Tips Bagi Daerah Agar Pariwisata Samakin Maju

  • Bagikan
Salah satu sudut pantai di Pulau Giliyang, Sumenep Madura. Foto DOK PEMKABSUMENEP/instagram/kemenparekraf/sindonews.com

Madura, kata Faid, merupakan salah satu pulau yang menyimpan unik kekayaan alam, budaya, tradisi, dan keberagamaan yang cukup kental. Orang Madura katanya tidak baik merasa pesimis apalagi takut untuk mengembangkan potensi sumber daya alam (SDA) yang luar biasa ada di dalamnya.

Direktur Pusat Pariwisata Nusantara ini lalu mengungkapkan, bahwa Madura punya apa yang tak dimiliki Bali. Bali menang hanya karena berhasil melakukan perpaduan budaya, tradisi, dan agama, yang kemudian menjadi ciri khas dan dikenal.

“Apa yang bisa dilihat dari Bali? Hanya Pantai Kute, masih lebih bagus (Pantai, red) Lombang sama Slopeng. Pulau Penida yang sekarang terkenal itu, masih lebih bagus Kangean dan Arjasa, itu kalau mau dibangun. Apalagi, bahkan Sumenep saja kan punya 126 pulau,” tutur Faid kepada Genpimadura.id, Sabtu (8/2/2020).

“Jadi, DNA-nya (modal awal, red) Bali itu kan sebenarnya antara lain budaya, tradisi, dan agama yang kemudian dipadukan menjadi sesuatu yang kental, menjadi kebiasaan, dan menjadi ritual. Nah, itu sebenarnya yang langka sehingga menarik minat para wisatawan,” simpul dia menguraikan.

Madura juga punya modal awal tersebut. Hanya saja agama, budaya, dan tradisi masyarakat Madura tentu tidak sama dengan Bali. Perbedaan itu menurutnya justru akan menjadi kekuatan lain yang dapat memantik minat wisatawan.

“(Madura, red) Islam dengan (Bali, red) Hindu, kan. Ini adalah kekuatan. Tinggal akses (infrastruktur, red) dan terutama juga packaging-nya yang perlu dimaksimalkan,” ujarnya menegaskan.

Dari segi pintu akses, menurutnya Bali juga kalah dengan Madura. Kalau Bali hanya punya dua pintu akses: laut dan udara, Madura punya tiga pintu akses, yaitu: darat, laut, dan udara. Ini merupakan salah satu keunggulan Madura dibanding Bali yang, pada prinsipnya, lagi-lagi dapat dijadikan modal awal untuk membangun pariwisata Madura ke depan.

Lebih lanjut peneliti muda yang hobi travelling itu menjelaskan, Bali berhasil karena masyarakatnya mampu menunjukkan karakter kedaerahan dan bangga dengan adat yang disandangnya. Kemana-mana orang Bali senantiasa bangga mengenakan pakaian khas kedaerahan dan tidak malu mempromosikan adat setempat.

“Jadi, ada semacam penanaman kesadaran, semangat dan spirit kebanggaan (terhadap, red) daerahnya: O, saya Bali saya Bali. Kalau keluar tidak bilang: saya Denpasar saya Bandung, tapi saya Bali saya Bali,” ujarnya mencontohkan.

Diterangkan lebih gamblang, dalam pembangunan pariwisata, Madura tidak harus menjiplak bangunan wisata yang ada di Bali. Kalau di Bali para wisatawan dengan mudahnya berpakaian bikini di pantai-pantai, maka wisatawan yang masuk berwisata ke Madura harus menyesuaikan dengan agama dan adat setempat.

“Kita tidak harus sibuk ikut gaya-gaya Barat, kita harus bangga dengan sosial budaya kita, dengan tradisi kita,” tegasnya.

Dengan cara mempertahankan norma dan adat setempat menurutnya tidak akan menjadi penghalang untuk dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke Madura. Sehingga jika itu tercipta, maka otomatis laju perekonomian semakin maju, dan orang Madura tidak perlu lagi bekerja ke luar negeri meninggalkan sanak-saudaranya.

Corak adat dan keagamaan orang Madura yang masih berpegang teguh pada adab dan etika keislaman tetap harus menjadi prinsip utama dalam pengelolaan pariwisata. Yang perlu dicontoh Madura dari Bali adalah bagaimana agama, tradisi, dan budaya yang ada dapat dipadukan menjadi sebuah keunikan, “yang mungkin tidak akan ditemukan di daerah lain,” timpalnya.

Faid menegaskan, Madura mesti menyempurnakan bangunan tempat-tempat wisata dan mulai menggagas ikon wisata di beberapa tempat. Dengan catatan, bahwa pengelolaan pariwisata tidak boleh melanggar atau mengesampingkan norma adat, agama, dan sosial-budaya setempat.

“Jadi, pariwisata itu harus adaptif. Pariwisata itu adalah industri yang menjaga, melestarikan, dan menyejahterakan (masayarakat, red), bukan industri yang merusak,” tukasnya.

Dijelaskan, persoalan tersebut butuh perhatian pemerintah, yakni memberikan keleluasaan kepada masyarakat dan pihak investor agar bisa mengelola dan mengembangkan potensi pariwisata di Madura. Pemerintah dan ulama setempat dalam hal ini cukup menjadi fasilitator, motivator, dan sekaligus menjadi kontrol sepanjang proses pembangunannya. Dikawal melalui regulasi pemerintah, pesannya penuh harap.

Sebelum menutup pembicaraan, Faid menyampaikan, pemerintah di Madura katanya tidak perlu khawatir soal siapa dan berapa jumlah wisatawan yang akan berkunjung.

“Selagi stakeholder konsisten dalam mempertahankan keunikan dan kekhasan Madura, saya yakin suatu saat Madura akan banyak dikunjungi dan dikenal oleh masyarakat luas,” ujarnya.

“Pasar (wisatawan) tidak akan menjatuhkan pilihan (choice) dalam mengujungi suatu destinasi pariwisata, jika tidak ada perbedaan,” pungkasnya menambahkan.

(Jd/Wail)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Teknologi arsip miftahul huda.