Harianjatim.com – Sang Pionir Kristologi Ini Terasa Masih Hidup Karena Meninggalkan Sejumlah Ilmu Manfaat
Tokoh yang sangat sederhana ini terasa masih berada di tengah-tengah kita. Padahal sudah 42 tahun Beliau pergi.
Ilmu yang ditinggalkannya seakan menjadi oase di hamparan jiwa-jiwa yang kering.
Ya, KH BAHAUDIN MUDHARY, ulama langka kelahiran Sumenep, tanggal 23 April 1920.
Hanya sedikit sekali ulama yang memiliki kemampuan dakwah untuk menangkal Kristenisasi di negeri yang mayoritas penganut agama Islam ini.
Namanya melegenda di deretan Kristolog papan atas.
Raut wajahnya yang teduh dan sorot matanya yang tajam, seakan menyimpan sejuta rahasia keilmuannya.
Kemampuannya dalam menangkal Kristenisasi sehingga Beliau disebut-sebut sebagai Pionir Kristologi di Nusantara.
Ini terbukti ketika Kiai Baha’ sukses mendebat para misionaris yang puncaknya, mereka mendapat hidayah untuk ber-Syahadat.
Antonius Widuri misalnya, seorang penganut taat dan misionaris Kristen Katolik, ingin menguji kemampuan Kiai Baha’ dalam bidang perbandingan agama.
Maka pada tanggal 18 Maret 1970, perdebatan antara keduanya dimulai dengan disaksikan oleh para tokoh dan santrinya.
Perdebatan antara keduanya berjalan alot dan berlangsung selama sepekan.
Sang misionaris (Antonio) harus mengakui kekuatan hujjah (argumentasi) Bahaudin tentang kerancuan Trinitas.
Di hadapan Kiai Baha’ dan para saksi yang hadir saat itu, akhirnya Antonio berikrar dengan dua kalimat Syahadat.
——————————————————————————
Kiai Bahaudin, sempat bersekolah di Kweek School Muhammadiyah, Yogyakarta, pada tahun 1940, meskipun tidak sampai selesai.
Beliau, menguasai beberapa bahasa asing, seperti; Arab, Jepang, Jerman, Prancis, Belanda dan Inggris.
Kemampuannya dalam berbagai bahasa asing, menjadi modal untuk mengakses berbagai versi Bibel.
Boleh jadi, bakat dan kecerdasannya itu adalah warisan genetik dari sang Ayah; Kiai Ahmad Sufhansa Mudhary.
Sang MAESTRO telah pergi dari alam fana menuju alam keabadian untuk menemui Tuhannya.
Hanya jejak-jejaknya yang dapat kita kumpulkan untuk dicari hikmahnya.
Kepergian para ulama sesungguhnya adalah musibah bagi kita.
Allah menyuruh kita untuk belajar kepada orang-orang yang telah berlalu; baik yang meninggalkan kebaikan maupun mereka yang membawa keburukan.
Di dalamnya ada hukum-hukum sejarah yang patut kita pelajari.
Sesungguhnya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Sejauh apa pun perjalanan hidup kita, pada akhirnya kematian juga yang akan kita temui.
Jika ada kepedihan di dunia ini, maka pembatasnya adalah kematian; batas akhir penderitaan ataukah batas menuju penderitaan yang jauh lebih pedih.
Sebesar apa pun kenikmatan yang kita reguk di dunia ini, maka kematianlah penutupnya.
Jika seseorang menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya, maka ia perlu berbenah agar kehidupan dunianya semakin berkibar.
Begitu pun, tatkala kita menginginkan kehidupan akhirat, kita perlu perbaiki agama kita.
Alangkah jauh jarak antara pengetahuan dan keyakinan.
Bacaan sudah banyak, pemahaman sudah baik, tetapi kadang hati tak tersentuh olehnya.
Sungguh, sangat berbeda antara mengetahui kebaikan dengan mengimaninya sepenuh hati sehingga membekas dalam hidup sehari-hari.
