Mengenang Buya Syafii Maarif Sosok Religius, Sederhana dan Pemberani

  • Bagikan

Buya Syafii Maarif mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah. Telah berpulang keharibaan Allah SWT. Tepat hari jumat 27-05-22. Bangsa Indonesia telah kehilangan sosok yang memiliki kepribadian yang baik, pengayom, sederhana, tegas dan pemberani. Sangat banyak ide, gagasan dan perjuangan yang telah ditorehkan pada bangsa olehnya. Sebagai sosok pribadi yang baik, Buya Syafii Maarif mengajarkan pada kita bahwa dalam hidup harus ada perjuangan untuk membela kaum-kaum yang membutuhkan pertolongan.

Saya teringat dengan pandangannya saat membela mantan Gubenur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama atau di kenal dengan panggilan Ahok. Di saat banyak orang menganggap bahwa Ahok sebagai penista agama gegara berkait dengan menafsirkan ayat 51 surah al-maidah. Buya Syafii Maarif menganggap Ahok tidak melakukan penistaan terhadap agama. Ia tahu konsekuensi yang akan di terima. Mulai dari aka nada yang memusuhi, mencaci maki hingga lebih dari itu. Tapi Buya Syafii Maarif tetap gigih mempertahankan pendapatnya. Walaupun juga beliau akan menerima ejekan dan cemoohan itu mungkin juga dari sebagian warga Muhammadiyah yang pernah di pimpinnya. Kegigihan mempertahankan pendapat ini sebagai bukti Buya menjaga hubungan antara anak bangsa terlebih menjaga hubungan pada kalangan minoritas. Apa yang di dapat Buya saat melakukan pembelaan?. Mungkin hanya ejekan dan cemoohan itu yang di terima. Akan tetapi jiwa besar beliau tengah mengajarkan pada kita sebagai anak bangsa akan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis kepada sesama. Memang berkait dengan persoalan yang menimpa Ahok di kala itu banyak perbedaan pendapat. Meskipun pada akhirnya Ahok di vonis bersalah dan oleh karena itu harus masuk penjara.

Baca Juga :  Mahasiswa Back To School; Kenalkan Prodi Sosiologi UMM Secara Utuh pada Siswa

Selain dari itu, di tahun 2017 beredar foto yang viral di media sosial. Dampak seorang pria di usia senja duduk di stasiun kereta. Pria itu bersama banyak orang di sana, sedang menunggu datangnya kereta.  Yang ditungghu adalah KRL jurusan Jakarta menuju Bogor. Ternyata pria itu adalah Buya Syafii Maarif. Foto itu diambil saat akan pergi ke acara peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila. Ini acara yang akan di hadiri dan akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu 12 Agustus 2017. Sangat tenang Buya Syafii Maarif  menjawab soal foto dirinya yang tersebar di media sosial itu. Ujarnya, Saya memang orang kampung. Bagi saya sudah biasa berjalan kaki atau bersepeda puluhan kilometer. Naik ojek atau naik kereta apai bersama rakyat banyak itu memang dunia saya. Buya Syafii Maarif enjoy-enjoy saja. Di usia yang senja pergi kemana-mana tanpa ada yang menemani. Ke pasar belanja kebutuhan dapur. Sangat nyaman-nyaman saja. Bahkan dalam sebuah cerita lain. Buya Syafii Maarif tidak ingin merepotkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Baca Juga :  Melalui Edufair, Mahasiwa Sosiologi UMM Kenalkan Dunia Kampus di MAN 2 Blitar

Sebagai anak kampung, Buya Syafii Maarif terbiasa dengan kesulitan ekonomiu. Beberapa kali sekolahnya tertunda karena tidak punya biaya. Ia pernah menjadi buruh, atau guru, untuk menyambung hidup. Kesulitan ekonomi dan usaha yang dilakoninya telah menerpa dirinya memiliki karakter keras, berani dan peduli pada rakyat kecil.

Buya Syafii Maarif pernah di tuduh memiliki paham liberal, paham yang mungkin dianggap melenceng dari Islam. Kenyataannya ia telah menyebarkan Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam. Islam tidak hanya di pahami sebagai agama yang mengajrkan tentang ibadah shalat, puasa, haji tapi Islam juga memperjuangkan tentang keadilan, perdamaian, dan ini di sebut dengan keadilan sosial. Hujatan-hujatan itu tak mengurangi kesalehan Buya Syafii Maarif. Ia datang ke Masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah tepat waktu. Jika ada di rumah, Buya tidak pernah absen untuk melaksanakan shalat jamaah di Masjid.

Baca Juga :  Melalui Edufair, Mahasiwa Sosiologi UMM Kenalkan Dunia Kampus di MAN 2 Blitar

Kini guru bangsa itu telah wafat. Dan banyak jasa dan prilaku yang perlu di contoh oleh generasi bangsa. Adalah Yenny Wahid mengatakan, Buya Syafii Maarif adalah sosok yang sangat peduli tidak sungkan-sungkan mengkritik tokoh bangsa yang di pandang melakukan kesalahan. Walaupun ia sangat sangat akrab dengan para tokoh yang di kritiknya. Lebih dari itu, kedekatan Buya Syafii Maarif dengan Gusdur membuat organisasi NU dan Muhammadiyah semakin akrab, nyaman dan berangkulan tangan. Walaupun sebelum-sebelumnya sangat banyak tidak nyambungnya disebabkan ada perbedaan-perbedaan.

Akhir kata, Njenengan Husnul Khotimah, Buya. Selamat Jalan.

Oleh : Ponirin Mika

Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, dan Anggota Community of Critical Sosial Research, Probolinggo.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
punta cana : lujo, relax y el mejor todo incluido del caribe. Northwich family business sensational bathrooms steps up for diy sos big build in aid of local charity the joshua tree.