Survei SMRC: 46 Persen Yakin dan 39 Persen Tidak Yakin Prabowo Diberhentikan dengan Benar

  • Bagikan
Survei SMRC: 46 Persen Yakin dan 39 Persen Tidak Yakin Prabowo Diberhentikan dengan Benar. (foto: tangkap layar)

Saiful menyatakan bahwa isu-isu seperti ini adalah isu yang berpengaruh pada persaingan antara Anies dengan Ganjar, sementara pada Prabowo kurang memiliki pengaruh signifikan.

Dari tiga kasus tersebut, terlihat bahwa yang percaya pada kasus E-KTP melibatkan Ganjar lebih sedikit dibanding dengan yang tidak percaya. Sementara lebih banyak yang percaya dengan keputusan pemberhentian Prabowo dari dinas militer sebagai keputusan yang benar dibanding yang tidak percaya. Demikian pula dengan kasus Formula E, di mana yang yakin korupsi terjadi dan juga yakin bahwa Anies terlibat lebih banyak dari yang tidak yakin.

Saiful melihat bahwa perbedaan ini terjadi karena dalam kasus E-KTP, keputusannya sudah ada dan kasusnya sudah selesai. Sudah diputus siapa yang bersalah. Dan Ganjar tidak menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Dia memang pernah jadi saksi, tapi setidak-tidaknya tidak ada fakta hukum yang menunjukkan keterlibatannya dalam kasus tersebut.

Ini berbeda dalam kasus pemberhentian Prabowo dari dinas militer karena kasus penculikan. Pemberhentian tersebut memang terjadi dan sudah menjadi fakta. Kalau Prabowo merasa tidak bersalah, dia bisa melakukan banding ke pengadilan. Namun dalam beberapa kesempatan, Prabowo mengakui terlibat dalam penculikan para aktivis tersebut. Hanya saja, dia mencoba meminta orang memahami konteksnya ketika itu, bahwa dia diperintahkan. Terakhir dalam pidato bersama Budiman Sudjatmiko, dia terang-terangan menyatakan bahwa Budiman pernah menjadi target dia. Sampai hari ini, peristiwa penculikan itu memang sesuai dengan fakta. Karena itu, menurut Saiful, kalau publik yang tahu kejadian tersebut merasa yakin bahwa keputusan pemberhentian Prabowo sebagai sesuatu yang benar, itu adalah sesuatu yang wajar karena memang faktanya demikian.

Sementara dalam kasus Formula E, kasus ini belum selesai. KPK masih bekerja untuk menyelidiki kasus tersebut. Untuk kasus ini, ada area kelabu di mana publik masih bertanya-tanya apakah betul ada korupsi atau tidak. Ini, menurut Saiful, yang membuat muncul dugaan bahwa memang kemungkinan ada korupsi dalam kasus tersebut. Ketidakpastian atau wilayah kelabu itu, menurut dia, merugikan Anies. Seharusnya kasus ini bisa diputuskan. Tapi karena konteksnya masih dalam suasana menjelang pemilihan umum, mereka yang bekerja professional mengungkap kasus ini jadi dicurigai.

“Itu yang membuat kasus ini menjadi tidak mudah (untuk diungkap). Tapi wilayah tersebut menjadi kelabu. Itu membuka peluang orang untuk curiga, setidaknya di tingkat publik, bahwa di situ (memang) ada korupsi,” pungkasnya.

Metodologi Survei

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90
Verified by MonsterInsights
Ai blog : create content automatically and earn. Booking todo incluido ofertas al caribe.