Bhakti alam “Selamatkan Mata Air” tanam 1.150 Bibit di lereng Wilis.

oleh -343 views

Nganjuk – Program pelestarian lingkungan yang digagas oleh Yayasan Putra Nusantara dan Paguyuban Godhonk Suwek mengawali penanaman di lereng Gunung wilis pada hari minggu (29/12) pagi. Tidak tanggung – tanggung, sebanyak 1.150 bibit akan di tanam guna melestarikan lingkungan yang berimbas pada penyelamatan mata air. Eko Supriyanto, Koordinator dari kegiatan ini mengatakan bahwa, tujuan utama dari kegiatan ini adalah selain melestarikan lingkungan, juga untuk menghidupkan kembali mata air-mata air yang mulai tertutup.

“Saat ini, kita berada pada titik kritis. Salah satu unsur kehidupan yang penting adalah air. Melihat bagaimana banyak mata air yang sudah mulai kering, saya khawatir anak cucu kita akan menganggap air hanya sebagai dongeng belaka. Ini menggugah semangat dari rekan-rekan yang berasal dari Putra Nusantara dan juga Godhonk suwek, untuk menyelamatkan mata air dengan melakukan penanaman pohon di wilayah lereng gunung wilis.” Ujar pria yang juga pernah menjadi koordinator KIM kecamatan Sukomanunggal ini.

Beliau juga menambahkan bahwa 1.150  bibit ini merupakan hasil swadaya dari anggota. “Ini adalah gerakan sosial. Gerakan sosial yang berdampak pada lingkungan. Kesadaran tentang isu kekeringan sudah mulai terasa. Ini terlihat dari kesadaran anggota dari 2 lembaga ini dengan mampu mengumpulkan bibit sebanyak 1.150.” Imbuh pria yang akrab disapa Samoke ini.

Selain itu, beliau menginginkan agar kegiatan ini tidak sekedar simbolis belaka. Harus ada langkah strategis yang kongkrit beserta dukungan dari pemerintah setempat, agar program Bhakti Alam ini bisa mencapai tujuannya secara ideal.

“Saya tidak ingin, kegiatan menanam ini hanya sebagai gimmick bahwa masih ada yang peduli lingkungan. Namun setelah itu, tidak ada tindakan dan langkah yang taktis secara bersama dalam melakukan evaluasi dan monitoring terhadap bibit yang sudah ditanam. Perlu adanya dukungan dari pemerintah dan juga warga setempat, sehingga, 3-5 tahun lagi, keringnya mata air di lereng gunung wilis tak lagi terdengar.” Pungkasnya.

Kegiatan bhakti Alam ini juga melibatkan lembaga masyarakat desa hutan, muspika ngetos, karang taruna, destana dan juga warga sekitar. (By)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *