Saiful Mujani: Penurunan Elektabilitas Anies terkait Posisi Ideologis dan Persepsi Ekonomi Pemilih

  • Bagikan
Anies Baswedan. (foto: ist).

Pada aspek ideologi, dalam skala 0-10, publik Indonesia rata-rata menempatkan dirinya di angka 4,75. Berdasarkan data ini, Saiful menilai publik lebih mengidentifikasi diri dekat dengan ideologi Pancasila.

“Sentimen ideologis pemilih Indonesia adalah lebih cenderung Pancasila, bukan politik Islam… Jadi kalau ditanya publik Indonesia itu ideologinya apa? Ideologinya adalah Pancasila yang moderat,” jelas pendiri SMRC tersebut.

Sementara menurut penilaian publik, dalam spektrum ideologi Pancasila dan Islam, Anies dinilai ada di angka 5,41.

Ganjar dinilai rata-rata di angka 4,72. Angka ini, menurut Saiful, sangat dekat dengan posisi ideologis umumnya publik Indonesia di sekitar 4,75. “Ideologi Ganjar adalah ideologi rakyat Indonesia,” kata Saiful.

Penilaian rata-rata publik terhadap ideologi Prabowo sekitar 4,61. Saiful menjelaskan bahwa posisi ideologis Prabowo, menurut publik, lebih Pancasila dibanding Ganjar. Saiful menyatakan bahwa hal ini mungkin karena publik melihat secara langsung pada sosok Ganjar yang merupakan menantu seorang kiai dan istrinya santri. Sementara Prabowo tidak memiliki latar belakang keluarga yang dekat dengan kelompok Islam.

Apa hubungan posisi ideologis tokoh-tokoh ini dengan pemilih secara umum? Siapa yang lebih dekat dengan posisi pemilih? Dalam analisis statistik terlihat posisi idelogis Ganjar menurut pemilih lebih dekat dengan posisi ideologis pemilih secara umum dibanding Anies dan Prabowo. Selisih posisi ideologis pemilih dengan Ganjar sekitar 0,03, Prabowo 0,14, dan Anies 0,66. Posisi ideologis pemilih dengan Ganjar dan Prabowo tidak berbeda secara signifikan, sementara dengan Anies berbeda signifikan.

Secara umum, lanjut Saiful, Anies dinilai oleh pemilih kita lebih Islam. Sementara pemilih, pada umumnya, kurang ke politik Islam dan lebih condong ke Pancasila.

“Ini satu faktor yang membuat Anies tidak mudah berkembang secara elektoral,” jelas penulis buku Muslim Demokrat tersebut.

Saiful menjelaskan bahwa dalam politik praktis, untuk mendapatkan dukungan publik, seorang politikus perlu sejalan dengan posisi umumnya pemilih. Karena itu, kata Saiful, untuk memperbesar peluang dipilih, Anies perlu menjelaskan pada publik bahwa ideologinya tidak berbeda dengan umumnya publik.

Sementara dalam hal persepsi atas kondisi ekonomi, penilaian positif publik terhadap kondisi ekonomi nasional sudah pulih kembali ke kondisi awal sebelum pandemi Covid-19. Dalam skala 0-100, indeks kondisi ekonomi naik dari 48 di Oktober 2020 menjadi 65,8 di awal Mei 2023.

Sementara itu, kinerja Presiden Jokowi dinilai mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Dalam skala 0-100, indeks kinerja Presiden naik dari 50 pada survei Oktober 2015 menjadi 67,2 di awal Mei 2023. Kepuasan publik pada kinerja Jokowi semakin positif pada enam bulan terakhir.

Dalam analisis statistik ditemukan ada hubungan positif (r=+0,259) antara elektabilitas Anies Baswedan dengan penilaian positif publik pada kondisi ekonomi sebelum 2023. Sebelum 2023, penilaian positif publik pada kondisi ekonomi bisa meningkatkan dukungan pada Anies. Namun hal ini berbeda kemudian setelah memasuki 2023. Hubungan antara persepsi positif pada ekonomi dengan elektabilitas Anies menjadi negatif (r=-0,757).

“Peningkatan persepsi positif warga pada kondisi ekonomi menyebabkan penurunan elektabilitas Anies,” jelas Saiful.

Hal yang sama juga terjadi pada hubungan antara elektabilitas Anies dengan tingkat kepuasan publik pada kinerja Jokowi. Sebelum 2023, hubungan antara dua variabel ini lemah atau hampir tak berhubungan (r=+0,156). Namun memasuki 2023 sampai sekarang, ada hubungan yang sangat negatif antara elektabilitas Anies dengan tingkat kepuasan publik pada kinerja Jokowi (r=-0,984). Semakin tinggi tingkat kepuasan publik pada Jokowi, semakin lemah dukungan publik pada Anies.

Elektabilitas Anies, menurut Saiful, menjadi lebih lemah karena dalam enam bulan terakhir, ada peningkatan kepuasan publik pada kinerja Jokowi, sekitar 80 persen bahkan 82 persen, sementara di 2022 sekitar 70-an persen.

“Evaluasi positif atas kinerja Jokowi memiliki efek negatif pada elektabilitas Anies. Karena itu, positioning Anies dalam hal ini keliru karena tingkat kepuasan publik pada Jokowi mengalami kenaikan,” simpul Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta tersebut.

Selain itu, tambah Saiful, dalam enam bulan terakhir kampanye tentang perubahan semakin kuat. Kubu pendukung Anies terlihat lebih konfrontatif dengan pemerintah. Nasdem, misalnya, sebagai partai yang mendukung Anies terlihat semakin jauh dengan pemerintah. Ini semua bisa menciptakan persepsi di mata publik bahwa Anies memang tidak sejalan dengan pemerintah. Sementara umumnya pemilih bersikap positif atau sejalan dengan pemerintah.

“Posisi ekonomi-politiknya (Anies) tidak pas untuk merebut suara para pemilih,” ujar dia.

Video utuh presentasi Prof. Saiful bisa disimak di sini:


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Ai blog : create content automatically and earn. Booking todo incluido ofertas al caribe.