Ada tiga strategi yang dipaparkan Reni dalam penanganan kemiskinan di Surabaya yakni pertama, akurasi data. Hal ini dibutuhkan agar bantuan tepat sasaran. Kemudian organisasi perangkat daerah (OPD) terkait maupun camat dan lurah harus turun ke lapangan.
“Jangan ketika diingatkan atau ada perintah dari wali kota saja kemudian baru bergerak. Setiap saat harus bergerak memastikan kondisi di setiap wilayah,” kata Reni.
Layanan pengaduan di setiap wilayah dari kelurahan hingga RW harus ada, sehingga data terus diperbaharui karena data kemiskinan bersifat aktif sehingga setiap laporan RT maupun RW harus selalu ada setiap bulan sekali.
“Yang harus dilakukan itu mencari siapa dan dimana keluarga miskin. Ada gakin yang tidak masuk data, harus segera dilakukan intervensi. Intinya, intervensi dan akurasi data ini yang penting,” ujar Reni.
Strategi kedua adalah melakukan perlindungan untuk mengurangi beban kemiskinan warga. Menurut Reni, saat ini sudah dilakukan yakni dengan memberikan beasiswa mulai dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau Program Indonesia Pintar (PIP) maupun beasiswa dari Pemkot Surabaya.
Juga Bantuan jaminan kesehatan seperti BPJS PBI, bantuan makanan hingga program dandan omah atau rehabilitasi rumah tidak layak huni (rutilahu). Tidak hanya itu, kata dia, yang juga mendesak adalah bantuan masuk sekolah swasta. Bantuan ini belum tersistem.
“Ada yang tidak mampu membayar sekolah. Ya, tidak terintervensi dari pusat melalui KIP dan PIP. Bahkan belum terbantu juga dari Pemkot Surabaya. Ini saya temukan saat reses,” kata Reni.
Strategi terakhir adalah pemberdayaan berupa peningkatan produktivitas pendapatan bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Salah satu yang sudah dilakukan adalah semua Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Surabaya diwajibkan membeli barang kebutuhan sehari-hari di toko kelontong yang dekat dengan rumahnya melalui e-peken. Tidak hanya itu, e-peken saat ini juga terbuka untuk masyarakat umum.
Selain itu, kata Reni, saat ini yang mendesak adalah, lurah, camat, dan Kepala OPD Pemkot Surabaya berinovasi dengan potensi ekonomi di Surabaya yang begitu besar. Keberadaan industri, perdagangan, mal, kafe, waralaba, hingga hotel, wajib menyerap warga gakin usia produktif.
“Pemkot harus menerapkan program ini dengan teken kerja sama. Namun, angkatan kerja dari gakin juga harus dibekali skill yang memadai,” kata Reni.
Baca Juga : Wali Kota Eri Naikkan Penghasilan Warga Surabaya
Ikuti informasi terkini melalui harianjatim.com.
Sumber : Antaranews.com