Pengetahuan tentang agama ini memang perlu kita cari agar mengilmui dengan benar.
Tetapi itu saja tidak cukup. Kita perlu berupaya menajamkan hati agar lebih mudah tergerakkan oleh agama dan menjadi tempat bersemayamnya hidayah.
Sesungguhnya, pokok segala urusan itu adalah agama.
——————————————————————–
Kembali kepada sang “Pendekar Kristologi” Kiai Bahaudin Mudhary…
Suatu ketika orangtua saya (Rama) pernah bilang;
“Kakuadanna mbana ba’na badha neng ebajangnga – Kekuatan mbahmu itu ada di shalatnya.”
Ya, sudah bukan rahasia umum lagi kalau Kiai Baha’ itu memang ahli ibadah (abid), terutama dalam Qiyamul Lail.
Ya, karena shalat itu merupakan media tertinggi (puncak) dalam bermunajah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hebatnya lagi, kata beberapa sumber kerabat, Beliau itu ikhlas dalam beribadah.
YA, IKHLAS…
Ikhlas itu melakukan amal dan ibadah semata-mata untuk mencari wajah Allah Ta’ala; mengharap ridho-Nya sepenuh kerinduan.
Ikhlas tidak berhubungan dengan berat-ringannya melakukan amal dan ibadah.
Meski sangat berat, jika mengerjakannya karena taat, itulah ikhlas.
Sesungguhnya taat itu tak menuntut ringannya hati melaksanakan, tetapi bersihnya niat meskipun merasa sangat berat.
Mari sejenak kita mengingat lagi firman-Nya;
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Al-Baqarah: 216)
Mari kita belajar mendidik niat agar nilai amal dan ibadah kita tidak rancu.
—————————————————————————————
Kiai Bahaudin Mudhary tidak hanya handal dalam bidang spiritual.
Beliau juga adalah seorang organisatoris ulung. Rekam jejak Beliau sangat panjang, di antaranya;
-Tahun 1939-1941, menjadi wakil pimpinan pusat Muhammadiyah (Majelis Pemuda) Madura.
-Tahun 1940-1943, menjadi anggota Majelis Konsul Muhammadiyah Sumenep.
-Tahun 1940-1979, memimpin pesantrennya sendiri di Kepanjin, Sumenep.
-Tahun 1942-1945, Ketua Badan Pembantu Kesejahteraan Keluarga Prajurit PETA.
-Tahun 1947-1949, sang Kiai ini menjadi Komandan Resimen Hizbullah.
-Tahun 1949, mendirikan Yayasan Pesantren Madura.
-Tahun 1954-1960, Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) Sumenep.
-Tahun 1954-1963, Ketua Muhammadiyah Cabang Sumenep.
-Tahun 1959-1963, anggota pimpinan pusat majelis Tarjih Muhammadiyah.
-Tahun 1960-1965, mendirikan Akademi Metafisika Sumenep.
-Tahun 1968-1971, Ketua Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) Sumenep.
-Tahun 1971-1979, Ketum Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (GUPPI) Jawa Timur.
-Tahun 1975-1977, anggota DPRD Jawa Timur.
-Tahun 1975-1977, Kepala Kantor Departemen Agama Sumenep.
-Tahun 1975-1979, Ketua IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
-Kiai Bahaudin Mudhary, lahir di Sumenep, tanggal 23 April 1920, dan wafat tanggal 4 Desember 1979, di Surabaya.
Kita berharap lahirnya kader dakwah sekaliber Kiai Baha’ atau bahkan lebih tangguh lagi.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip nasehat Sufi;
“Janganlah kamu berharap pada keadilan-Nya. Sebab, amalmu seratus tahun pun belum tentu membawamu pada surga. Berharaplah pada kasih sayang-Nya.”
Wallahu a’lam…
Penulis : Sujono (*aktivis)
(Diadaptasi dari berbagai sumber bacaan dan informasi)


