Reporter : Ponirin Mika
Probolinggo.HarianJatim.Com – Santri yang bermukim di Pondok Pesantren mengenal ngaji (belajar) kitab bersama para masyayikh. Ngaji kitab tengah menjadi tradisi kuat di pesantren. Sebab, salah satu unsur pesantren adalah adanya pengajian kitab kuning.
Ngaji kitab kuning bagi seorang santri tak hanya dijadikan media menambah ilmu. Tapi ngalap berkah. Sebagaimana diungkapkan oleh Gus Muhammad Al-Fayyadl pada pengajian kitab Syu’abul Iman karya KH. Zaini Mun’im.
“Banyak orang yang sombong karena sudah tau membaca kitab taqrib, sehingga tidak mau belajar dan mengaji pada seorang kiai. Padahal selain dari menambah ilmu adal paling mendasar yaitu ngalap barokah,” tegasnya.
Lebih lanjut Gus Fayyadl mengatakan, setiap kata, kalimat yang tersusun dalam kitab kuning itu ada barokahnya.
“Belajar (mengaji) pada guru itu ada barokahnya. Berguru ke guru A ada barokahnya, pada guru B juga ada barokahnya begitu seterusnya. Jadi belajar (ngaji) pada guru itu banyak barokahnya,” tegas penulis buku Derrida itu.
Barakah itu, Kata Gus Fayyadl, bertambahnya kebaikan pada hati seseorang sehingga meningkatkan mahabbah pada Allah dan rasulnya.
Ia menceriatakan, seorang waliyullah yang sangat Alim Syaikhona Kholil Bangkalan terus merasa bodoh sehingga tidak pernah berhenti belajar. Padahal, lanjut Direktur Ma’had Aly Nurul Jadid ini, Kiai Kholil merupakan ulama terkemuka di Indonesia.
“Bagaimana dengan kita yang masih sangat terbatas pengetahuannya,” pungkasnya.


