dan proposional.

Sukses kepemimpinan Risma-Wisnu, menjadi rujukan dasar masyarakat Surabaya yang sebentar lagi menghadapi proses demokrasi pemilihan Walikota dan Wakil Walikota tahun 2020 untuk menentukan pemimpin baru yang sanggup melanjutkan estafet L1 dan L2.

Baca Juga :  Sekda Edy: Jangan Percaya Calo CPNS-PPK

Tentu masih ada ceruk ketidaksempurnaan dalam proses kepemimpinan Risma-Wisnu selama ini. Maka sebagai upaya menyempurnakan, alternatif kepemimpinan baru melalui narasi poros umat perlu didorong.

Poros Umat adalah diskursus ideal untuk menyemai harapan atas kepemimpinan Surabaya ke depan. Memberi kesempatan bagi tokoh dan kader terbaik NU-Muhammadiyah untuk mengambil tampuk kepemimpinan Kota Surabaya berikutnya adalah harapan baik yang perlu disambut sebagai apresiasi atas perjuangan kedua organisasi Islam terbesar tersebut.

NU-Muhammadiyah telah banyak memberikan sumbangsih bagi peradaban bangsa dan negara ini, melalui peran kader-kadernya yang mengisi posisi strategis di beberapa lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.

NU memiliki banyak kader potensial seperti; KH. Muhibbin Zuhri (Ketua PCNU Kota Surabaya) dan KH Zahrul Azhar Asad (Gus Hans), H. Ali Masykur Musa (Ketua Umum  Pengurus Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)). Disisi lain Muhammadiyah juga memiliki kader terbaiknya seperti : H.M. Arif An (Mantan Ketua Karang Taruna Kota Surabaya), H. Mahsun Jayadi (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya), Cak Dikky Syadqomullah, SHI., MHES. (ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur). Dan masih banyak lagi kader-kader NU maupun Muhammadiyah yang potensial.

Baca Juga :  Komisi III DPRD Sumenep Pantau Pembangunan Gadung Dewan Baru

Jika pertanyaannya adalah bagaimana pengalaman birokrasi dan kepemimpinannya? Kita Ketahui Bersama-sama bahwa NU-Muhammadiyah memiliki struktural organisasi dari Pusat hingga Ranting. Mereka pasti memiliki pengalaman dalam pengelolaan yang bersentuhan langsung dengan hal-hal teknis pemerintahan organisasi. Kemudian kepemilikan dan pengelolaan amal usaha berupa Rumah Sakit, Sekolah, Pondok Pesantren dan Panti Asuhan adalah “replika” yang bisa kita setarakan dengan ruang lingkup pemerintahan dan pelayanan publik.

Baca Juga :  Ketua DPRD Sumenep Ajak Masyarakat Sukseskan Pilkada 2024

Sehingga tidak perlu ada keraguan bagi warga Surabaya yang heterogen ini untuk mempercayakan estafet kepemimpinan Kota Surabaya kepada dua kader Organisasi Kemasyarakatan Terbesar di Indonesia tersebut. Lantas, bagaimana dengan keberadaan masyarakat kota yang tidak berafiliasi pada kedua organisasi tersebut, apakah juga akan menjadi perhatian? Tentu saja, karena di dalam tubuh kedua organisasi tersebut tertanam nilai-nilai syiar (dakwah) tak berbatas, bagi suku, ras, agama dan budaya apapun untuk bersama-sama menjadikan Kota Surabaya lebih baik lagi.

Semoga narasi ini menjadi bagian dari ijtihad politik yang baik bagi semua pihak tanpa menegasikan peran kelompok manapun.

Ahmad Sulton
Ketua Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 336x280