Tongkat Penjalin Keramat Milik Guru Langger

  • Bagikan

Oleh : Ponirin Mika

Kebiasaan di kampung saya, yaitu di Desa Gelaman, Kepulauan Kangean Madura belajar ngaji alqur’an dimulai habis salat zuhur. Itu juga berlaku pada saat saya masih kecil, dan belajar mengaji kepada guru ngaji di langgar (surau). Sebutan langgar (langger) bagi tempat ibadah seperti musala terbuat dari kayu dan disebut musala bagi tempat ibadah yang terbuat dari tembok, begitu orang di kampung saya menyebutnya.

Guru langgar sangat laten membimbing santri-santrinya. Di panggil satu-satu secara bergiliran, dan di suruh membaca ayat per ayat untuk dikoreksi bacaannya, apakah salah atau benar. Santri membaca dan guru mengoreksi, dan terkadang guru membaca dan santri mengikutinya secara bersama-sama. Cara ini terus menerus diterapkan sampai pada akhirnya santri-santrinya bisa membaca alqur’an dengan baik.

Santri yang ingin mendapatkan tambahan belajar, ia akan mendatangi langgar (surau), dan mengikuti salat berjamaah magrib bersama guru ngajinya. Selepas mengikuti salat berjamaah magrib para santri membentuk kelompok dengan bentuk memutar untuk mendapatkan pembinaan baca alqur’an dari gurunya.

Sebagaimana maklum, metode yang digunakan sama seperti biasa. Terkadang guru membaca satu surah alqur’an dan meminta santri-santrinya mengikuti, atau meminta santri-santrinya secara bergantian membaca surah atau ayat alqur’an dan guru neteni (ngoreksi). Cara sederhana yang digunakan ini sangat mujarrab, dan mampu mengembangkan kemampuan para santri-santrinya membaca alqur’an dengan baik.

Konon, saat saya belajar di langgar (surau) nyaris tidak diperkenalkan dengan menghafal dan memahami ilmu-ilmu tajwid. Namun guru ngaji terus mengajarkan bacaan qur’an sesuai dengan caranya dan menyebarkan ilmu baca alqur’annya sampai khatam para santri membacanya.

Guru Ngaji Mengajar Akhlak

Guru ngaji tidak hanya mengajar baca alqur’an, tapi juga mengajarkan tentang tatakrama, akhlak dan sopan santun. Perhatian guru ngaji terhadap akhlak, tatakrama,  dan tingkah laku santri-santrinya sangat besar. Terbukti apabila ia mendapati santri-santri kurang sopan bertutur kata baik kepada orang yang lebih tua, sesame teman sebaya, dan atau lebih-lebih kepada gurunya maka akan mendapatkan teguran keras darinya. Dalam persoalan mendidik tatakrama dan sopan santun adalah hal yang sangat prioritas.

Fakta itu dapat diketahui dari bekas santri-santrinya yang telah lulus belajar ngaji, bisa dimungkinkan memiliki budi pekerti luhur, terutama dalam menjalani kehidupan bermasyarakatnya. Meskipun ilmu yang di dapat dari guru ngaji hanya sekedar mampu membaca alqur’an tidak berkait dengan ilmu tafsir dan tafsirnya, tidak berkait dengan pemahaman bacaan ghoroibnya dan semacamnya, akan tetapi dengan ilmu yang diperolehnya itulah dapat diamalkan, sehingga mampu membaca alqur’an kapanpun dan dimanapun.

Bisa juga keberhasilan guru ngaji dalam mendidik sopan santun dapat diketahui dari para santri-santrinya, yaitu sikap takdhim yang diperlihatkan. Santri-santrinya tidak berani mengawali pembicaraan sebelum diawali oleh gurunya, tidak akan berani bergurau di depan gurunya, bahkan tidak akan melakukan apapun di depan gurunya khawatir tidak sopan, dan bahkan takut gurunya tidak merestui. Sikap-sikap seperti ini sangat tertanam pada santri-santri yang pernah belajar di langgar (surau) kepada seorang guru ngaji.

Tongkat Keramat Guru Ngaji

Seorang guru ngaji akan menyediakan lidi atau tongkat disebelahnya. Tongkat itu biasanya terbuat dari rotan (penjalin). Lidi (tulang daun nyiur) itu dijadikan sebagai penunjuk (todduk) saat mengajar santri-santrinya. Hal ini dimaksudkan agar dalam memberikan pengajaran yaitu mengajari santri baca alqur’an dapat berjalan runut dan runtut, tidak loncat-loncat. Sedangkan tongkat panjelin itu bisa dipergunakan sebagai alat untuk menakut-nakuti santri agar tidak melakukan prilaku yang tidak dibenarkan saat belajar. Atau pun tongkat penjalin ini bisa digunakan untuk memukul santri yang “nakal”.

Tongkat panjelin guru ngaji menjadi barang keramat yang ditakuti oleh santri-santrinya. Tidak hanya karena takut dipukul memakai kayu itu, melainkan semaca ada kekuatan gaib yang ada pada tongkat panjelin tersebut. Sebab apabila mata memandang tongkat itu rasa cemas dan takut datang dan tidak bermaksud untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh guru ngaji.

Tongkat itu akan menggantung di tiang langger (pangpang), dan sesekali diambil saat dibutuhkan oleh guru ngaji.

Walhasil. Guru ngaji memang menerapkan metode sangat sederhana, dan bahkan sangat jauh dari metode-metode modern seperti harus memakai perangkat pembelajaran, media pembelajaran, silabus, KD, KI dan lainnya. Tapi guru langgar mampu mencetak santri-santrinya mampu membaca alqur’an meskipun hanya memakai cara sederhana dan kampungan. Hal yang dapat kita ambil adalah kesederhanaan, laten dan keistikamaan guru ngaji dalam mengajar para santri-santrinya. Betul Istikamah adalah karamah yang sesungguhnya.

*Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Probolinggo dan Anggota Community of Critical Social Research (Commics), Probolinggo dan Pengurus Yayasan Datok Karay, Gelaman Kepulauan Kangean.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Explore the depths… proffound fistival. Enter address information (edit). Bienvenido a la sección dedicada a cayo santa maria :.